Gema dalam Hening: Kamus Cinta yang Tak Terucap

Bintang Senjaku
Chapter #22

Surat yang Tak Terkirim

Sesuatu yang keras dan dingin menyentuh ujung jari Maya, tertutup lapisan debu tebal. Sebuah kotak? Atau sebuah... Rasa ingin tahu yang membakar kini bercampur dengan firasat ganjil. Ia berlutut di lantai tanah yang lembap, mencengkeram celah di bawah meja kerja tua itu, berusaha menjangkau lebih dalam. Kayu yang rapuh itu berderit, mengeluarkan suara serak protes, namun Maya tak peduli. Tangannya mengais, merasakan serpihan kayu dan tanah yang lengket.

Perlahan, ujung jarinya berhasil mengait sebuah benda. Ia menariknya keluar dengan hati-hati, khawatir merusak apa pun yang ada di baliknya. Kilauan redup logam di antara debu dan serutan kayu. Itu adalah sebuah kotak timah kecil, pipih, berkarat di beberapa bagian, namun pengaitnya masih kokoh. Di permukaannya, ada ukiran samar, nyaris tak terlihat, sebuah motif bunga melati yang elegan.

Jantung Maya berdebar kencang, menggema di telinganya. Bunga melati. Aroma itu. Aroma yang sama yang tersimpan samar di buku harian Ibunya. Aroma yang selalu mengingatkannya pada sosok Ibu. Kotak timah ini... mungkinkah ini milik Ibu? Tapi mengapa Ayah menyembunyikannya di sini, di bengkelnya yang paling rahasia, di tempat ia tumbuh dan belajar?

Menjelang magrib, cahaya di dalam bengkel semakin meredup, memaksa Maya mendekatkan kotak itu ke celah jendela agar bisa melihat lebih jelas. Jemarinya gemetar saat ia mencoba membuka pengait kotak yang berkarat. Sebuah desisan pelan terdengar ketika pengait itu akhirnya terlepas. Aroma kertas tua, sedikit wangi melati yang telah kering, dan bau logam berkarat menyeruak, memenuhi rongga hidungnya.

Di dalam kotak, tersimpan rapi tumpukan surat. Bukan hanya satu atau dua, melainkan belasan, mungkin puluhan lembar kertas yang sudah menguning dan rapuh. Diikat dengan pita merah muda yang sudah pudar. Sebuah buket kenangan yang terjebak waktu.

Maya menarik napas dalam, merasakan udara dingin mengisi paru-parunya. Ini bukan hanya surat biasa. Ini adalah harta karun emosi. Apakah ini surat cinta? Pertanyaan itu berkelebat, menciptakan gelombang kegelisahan yang aneh dalam dirinya. Ia tak pernah membayangkan Ayahnya, Baskara yang kaku dan pendiam, menulis surat cinta.

Ia mengambil surat teratas, jemarinya meraba tekstur kertas yang rapuh, takut merobeknya. Tulisan tangan di dalamnya, rapi dan kaku, persis seperti tulisan di jurnal Baskara. Namun, kata-kata yang terukir di sana, adalah samudra yang sama sekali berbeda.

Untuk istriku tercinta, Purnama.

Napas Maya tercekat. Nama Ibunya. Purnama. Matanya langsung memanas. Ini adalah surat cinta Ayah untuk Ibu. Dan surat-surat itu tak pernah terkirim. Mengapa?

Ia mulai membaca, setiap kata adalah bisikan dari masa lalu, menembus dinding waktu, merobek lapisan topeng kekakuan yang selama ini menutupi Ayahnya.

Purnama, istriku. Hari ini aku merasa sangat takut. Badai semalam nyaris merobohkan pohon di depan rumah. Aku khawatir atap kita tidak akan sanggup menahan. Aku menghabiskan sepanjang malam memperkuat setiap balok, setiap genteng. Aku tahu, aku tidak bisa mengucapkan ketakutanku padamu. Aku harus selalu kuat. Aku harus menjadi pelindung. Tapi di dalam sini, di hatiku, aku gemetar.

Lihat selengkapnya