GEMA SANG PENGUASA LANGIT: TRILOGI TITAH AGUNG

Nuryono
Chapter #14

BAB 13: MELATIH SANG AHLI WARIS

Latihan dimulai saat fajar.

Aku tak siap untuk itu.

Gagak Seta membangunkanku dengan melempar seember air laut dingin lewat jendelaku. Aku tersentak bangun, tersedak, mendapati ia menyeringai di ambang pintu.

“Bangun dan bersinar, calon ahli waris. Waktunya belajar cara tak mati.”

“Ini jam lima pagi, ”

“Waktu terbaik untuk latihan. Otak belum cukup bangun untuk berpikir berlebihan.” Ia melemparkan pakaian padaku. “Berpakaianlah. Temui aku di pantai lima menit lagi. Kalau kau terlambat, kita mulai dengan push-up ekstra.”

Ia pergi. Aku duduk di ranjang basahku, mempertanyakan seluruh pilihan hidupku.

Empat menit kemudian, aku terhuyung ke pantai berbatu di belakang fasilitas. Matahari baru mulai menerangi cakrawala, mewarnai segalanya abu-abu dan biru. Yang lain sudah di sana, semuanya, bahkan Puspa Asih, terlihat terlalu terjaga untuk jam segini.

“Bagus, kau tepat waktu,” kata Gagak Seta. “Hari ini, kita cari tahu apa yang sebenarnya bisa kau lakukan.”

“Sudah kubilang. Aku menjangkarkan realitas. Itu saja. Itu pasif, ”

“Tak ada yang pasif kalau kau belajar memakainya secara aktif.” Ia mengisyaratkan ke laut. “Kekuatanmu mencegah hal-hal terhapus. Itu berarti kau terus-menerus menahan realitas bersatu, entah kau sadar atau tidak. Benar?”

“Kurasa?”

“Jangan kira-kira. Rasakan. Pejamkan matamu.”

Aku memejamkan mata, merasa bodoh berdiri di pantai saat fajar dengan semua orang menonton.

“Bernapas. Fokus. Kau pernah merasakan benang-benang itu, sambungan antara dirimu dan segala di sekelilingmu. Temukan lagi.”

Aku mencoba. Bernapas. Fokus. Untuk waktu lama, tak ada apa-apa. Lalu,

Di sana. Samar, seperti jaring laba-laba dari cahaya. Benang-benang menghubungkanku ke tanah di bawah kakiku, ke fasilitas di belakangku, ke udara yang kuhirup. Dan benang-benang lebih kuat, lebih terang, menghubungkanku ke enam orang berdiri setengah lingkaran di sekelilingku.

“Aku merasakannya,” bisikku.

“Bagus. Sekarang tarik satu. Lembut. Cuma untuk lihat apa yang terjadi.”

Aku meraih benang yang menghubungkanku ke Gagak Seta. Bukan dengan tanganku, dengan sesuatu yang lain, bagian dari diriku yang tak pernah kutahu ada. Menyentuhnya. Menarik.

Gagak Seta tersandung maju setengah langkah.

“Hm,” katanya, terdengar senang. “Kau berbakat alami.”

Mataku terbuka lebar. “Apa yang kulakukan?”

“Kau menarikku lebih dekat ke dirimu. Lewat sambungan jangkar. Yang berarti...” Ia mengelilingiku, berpikir. “Kau tak cuma pasif menahan realitas bersatu. Kau bisa aktif memanipulasi sambungannya. Menguatkannya, melemahkannya, mengubah sifatnya.”

“Itu terdengar berbahaya.”

“Segalanya berbahaya. Pertanyaannya apakah itu berguna.” Ia berhenti di depanku. “Lagi. Kali ini, dorong alih-alih tarik.”

Kami berlatih selama tiga jam. Pada akhirnya, aku bisa:

- Menarik orang ke arahku lewat benang-benang itu

- Mendorong mereka menjauh (yang lebih sulit, melawan tarikan alami jangkar)

- Menguatkan sambungan tertentu, membuatnya lebih sulit putus

- Melemahkan sambungan, yang terasa salah tapi latihan yang perlu

- Merasakan ketika benang-benang di bawah tekanan atau akan putus

Aku tak bisa memanipulasi benang-benang benda mati semudah itu, itu lebih kabur, kurang responsif. Tapi orang? Orang jelas, terang, responsif pada kemauanku.

“Itu karena kau manusia,” jelas Yuwana Sasi saat jeda minum. “Well, sebagian besar manusia. Kekuatanmu tersambung ke makhluk sadar lebih mudah daripada ke benda. Itu kekuatan sekaligus keterbatasan.”

“Bagaimana bisa jadi kekuatan?”

“Para Suwung menghapus orang dulu, konsep kedua, benda terakhir. Pandai melindungi orang berarti kau membela yang paling penting.” Ia menyerahkan lebih banyak air padaku. “Tapi kau perlu berlatih pada benda juga. Akhirnya, kau perlu menjangkarkan tempat, bukan cuma orang.”

Samudra Aji mengambil alih latihan setelah itu, mengajariku merasakan laut itu sendiri, kehadiran masif, purba yang lebih sulit dipahami dari orang perseorangan tapi ada di sana, konstan dan berkuasa.

“Sang Raja Naga punya otoritas atas lautan,” jelasnya, berdiri setinggi lutut di ombak. “Tapi otoritas itu datang dari sambungan, bukan perintah. Untuk memerintah laut, kau harus dulu memahaminya. Merasakannya. Jadi bagian darinya.”

Aku mencoba. Memejamkan mata, meraih dengan indra baruku yang aneh. Lautan itu luas, begitu luas hingga kepalaku sakit. Bukan benang-benang seperti pada orang, lebih seperti satu tali masif, setebal batang pohon, menghubungkan segalanya. Aku menyentuhnya, dan,

, terhempas di bawah beban tiga ribu tahun ingatan. Ingatan Samudra Aji, mengalir lewat sambungan yang tanpa sengaja kuciptakan. Aku melihat lautan sebelum polusi, sebelum plastik, sebelum penangkapan ikan industrial. Melihatnya penuh kehidupan yang tak bisa kunamai. Melihatnya bersih, semarak, sehat. Lalu melihatnya sekarat, perlahan, saat manusia meracuni apa yang tak dipahaminya,

Aku terengah, mundur. Jatuh berlutut di air pasang.

“Pelan-pelan,” kata Samudra Aji, menstabilkanku. “Kau menyentuh sambunganku dengan laut. Itu... lanjutan. Dan berbahaya. Kau seharusnya belum bisa melakukan itu.”

Lihat selengkapnya