GEMA SANG PENGUASA LANGIT: TRILOGI TITAH AGUNG

Nuryono
Chapter #17

BAB 16: SUWUNG MAKIN KUAT

Nama asli Sang Penyeru adalah Mian Kertadi.

Mereka memberitahu kami ini tiga hari setelah konfrontasi bawah air, duduk di ruang bersama darurat kami dengan teh mendingin di tangan mereka. Mereka diam selama tiga hari itu, memproses, berduka, menyesuaikan diri dengan gagasan bahwa mereka telah bergabung dengan orang-orang yang mereka coba hancurkan.

“Kertadi berarti ‘tenang’ atau ‘damai’,” jelas mereka. “Orang tuaku memberiku nama itu karena aku bayi yang tenang. Tak pernah banyak menangis. Cuma... mengamati segalanya.” Senyum pahit. “Ironis. Aku tak melakukan apa pun selain amarah selama tiga tahun.”

“Duka punya bentuk berbeda,” kata Puspa Asih lembut. Ia sudah bekerja dengan Mian, membantu mereka memproses trauma, kehilangan. “Amarah cuma duka yang tak punya tempat tujuan.”

“Ke mana perginya sekarang?” tanya Mian. “Aku tak bisa membawa mereka kembali. Tak bisa membatalkan apa yang terjadi. Bahkan tak bisa menghukum dengan pantas para dewa yang bertanggung jawab, mereka sudah mati atau pergi atau tak ingat kejahatan mereka sendiri.”

“Itu masuk ke membangun sesuatu yang lebih baik,” kataku. “Kau bilang kau ingin para dewa bertanggung jawab. Bantu kami mewujudkannya.”

“Bagaimana? Kalian tujuh dewa pensiunan, satu ahli waris kebingungan, dan aku. Kita tak bisa merestrukturisasi kahyangan.”

“Tidak sendirian. Tapi kita bisa mulai.” Aku mengeluarkan catatan yang telah kubuat, gagasan setengah jadi, harapan putus asa. “Masalahnya bukan bahwa para dewa ada. Ini bahwa mereka tak terhubung dengan konsekuensi tindakan mereka. Mereka membuat keputusan yang memengaruhi jutaan, tapi mereka terisolasi dari hasilnya. Manusia mati, dewa berlanjut. Tak ada pertanggungjawaban, tak ada umpan balik, tak ada alasan untuk berubah.”

“Jadi apa solusinya?”

“Buat mereka fana. Sementara.” Aku menatap sekeliling meja. “Semua orang di sini memilih kefanaan pada suatu titik. Itu mengubah mereka. Membuat mereka lebih baik. Bagaimana kalau itu diwajibkan? Bagaimana kalau setiap dewa harus menghabiskan waktu sebagai manusia, mengalami dunia yang seharusnya mereka lindungi?”

Gagak Seta bersandar, mempertimbangkan. “Rotasi kefanaan wajib. Dewa menjalani masa jabatan, lalu menghabiskan waktu jadi manusia untuk memahami dampak keputusan mereka. Itu... bukan gagasan buruk.”

“Itu revolusioner,” kata Samudra Aji. “Kahyangan tak akan pernah menerimanya.”

“Kahyangan sudah rusak. Itu sebabnya segel-segelnya gagal, kenapa para Suwung bisa mewujud. Sistemnya sekarat.” Aku menatap matanya. “Kita tak minta izin. Kita membangun sesuatu yang baru.”

“Dan kau pikir tim ini, kita, tujuh pensiunan dan seorang pemula, bisa membentuk ulang tatanan ilahi?” Suara Prawira Yaksa skeptis tapi tak meremehkan.

“Kurasa kita satu-satunya yang bisa. Kita sudah hidup di kedua sisi. Kita tahu apa yang berhasil dan apa yang tidak. Dan kita punya pengaruh.” Aku mengisyaratkan ke diriku sendiri. “Aku membawa tiga Suwung. Itu membuatku entah orang paling berbahaya di Kartanagara atau paling berharga. Bagaimanapun, kahyangan harus mendengarkan.”

Mian menatapku dengan sesuatu seperti harapan. “Kau sungguh percaya ini bisa berhasil?”

“Aku harus percaya. Karena alternatifnya adalah menerima bahwa kematian putrimu tak berarti apa-apa. Bahwa semua orang yang dihapus para Suwung mati sia-sia. Bahwa sistem terus mengecewakan orang selamanya.” Aku berdiri. “Aku tak menerima itu. Kau?”

Perlahan, Mian juga berdiri. “Tidak. Aku tak menerima.”

“Bagus. Karena aku butuh bantuanmu.” Aku mengeluarkan peta. “Kau membobol tiga segel. Itu berarti kau tahu di mana mereka, cara kerjanya, dan, paling penting, kau tahu apa lagi yang tersegel di bawah sana.”

“Maksudmu?”

“Para Suwung bukan satu-satunya yang disegel. Ada puluhan entitas, artefak, dan kekuatan yang menurut para dewa lama terlalu berbahaya untuk ada bebas. Beberapa pantas tetap tersegel. Tapi beberapa...” Aku menatap tiga entitas kekosongan yang kubawa, diam tapi hadir di dadaku. “Beberapa cuma butuh pemahaman. Sambungan. Tempat di dunia.”

“Kau ingin meninjau semua segel kuno dan memutuskan apa yang dilepaskan,” kata Yuwana Sasi, memahami. “Itu gila.”

“Itu perlu. Segel-segelnya gagal juga, kau sendiri bilang, Prawira. Sistemnya sekarat. Lebih baik kita mengendalikan apa yang dilepaskan daripada membiarkannya terjadi acak.”

“Ini akan membuat musuh,” peringat Bara. “Musuh berkuasa. Seluruh struktur kahyangan dibangun atas gagasan bahwa beberapa hal harus dikendalikan, dikurung, ditekan. Kau menantang itu langsung.”

“Aku tahu. Tapi kita sudah berkomitmen.” Aku menatap mereka masing-masing. “Momen kita memutuskan melawan para Suwung alih-alih membiarkan mereka menghapus realitas, kita memilih pihak. Momen kita merekrut tim dewa pensiunan, kita jadi pernyataan politik. Momen aku menjangkarkan entitas kekosongan di dalam diriku, aku jadi ancaman bagi tatanan mapan. Kita sudah melewati titik bermain aman.”

Gagak Seta menyeringai. “Anak ini punya poin. Kita sudah jadi pembuat onar. Sekalian saja bikin onar dengan tujuan.”

“Aku ikut,” kata Bara segera.

Satu per satu, yang lain setuju. Bahkan Mian, yang punya alasan paling besar membenci tatanan ilahi, mengangguk.

“Baik,” kataku. “Mari mulai. Mian, tunjukkan pada kami di mana segel-segelnya. Semuanya. Kita akan cari tahu apa yang sebenarnya terkurung, apa yang perlu tetap terkurung, dan apa yang perlu dibebaskan.”

---

Segel pertama yang kami kunjungi ada di Gunung Semeru.

Perjalanan ke sana butuh dua hari, penerbangan ke kota terdekat, lalu jip sewaan ke kaki gunung, lalu mendaki jalur purba yang tak terawat selama berabad-abad. Mian memimpin jalan, mengikuti penanda yang cuma bisa mereka lihat, glif terukir di batu yang berpendar samar dengan kekuatan ilahi sisa.

“Ini segel tersulit dibobol,” jelas mereka saat kami mendaki. “Terpencil, dilindungi pertahanan alami. Aku nyaris mati tiga kali sampai ke sini.”

“Apa yang berubah?” tanya Puspa Asih.

“Keputusasaan. Ketika kau kehilangan segalanya, hal kecil seperti kematian tak lagi menakutkan.” Suara Mian datar. “Aku mendaki di musim dingin, tanpa alat keamanan, tanpa cadangan. Kalau aku jatuh, tak ada yang akan menemukan jasadku. Itu terasa pantas entah bagaimana.”

Kami mendaki dalam diam setelah itu.

Segelnya ada di ketinggian 3.600 meter, di gua terukir dari batu hidup. Di dalam, glif kuno menutupi setiap permukaan, berdenyut dengan kekuatan yang membuat gigiku ngilu. Dan di tengah, retak tapi masih berfungsi, adalah segel utama.

“Apa yang terkunci di sini?” tanyaku.

“Geni Kahyangan,” kata Mian. “Api asli, dari mana semua api lain berasal. Para dewa menyegelnya karena terlalu berkuasa, terlalu tak terkendali. Bahkan mereka tak bisa memerintahnya.”

Bara melangkah maju, tertarik ke segel itu. Cincinnya mulai bersinar.

“Aku bisa merasakannya,” bisiknya. “Itu... memanggilku.”

“Jangan sentuh,” peringat Gagak Seta. “Kau belum siap, ”

“Aku tak akan pernah siap. Bukan begitu cara kerja api.” Bara menempelkan telapaknya ke segel itu.

Gua itu meledak dengan cahaya.

Api mengalir dari segel, bukan merah atau jingga tapi putih-emas, begitu terang hingga menyakitkan dipandang. Ia mengalir ke arah Bara seperti air, seperti mengenalinya, membungkus lengannya, dadanya, wajahnya.

Aku menduga ia akan terbakar. Menjerit. Terkonsumsi.

Sebaliknya, ia tertawa.

“Inilah yang seharusnya aku jadi,” katanya, suaranya berlapis sesuatu yang purba. “Bukan senjata. Bukan dikendalikan. Cuma... api. Murni dan bebas.”

Lihat selengkapnya