Malam telah sepenuhnya membungkus rumah, kegelapan meresap di setiap sudut. Adrian sudah tidur, keheningan rumah terasa pekat. Hanya lampu tidur Maya yang menyala, menerangi simbol-simbol misterius di halaman terakhir jurnal Ayah. Ketakutan itu. Ketakutan bahwa ia akan menemukan kebenaran yang jauh lebih besar, jauh lebih menyakitkan, dan mungkin, sebuah babak yang takkan bisa ia terjemahkan sendirian. Jurnal itu terasa berat di tangannya, seperti memegang sebuah bom waktu. Ia harus memecahkan kode ini. Ia harus.
Maya menatap simbol-simbol itu lagi, mencoba memecahkannya. Itu bukan tulisan, bukan angka, tapi lebih menyerupai sketsa kecil. Ada garis-garis yang membentuk siluet perkakas, beberapa titik koordinat, dan lingkaran-lingkaran kecil yang terhubung. Matanya menelusuri setiap detail, pikirannya berpacu. Kunci untuk bab yang tidak terucapkan. Kata-kata Ayah itu adalah tantangan terakhir, sebuah teka-teki yang ditinggalkan untuk putrinya.
Berjam-jam berlalu. Cahaya fajar mulai menyusup dari sela-sela gorden, membasahi ruangan dengan nuansa keperakan. Otak Maya terasa panas, namun tiba-tiba, sebuah pencerahan kecil melintas. Koordinat. Titik-titik di peta. Ia ingat, di peta usang desa Mekar Jaya, ada beberapa coretan Ayah yang ia abaikan. Dan simbol-simbol perkakas itu... mereka tidak mengarah pada lokasi geografis, melainkan pada posisi di dalam sebuah ruangan.
Bengkel di rumah.
Jantung Maya berdesir. Logikanya berteriak, Itu tidak mungkin. Aku sudah mencari di sana. Tapi instingnya, insting yang kini telah diasah oleh bahasa sunyi Ayahnya, mengatakan sebaliknya. Ayah tidak akan meninggalkannya dengan kode yang tidak bisa dipecahkan. Ayah selalu telaten, selalu meninggalkan jejak, bahkan di dalam keheningannya.
Dengan tubuh yang kaku karena kurang tidur, Maya bangkit dari meja tamu. Kemejanya kusut, rambutnya berantakan, namun di matanya ada nyala api yang baru. Tekad untuk mengakhiri pencarian ini. Ia meraih jurnal Baskara yang terbuka, lalu melangkah keluar, menembus dinginnya udara pagi. Ia berjalan melintasi halaman belakang, melewati rumput yang basah oleh embun, menuju bangunan kayu yang kokoh itu. Bengkel Ayah.
Aroma khas bengkel menyambutnya, perpaduan minyak, serutan kayu, dan kenangan. Kali ini, ia tidak mencari secara serampangan. Ia punya kode, punya peta mini yang Ayah tinggalkan. Matanya menyapu setiap sudut, mencari objek yang cocok dengan simbol-simbol di jurnal. Palu, gergaji, pahat... lalu sebuah laci tua yang selalu terasa sedikit macet. Laci yang dulu ia kira tak lagi berfungsi.
Ia mengikuti arah garis di diagram, yang berakhir pada titik kecil di bawah laci itu. Matanya menyipit. Ada sebuah retakan halus di papan lantai, nyaris tak terlihat, tepat di bawah laci paling bawah. Retakan yang tidak pernah ia perhatikan sebelumnya, terlalu kecil, terlalu tersembunyi di balik bayangan.