Email pengunduran diriku memantul balik.
Bukan karena Garuda Elektronik menolaknya, tapi karena menurut sistem mereka, aku tak bekerja di sana. Tak pernah bekerja di sana. ID karyawanku tak ada, namaku tak ada di database penggajian, bahkan mejaku, yang jelas nyata sebulan lalu, sudah diberikan ke orang lain.
Aku telah terhapus dari pekerjaanku sendiri.
Bukan oleh para Suwung kali ini, tapi oleh mekanisme sederhana realitas mencoba mengoreksi dirinya sendiri. Aku sudah pergi terlalu lama, melewatkan terlalu banyak shift, jadi terlalu terputus dari hidup itu. Benang-benang yang menjangkarkanku di sana telah putus, dan realitas mengisi celahnya tanpaku.
Itu mengerikan dan membebaskan dalam takaran yang sama.
Aku duduk di apartemenku selama dua hari, mencoba mencari tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Uang di rekening bankku masih nyata, itu terjangkar ke identitasku, bukan pekerjaanku. Aku punya mungkin tabungan sewa tiga bulan, lebih kalau aku hati-hati.
Lalu apa?
Hari ketiga, Gagak Seta menelepon.
“Kau masih berkubang?”
“Aku tak berkubang. Aku berpikir.”
“Berpikir terlihat sangat mirip berkubang dari sudut pandangku. Berpakaianlah. Kita akan keluar.”
“Aku tak, ”
“Itu bukan permintaan.”
Ia menutup telepon. Aku berpakaian.
Gagak Seta menjemputku dengan motornya, baru diperbaiki setelah pertarungan terowongan kami merusak sesuatu di mesinnya. Kami mengendarai lewat kota menuju bangunan yang tak kukenali.
“Kita di mana?”
“Kau akan lihat.”
Di dalam ada ruang kantor kecil, dua ruangan, kamar mandi, dapur mungil. Kosong tapi bersih. Cahaya alami dari jendela besar. Pemandangan jalan yang tak mewah tapi nyata.
“Apa ini?” tanyaku.
“Kantor barumu. Atau bisa jadi, kalau kau mau.” Ia bersandar ke dinding. “Raden Jinar membayar kembali beberapa bantuan yang kuberikan. Kupakai sebagian untuk menyewa tempat ini setahun, dibayar di muka.”
“Kenapa?”
“Karena kau butuh pekerjaan yang bukan layanan pelanggan, dan aku butuh partner bisnis.”
Aku berkedip. “Apa?”
“Aku memulai agensi konsultasi. Membantu orang menavigasi masalah yang jatuh di celah antara normal dan mustahil. Hal-hal aneh yang terlalu ganjil untuk polisi tapi terlalu nyata untuk terapi. Kau akan bagus dalam hal ini.”
“Aku tak punya pengalaman dengan, ”
“Kau membantu menobatkan kaisar dan menghentikan realitas terurai. Kau punya banyak pengalaman. Kau cuma belum menyadarinya.” Ia mendorong dirinya dari dinding, berjalan mengelilingi ruangan. “Dengar, aku tahu ini terasa mendadak. Tapi aku sudah memikirkannya beberapa waktu. Lima tahun tersisa untuk hidup, aku ingin menghabiskannya melakukan sesuatu yang menarik. Membangun sesuatu. Dan aku tak bisa melakukannya sendirian.”
“Apa sebenarnya yang akan kulakukan?”
“Bicara dengan klien. Cari tahu masalah mereka. Koordinasi dengan jaringan orang-orang aneh yang sudah kita kumpulkan. Pakai kemampuan jangkarmu untuk menstabilkan situasi sebelum berputar liar.” Ia menyeringai. “Juga, buat kopi. Aku payah membuat kopi.”
“Ini gila.”
“Ya. Seperti segala hal lain yang kita lakukan akhir-akhir ini. Sekalian saja gila dalam arah produktif.”
Aku memandangi ruangan itu, membayangkannya. Meja dekat jendela. Kursi untuk klien. Mungkin beberapa tanaman.
Bisa berhasil.
“Apa yang akan kita sebut ini?” tanyaku.
“Belum kuputuskan. Sesuatu yang samar tapi profesional. ‘Konsultan Seta & Lintang’? ‘Jawatan Antar Alam’?”
“Keduanya nama yang buruk.”
“Kalau begitu kau pikirkan yang lebih baik. Kau partner kreatifnya.”
“Aku tak kreatif. Aku nyaris tak lulus kelas seni.”
“Kreativitas bukan soal seni. Ini soal pemecahan masalah. Kau bagus dalam hal itu.” Ia mengeluarkan perjanjian sewa. “Satu tahun, dibayar lunas. Kalau kita bencinya, kita tinggalkan dan kupakai tempat ini sebagai gudang. Kalau kita menyukainya, kita cari tahu cara membuatnya berkelanjutan. Tanpa tekanan.”