Aku terbangun dengan sensasi tenggelam.
Bukan secara fisik, aku di ranjangku, aman di fasilitas Segara Anom. Tapi secara spiritual, energetik, aku sedang ditarik ke kedalaman yang tak bisa kupahami. Tiga Suwung di dadaku mengembang, tumbuh, meraih lewat diriku ke sesuatu yang luas.
Aku terengah, mencengkeram dadaku. Benang-jangkar yang telah kubiasa rasakan berkobar seperti kabel listrik dalam badai, menghubungkanku ke... segalanya.
Setiap orang di Kartanagara. Setiap bangunan. Setiap jalan, setiap sungai, setiap embusan udara. Semuanya terhubung lewatku, dijangkarkan olehku, ditahan di tempatnya oleh kekuatanku entah aku menginginkannya atau tidak.
Terlalu banyak. Terlalu besar. Aku akan patah,
“Bernapas,” suara Puspa Asih. Tenang, mantap, tak terbatas. Ia ada di sana, tangan di bahuku, menjejakkanku. “Kau tak tenggelam. Kau mengembang. Ini pertumbuhan, bukan kematian.”
“Aku tak bisa, ” aku tersedak. “Terlalu banyak, ”
“Kau bisa. Kau sudah melakukannya tanpa sadar selama berminggu-minggu. Sekarang kau terbangun pada apa dirimu sebenarnya.” Ia membantuku duduk. “Para Suwung adalah guru, Wira. Mereka menunjukkanmu cakupan penuh kekuatanmu.”
Aku fokus bernapas. Masuk. Keluar. Perlahan, sensasi luar biasa itu jadi terkelola. Bukan kecil, masih luas, masih menakutkan, tapi bisa dikandung.
“Apa yang terjadi padaku?” tanyaku ketika bisa bicara.
“Kau sedang menjadi Sang Jangkar. Bukan sekadar seseorang yang bisa menjangkarkan hal-hal. Sang Jangkar. Titik tetap tempat realitas mengorganisasi dirinya sendiri.” Ia menyerahkan air padaku. “Kakekmu adalah Sang Otoritas. Kehadirannya memerintah. Kau berbeda. Kehadiranmu menyambungkan. Menahan. Mencegah pembubaran.”
“Aku tak minta ini.”
“Tak seorang pun minta jadi apa mereka. Kita cuma bangun suatu hari dan mendapati diri kita telah jadi sesuatu yang tak pernah kita niatkan.” Ia tersenyum tipis. “Aku ingin jadi ibu. Berakhir jadi dewi. Akhirnya paham aku bisa jadi keduanya. Kau juga akan mencari tahu.”
---
Latihan mengambil dimensi baru setelah itu.
Gagak Seta mendorongku lebih keras, memaksaku secara sadar memakai sambungan jangkar alih-alih membiarkannya beroperasi otomatis.
“Kau segel hidup,” jelasnya, tongkat bersiul melewati kepalaku. “Sekarang, kau pasif mencegah Kartanagara runtuh ke kekosongan para Suwung. Tapi kau bisa lakukan jauh lebih banyak. Membentuk sambungan secara aktif. Menguatkan titik lemah. Menciptakan hubungan baru antara hal-hal yang seharusnya tak tersambung secara alami.”
“Seperti apa?” Aku menghindar, meraih benang-jangkar tongkatnya, menariknya kehilangan keseimbangan.
“Bagus! Seperti itu!” Ia pulih, menyeringai. “Kau tak cuma menarikku. Kau mendefinisikan ulang hubungan antara tongkatku dan genggamanku. Membuat mereka jadi hal terpisah agar aku tak bisa memegangnya dengan benar. Itu penjangkaran tingkat lanjut.”
Kami berlatih berjam-jam. Pada akhirnya, aku bisa:
- Memisahkan benda dari sifatnya (membuat sesuatu padat jadi sementara tak berwujud)
- Menyambungkan hal-hal jauh (menciptakan jalur sementara lewat ruang dengan menghubungkan dua lokasi)
- Menjangkarkan ingatan untuk mencegah lupa (melindungi orang tertentu dari efek penghapus ingatan)
- Melepas-jangkar sambungan berbahaya (memutus hubungan toksik, memotong ikatan terkutuk)
Tiap kemampuan menguras. Tiap satu membuat Suwung di dadaku berdenyut dengan energi dingin, seolah mereka menyediakan daya untuk operasi yang seharusnya mustahil.
“Mereka bukan sekadar penumpang,” amat Samudra Aji saat jeda minum air. “Mereka simbiot. Kau memberi mereka sambungan, tujuan, keberadaan. Mereka memberimu akses ke manipulasi kekosongan. Ini kemitraan.”
“Bisakah aku bicara pada mereka? Sungguh berkomunikasi?”
“Coba. Tapi ingat, mereka berpikir dalam konsep yang mendahului bahasa. Kau perlu berkomunikasi dalam perasaan, abstraksi.”
Aku mencoba malam itu, duduk di pantai, ombak menjilat kakiku.
Meraih ke dalam, menyentuh tiga entitas kekosongan yang kubawa. Merasakan perhatian mereka fokus padaku.
Siapa kalian? tanyaku, bukan dengan kata-kata tapi dalam konsep.
Responsnya datang dalam kesan-kesan:
Kami adalah Tak-Ada. Kami adalah ruang di antara hal-hal. Kami adalah ketiadaan perlu yang membuat keberadaan bermakna.
Kenapa kalian ingin menghapus segalanya?
Kami tak ingin. Kami butuh. Keberadaan tanpa kekosongan adalah sesak napas. Segalanya jadi satu hal, tanpa perbedaan, tanpa makna. Kekosongan menciptakan batas. Kami menciptakan ruang bagi hal-hal untuk terpisah, untuk jadi diri mereka sendiri.