Gema dalam Hening: Kamus Cinta yang Tak Terucap

Bintang Senjaku
Chapter #20

Desa Tua dan Kisah Pendiam

Ia menatap lebih jauh ke dalam desa, ke deretan rumah-rumah kayu tua yang berjejer semakin rapat. Setiap rumah seolah menyimpan cerita, setiap atap yang berlumut adalah saksi bisu waktu yang mengalir. Ia harus menemukan rumah itu. Rumah yang membentuk Ayahnya. Rumah yang mungkin menyimpan awal dari traumanya.

Di tengah desa, sebuah bangunan kayu yang lebih besar dari yang lain menarik perhatiannya. Dindingnya tampak lebih tua, kayunya lebih lapuk, namun strukturnya masih kokoh. Di depannya, ada sebidang tanah kosong yang kini ditumbuhi ilalang tinggi, seolah menyimpan sebuah rahasia. Apakah itu... bengkel yang ada di foto Ayah? pertanyaan itu berkelebat, menuntut jawaban.

Maya melangkah maju, kakinya seolah tertarik oleh magnet tak kasat mata. Rasa ingin tahu, bercampur dengan ketakutan akan kebenaran yang akan ia temukan, kini memuncak. Matanya menyapu setiap detail, mencari jejak yang lebih jelas. Ia menatap lekat, mencoba melihat melalui tirai waktu, ke masa lalu yang jauh, ke masa muda Ayahnya yang penuh senyum, sebelum tragedi itu mengubah segalanya.

Namun, langkahnya terhenti. Sebuah tangan keriput menyentuh lengannya perlahan. Maya menoleh. Seorang nenek tua, rambutnya sudah memutih disanggul sederhana, kerutan dalam menghiasi wajahnya, namun matanya memancarkan kehangatan dan kebijaksanaan. Ia berdiri di depan warung kecil, tempat aroma kopi dan gorengan singkong menguar, memanggil setiap orang yang lewat.

"Nak, dari mana jauh-jauh kemari?" suara nenek itu lembut, namun sedikit serak. "Sepertinya wajahmu asing, bukan dari sini."

Maya tersenyum tipis, mencoba menenangkan debaran jantungnya. "Selamat siang, Nek. Saya dari kota. Saya kemari mencari jejak keluarga, Nenek. Ayah saya Baskara."

Wajah nenek itu berubah. Mata tuanya mengerjap perlahan, seolah sedang menggali memori dari kedalaman waktu. Ada kilatan pengenalan, lalu bayangan kesedihan yang samar melintas. "Baskara? Baskara putra Pak Karta? Ya ampun... sudah lama sekali nama itu tidak disebut di sini, Nak. Kau putrinya?"

"Iya, Nenek. Saya putrinya, Maya."

"Pantas saja mirip. Matamu... matamu persis Baskara. Tapi senyummu, itu senyum Ibumu," ucap nenek itu, menatap Maya dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Masuk, Nak. Jangan sungkan. Mari mampir. Nenek buatkan kopi panas, biar badanmu hangat setelah perjalanan jauh."

Maya mengikuti nenek itu masuk ke dalam warung kecil yang sederhana. Aroma kopi sangrai dan pisang goreng yang baru diangkat dari wajan memenuhi udara, menawarkan kenyamanan yang tak terduga. Sebuah meja kayu kecil di sudut warung menjadi tempat mereka duduk. Nenek itu menyajikan secangkir kopi hitam pekat dan sepiring pisang goreng hangat.

"Jadi, kau mencari jejak Ayahmu Baskara?" tanya nenek, setelah Maya menyesap kopinya perlahan. "Nenek kenal betul Baskara. Ia anak yang baik. Cerdas. Dan tangannya... tangannya sangat terampil. Sama seperti Ayahnya, Pak Karta."

"Nenek tahu banyak tentang Ayah?" Maya bertanya, suaranya sedikit bergetar. Ini dia, jawaban yang ia cari.

Lihat selengkapnya