GEMA SANG PENGUASA LANGIT: TRILOGI TITAH AGUNG

Nuryono
Chapter #8

BAB 7: BAYANGAN DI KOTA

Tiga hari istirahat tak berbuat apa-apa untuk kecemasanku, tapi setidaknya aku terlihat kurang seperti mayat berjalan. Aku sudah tidur, makan makanan sungguhan, bahkan mencuci baju, kemenangan kecil yang terasa absurd berartinya setelah nyaris terhapus dari keberadaan.

Sekarang aku duduk di kedai mi kecil di distrik Tanjung Rebung, di seberang meja dari nama pertama di daftar Wulan Kertapati.

Mantan dewa: Sari Kirana, dulu Dewi Angin. Sekarang: konsultan cuaca untuk perusahaan pelayaran.

Ia terlihat persis seperti pekerja kantoran paruh baya, rambut menipis, perut buncit nyaman, kacamata berbingkai kawat yang terus merosot di hidungnya. Ia menyeruput minya dengan intensitas fokus seseorang yang menganggap serius makanan, sepenuhnya mengabaikan usahaku berbincang.

“Jadi,” cobaku lagi, “kau bekerja di Kadipaten Pengelolaan Atmosfer kahyangan?”

“Empat puluh dua tahun,” katanya tanpa mendongak dari mangkuknya. “Lalu aku pensiun. Bosan. Terlalu banyak berkas, tak cukup angin sungguhan.”

“Dan sekarang kau jadi konsultan?”

“Ya. Membantu perusahaan pelayaran merencanakan rute mengitari badai. Gajinya buruk, tapi setidaknya aku berinteraksi dengan cuaca sungguhan alih-alih mengarsipkan laporan tentangnya.” Ia akhirnya menatapku. “Kenapa kau bertanya? Kau tak sedang melamar kerja.”

“Aku sedang meneliti dewa-dewa pensiunan. Proyek akademis.”

“Omong kosong. Kau Wira Lintang. Sang ahli waris. Aku dengar tentang sidang itu.” Ia menyingkirkan mangkuk kosongnya. “Kau ingin tahu apakah aku bagian dari konspirasi apa pun yang menurutmu sedang mendidih.”

Aku berkedip. Ia langsung ke pokok masalah.

“Apakah kau?”

“Tidak. Aku pensiun karena birokrasi kahyangan perlahan membunuhku. Hal terakhir yang kuinginkan adalah terlibat politik lagi.” Ia mengeluarkan dompetnya untuk membayar, lalu berhenti. “Tapi aku akan memberitahumu sesuatu yang berguna, karena kau membelikanku mi. Tiga bulan lalu, seseorang mendekatiku. Dewa pensiunan lain. Mereka ingin tahu apakah aku tertarik ‘memulihkan kahyangan ke kemuliaan seharusnya.’ Kubilang mereka boleh enyah.”

“Siapa orangnya?”

“Tak memberi nama. Tapi mereka punya tatapan fanatik itu di mata mereka. Jenis orang yang mengira mereka menyelamatkan dunia sambil membakarnya habis.” Ia berdiri. “Kalau kau berburu konspirator, cari yang bicara tentang kewajiban dan pengorbanan dan kejahatan yang perlu. Mereka selalu yang paling berbahaya.”

Ia pergi.

Aku duduk sendirian dengan peringatannya, minum teh yang sudah dingin.

---

Nama kedua di daftarku lebih sulit ditemukan.

Mantan dewa: Rukmi Jaya, dulu Dewi Keadilan. Sekarang: pengangguran.

Butuh dua hari bertanya-tanya, mengikuti petunjuk, menyuap pialang informasi dengan uang yang diberikan Gagak Seta dari sumber yang tak ingin kuperiksa terlalu dekat.

Akhirnya, aku menemukannya di apartemen usang di kota lama, jenis bangunan yang seharusnya sudah dibongkar puluhan tahun lalu tapi entah bagaimana tetap berdiri lewat inersia dan kelalaian.

Ia membuka pintu dengan celana training dan kaus lusuh, sama sekali tak terlihat seperti dewi. Rambutnya diikat kuda berantakan, tanpa riasan, mata terbayang kelelahan atau sesuatu yang lebih buruk.

“Wira Lintang,” katanya datar. “Sang ahli waris. Aku bertanya-tanya kapan kau akan muncul.”

“Boleh aku masuk?”

“Aku punya pilihan?”

“Ya.”

Ia mempelajariku sejenak, lalu menyingkir. “Baik. Tapi peringatan adil, apartemenku bencana dan aku tak peduli.”

Ia tak berlebihan. Pakaian menutupi setiap permukaan. Piring menumpuk di wastafel. Kertas dan buku berserakan di lantai dalam apa yang mungkin sistem organisasi atau mungkin entropi.

“Maaf,” katanya tanpa terdengar menyesal sama sekali. “Pembantu sedang cuti abad ini.”

Aku menerobos ke satu-satunya kursi kosong, sebuah kursi berlengan usang yang sudah melihat masa lebih baik. Rukmi Jaya merosot ke sofa, menarik selimut di sekelilingnya meski cuaca hangat.

“Jadi,” katanya. “Kau di sini karena konspirasi itu, kan? Seseorang bilang aku sudah mengakses pengetahuan terlarang, berencana mendestabilkan kahyangan, semua hal seru itu?”

“Apakah begitu?”

“Tidak. Tapi aku paham kenapa orang mengira begitu.” Ia mengisyaratkan samar. “Aku dulu Dewi Keadilan. Keadilan huruf besar, jenis mutlak. Aku melihat setiap kejahatan, setiap ketidakseimbangan, setiap ketidakadilan dalam keberadaan dan aku memperbaikinya. Atau mencoba. Ternyata, keadilan universal mustahil dan mencoba menegakkannya membuatmu gila.”

Lihat selengkapnya