Gema dalam Hening: Kamus Cinta yang Tak Terucap

Bintang Senjaku
Chapter #19

Perjalanan ke Akar Diam

Ia memejamkan mata lagi, menarik napas panjang. Siap. Kata itu berbisik di benaknya. Ia siap menghadapi apa pun yang menunggunya di desa itu. Siap menghadapi trauma yang mengikat lidah Ayahnya. Siap menghadapi kebenaran yang mungkin akan mengubah segalanya. Malam itu, di tengah rumah yang kini terasa lebih hangat, Maya menemukan keberanian terakhir yang ia butuhkan untuk melangkah ke dalam ketidakpastian.

 Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika Maya keluar dari pintu rumah. Udara pagi masih dingin, beraroma embun dan tanah basah, mencubit pipinya. Langit di timur baru saja menampakkan semburat jingga dan ungu, sebuah janji akan hari yang baru. Ransel kanvasnya terasa kokoh di punggung, berisi jurnal-jurnal Ayah, buku harian Ibu, peta usang, dan beberapa helai pakaian sederhana. Ia menoleh ke belakang, menatap rumah itu. Jati yang kokoh, atap yang melindungi, jendela-jendela yang memantulkan cahaya samar. Rumah itu bukan lagi sekadar bangunan, melainkan sebuah kamus yang telah ia mulai terjemahkan.

 Adrian. Bayangannya melintas, perih namun samar, seperti memori dari kehidupan lain. Ia memilih jalan ini, jalan yang tak ada kembali. Kini, ia hanya punya dirinya sendiri, dan gema dari orang-orang yang ia cintai—yang telah tiada atau meninggalkannya—sebagai penunjuk arah.

 Mobil sewaan yang ia pesan semalam sudah menunggunya. Sebuah MPV tua dengan sopir paruh baya yang tampak mengantuk. "Desa Mekar Jaya, Pak," ucap Maya, suaranya sedikit serak karena dingin dan emosi. Sopir itu mengangguk, tanpa banyak bertanya. Mungkin ia sudah terbiasa dengan penumpang yang mencari masa lalu di tempat-tempat terpencil.

 Perjalanan itu panjang, melarikan diri dari hiruk pikuk kota. Gedung-gedung tinggi perlahan terganti oleh deretan sawah hijau yang membentang luas, lalu hutan-hutan yang menjulang tinggi, dan akhirnya, siluet pegunungan yang tampak seperti punggung naga raksasa yang tertidur. Setiap kilometer yang dilalui terasa seperti ia sedang merobek lapisan waktu, melaju menuju era yang jauh.

 Jalan aspal mulus perlahan berubah menjadi jalanan berlubang, lalu batu-batu kerikil yang membuat mobil bergetar. Aroma bensin dan asap knalpot terganti oleh aroma tanah, dedaunan basah, dan kayu bakar yang samar. Udara menjadi lebih tipis, lebih sejuk, dan terasa lebih bersih. Jantung Maya berdetak lebih cepat. Aku semakin dekat.

Ia mengeluarkan peta usang dari ranselnya, menelusuri garis-garis di sana. Nama Desa Mekar Jaya tampak semakin nyata, bukan lagi sekadar titik hipotetis. Di beberapa titik di peta, ada coretan tinta samar yang sepertinya dibuat oleh tangan Ayahnya. Sebuah jembatan kecil, sebuah tikungan tajam di tepi jurang. Ayah pernah melewati jalan ini. Bisikan itu membuatnya merinding, sebuah koneksi tak terlihat yang mengikatnya dengan masa lalu Baskara.

 Mobil terus menanjak, melewati tikungan-tikungan tajam yang diapit jurang dan tebing-tebing curam. Pepohonan rapat, membentuk kanopi hijau yang nyaris tak ditembus cahaya matahari. Di satu sisi, ia melihat sungai berbatu dengan air jernih mengalir deras, memecah kesunyian hutan. Di sisi lain, deretan kebun teh yang rapi, hijau dan berundak, melukis pemandangan yang menenangkan namun juga terasa asing.

"Mekar Jaya sudah dekat, Neng," ujar sopir, suaranya memecah lamunan Maya. "Setelah tikungan itu, kita akan melihat gapura desa."

Maya mencondongkan tubuh ke depan, matanya terpaku pada tikungan di depan. Dadanya berdebar tak karuan. Ini dia.

Lihat selengkapnya