Gema dalam Hening: Kamus Cinta yang Tak Terucap

Bintang Senjaku
Chapter #26

Epilog

Beberapa bulan kemudian.

 Musim telah berganti. Pepohonan di halaman rumah kini rimbun oleh daun-daun hijau yang segar. Aroma kayu bakar masih tercium samar, tapi kini berpadu dengan wangi bunga melati yang Maya tanam di taman kecil. Rumah itu terasa hidup, dipenuhi cahaya, bukan lagi hantu keheningan.

 Maya berdiri di ambang pintu bengkel Ayah, tersenyum. Di dinding bengkel, ia telah memasang pigura sederhana berisi ukiran hati dan sketsa rumah pohon. Ada sebuah bangku kayu baru di depannya, tempat siapa pun bisa duduk dan merenung, atau sekadar tersenyum. Kamus cintanya, yang kini lengkap, tergeletak di meja kerja Ayah, sebuah warisan yang ia banggakan.

 Hubungannya dengan Adrian, perlahan, mulai menemukan jalannya. Adrian tidak lagi menuduhnya terobsesi. Ia mulai melihat, mulai memahami. Tidak dengan kata-kata yang muluk-muluk, tetapi dengan tindakan-tindakan kecil. Adrian sering menemaninya di bengkel, mengamati ukiran Ayah, sesekali menyentuh sketsa rumah pohon dengan tatapan sendu, penuh pengertian. Ia tidak lagi berusaha mengubah Maya, melainkan mencoba memahami bahasa yang Maya bawa dari Ayahnya.

 "Sudah siap?" Suara Adrian mengagetkannya. Ia berdiri di ambang pintu, tersenyum tipis. Di tangannya, sepasang sarung tangan kerja baru.

Lihat selengkapnya