"Jadi," Adrian berbisik, suaranya sangat pelan, nyaris tak terdengar. "Bagaimana dengan kita? Apa ada entri untuk kita di kamus itu?"
Jantung Maya berdesir. Kata-kata itu, diucapkan dengan kerentanan yang belum pernah ia dengar dari Adrian, terasa seperti cahaya lilin di tengah badai. Sebuah harapan baru. Sebuah pintu yang terbuka. Maya tersenyum tipis, menatap Adrian, matanya memancarkan kehangatan yang baru ia temukan.
"Mungkin," jawab Maya lembut, suaranya dipenuhi ketulusan. "Tapi entri itu harus kita tulis bersama, Adrian. Dengan bahasa yang jujur dari kedua belah pihak."
Adrian menatapnya lama, tatapannya menyapu wajah Maya, mencari jejak kebenaran di sana. Dinding ketidakpercayaan yang selama ini ia bangun di antara mereka, kini terlihat retak. Sebuah desahan pelan lolos dari bibirnya, lebih seperti pelepasan ketegangan daripada kekesalan. Ia tidak menjawab, hanya mengangguk kecil, lalu berbalik, melangkah menuju dapur, meninggalkan Maya dengan kamus dan jurnal-jurnal itu. Hening. Namun kali ini, hening itu terasa seperti kanvas yang baru, menunggu untuk dilukis.
Malam merayap masuk ke dalam rumah, membungkusnya dalam selubung keheningan. Adrian kini berada di dapur, suara piring yang dicuci terdengar samar. Maya tetap duduk di meja tamu, dikelilingi oleh harta karunnya: dua jurnal Ayah, kotak timah berisi surat-surat tak terkirim, buku harian Ibu, dan kamus cintanya yang baru ia susun. Ada kedamaian yang mendalam, sebuah ketenangan yang membasuh jiwa setelah perjalanannya ke Desa Mekar Jaya. Ia merasa Ayahnya kini hadir, bukan sebagai hantu keheningan, tetapi sebagai gema cinta yang abadi.
Ia mengusap sampul kulit hitam jurnal Baskara. Ayah, kau sudah tidak lagi menjadi misteri yang menyakitkan. Setiap goresan pena Ayah di dalamnya, setiap tanggal dan daftar perbaikan, kini berteriak "cinta", "perlindungan", "ketakutan". Ia telah menerjemahkan hampir seluruhnya, mengaitkan setiap entri teknis dengan momen emosional dalam hidupnya.
Maya memutuskan untuk merapikan semua jurnal dan bukunya. Sebuah ritual penutupan, seolah ia sedang mengarsip bab-bab terakhir dari kisah Ayahnya. Ia mulai dari jurnal yang paling awal, menelusuri tanggal demi tanggal, memastikan tidak ada yang terlewat, tidak ada yang salah terjemah. Jemarinya membalik halaman dengan hati-hati, mengikuti alur waktu yang kini terasa begitu personal. Ia melihat Ayah muda di bengkel, Ayah yang mengukir namanya, Ayah yang penuh semangat. Lalu Ayah yang menulis surat, diliputi ketakutan.
Ia sampai pada bagian jurnal yang mencatat masa remajanya, saat ia jatuh cinta untuk pertama kali, saat ia gagal ujian, saat ia memberontak. Setiap peristiwa itu kini memiliki "terjemahan" dari tangan Ayah, sebuah perbaikan, sebuah penguatan. Rasa haru itu kembali menyergapnya, sebuah kebahagiaan yang pahit.
Lalu, matanya terpaku.
Sebuah jeda.
Jurnal yang seharusnya mencakup periode usianya 9 hingga 11 tahun, terutama saat ia berusia 10 tahun, terasa sangat tipis. Jemarinya membalik halaman dengan terburu-buru, merasakan kosongnya lembaran. Ia membuka jurnal kedua, lalu ketiga, mencari kontinuitas yang hilang. Ada rentang waktu yang aneh.
Tanggal-tanggal itu. 1999... 2000... Lalu langsung melompat ke 2002.
Satu tahun penuh. Jurnal Ayah Baskara, yang begitu telaten dan teratur mencatat setiap detail perbaikan, tiba-tiba membisu. Sebuah lubang hitam dalam riwayat Ayahnya. Sebuah keheningan yang lebih pekat, lebih misterius, dari keheningan-keheningan lainnya.