Maya meletakkan uang di meja, berterima kasih kepada nenek tua itu, dan melangkah keluar, napasnya sedikit tertahan. Warung itu. Warung yang memberinya pencerahan. Dan di depannya, bengkel tua itu menanti, sebuah monumen bisu bagi masa lalu yang menunggu untuk diungkap.
Matahari sore telah menaungi Desa Mekar Jaya dengan cahaya keemasan yang sendu, melukis bayangan-bayangan panjang di antara rumah-rumah kayu. Udara masih membawa aroma kopi dan gorengan singkong dari warung nenek, namun kini bercampur dengan bau tanah basah dan dedaunan tua. Sebuah ketenangan yang aneh menyelimuti Maya, ketenangan yang tercipta dari pencerahan dan empati yang meluap. Bukan Ayah yang kaku. Lingkungan ini yang mengkakuinya. Kalimat itu menggema di benaknya, menghapus sisa-sisa kemarahan yang tersisa.
Langkah kakinya kini terasa lebih ringan, namun hatinya dipenuhi rasa gentar yang berbeda. Bangunan kayu di tengah desa itu memanggilnya, sebuah magnet tak kasat mata yang menariknya ke sana. Dindingnya yang lapuk, atapnya yang berlumut, semuanya terasa seperti halaman-halaman buku yang belum ia baca, menyimpan cerita yang lebih dalam, lebih personal. Ini bukan lagi sekadar bengkel. Ini adalah awal dari segalanya bagi Baskara.
Ia berjalan di jalan setapak yang dipenuhi kerikil, melewati beberapa penduduk desa yang menatapnya dengan rasa ingin tahu. Maya hanya membalas dengan senyum tipis, fokusnya terpaku pada bangunan di depan. Semakin dekat, aroma kayu tua yang khas semakin menusuk indranya, bercampur dengan bau minyak dan pernis yang sudah mengering. Aroma yang sama, persis seperti bengkel Ayah di rumahnya. Sebuah jembatan tak terlihat yang menghubungkannya dengan masa lalu Baskara.
Bangunan itu lebih besar dari yang ia bayangkan, dengan pintu kayu besar yang terbuat dari balok-balok tebal, warnanya memudar menjadi abu-abu gelap. Jendela-jendela kecil tanpa kaca memperlihatkan kegelapan di dalamnya, mengundang sekaligus menakutkan. Di atas pintu, ada sisa-sisa papan nama yang sudah lapuk, tulisannya nyaris tak terbaca, namun samar-samar ia melihat ukiran yang sama dengan yang ada di foto Baskara muda.
Ia mendorong pintu perlahan. Bunyi engsel tua yang berderit nyaring memecah keheningan sore, suaranya menggema di dalam ruangan yang kosong. Udara dingin dan lembap menyergapnya, membawa serta aroma lumut, kayu yang lapuk, dan debu yang teental. Cahaya senja yang masuk melalui celah-celah dinding dan jendela kecil menciptakan pilar-pilar cahaya yang menembus kegelapan, menerangi partikel-partikel debu yang menari di udara.
Ruangan itu kosong, hanya ada sisa-sisa perkakas tua yang berserakan di sudut-sudut. Meja-meja kerja yang hancur, tumpukan balok kayu yang membusuk, dan beberapa alat yang sudah berkarat. Namun, di tengah ruangan, berdiri sebuah meja kerja yang jauh lebih besar dan kokoh dari yang lain. Walaupun sudah tua, kayu jati gelapnya terlihat masih utuh, permukaannya dipenuhi goresan dan noda cat yang mengering, saksi bisu dari ratusan jam kerja keras.
Itu dia. Jantung Maya berdebar kencang. Meja kerja itu, yang ada di belakang Baskara di foto usang itu, kini berdiri di depannya. Monumen bisu bagi seorang pria yang menemukan panggilan hidupnya di sini.