Panggilan itu memberi kami tiga hari. Kami memakainya bersiap untuk pertempuran.
Bukan pertempuran fisik, meski Gagak Seta bersikeras latihan tempur untuk berjaga-jaga. Pertempuran politik. Jenis yang bertarung dengan kata-kata, preseden, dan penyajian fakta strategis.
“Sidang kahyangan adalah teater,” jelas Prawira Yaksa, membuka catatan sejarah. “Hasilnya biasanya sudah diputuskan sebelum kau masuk ruangan. Sidangnya sendiri cuma pembenaran publik untuk vonis yang telah ditentukan.”
“Jadi kita sudah bersalah?” tanya Bara.
“Dalam pikiran mereka, ya. Kau tak memanggil seseorang ke sidang kecuali kau yakin akan menang. Mereka sudah merencanakan ini sejak kita membobol segel pertama.”
“Lalu bagaimana kita menang?”
“Kita tak bermain permainan mereka. Kita ubah aturannya.” Prawira Yaksa menata dokumen. “Setiap sidang kahyangan direkam. Dipublikasikan. Disebarkan ke seluruh kahyangan. Mereka melakukan ini untuk menunjukkan keadilan ilahi ditegakkan. Kita pakai itu. Bermain untuk penonton, bukan hakim.”
“Dan bilang apa?” tanyaku.
“Kebenaran. Bahwa kahyangan gagal. Bahwa segel yang gagal membuktikannya. Bahwa perubahan wajib perlu.” Ia menatapku serius. “Tapi Wira, begitu kau bilang hal-hal ini secara publik, kau tak bisa menariknya kembali. Kau akan ditandai sebagai revolusioner. Tak ada jalan tengah, tak ada kompromi. Kau akan berhasil merestrukturisasi kahyangan atau dipenjara karena mencoba.”
“Aku sudah berkomitmen,” kataku. “Aku membawa tiga Suwung dan membobol segel kuno. Tak ada jalan mundur dari ini.”
“Bagus. Kalau begitu mari rencanakan cara membuat revolusimu berhasil.”
---
Kami menghabiskan dua hari persiapan intensif. Prawira Yaksa melatihku soal hukum dan protokol kahyangan. Mian Kertadi memberiku pengarahan soal anggota dewan, sejarah mereka, bias mereka, titik lemah mereka. Puspa Asih membantuku mengembangkan argumen emosional yang akan beresonansi dengan para dewa yang menonton.
Gagak Seta dan Bara mengerjakan rencana darurat kalau-kalau sidang berubah kekerasan. Yuwana Sasi menyiapkan perlengkapan medis darurat. Samudra Aji menetapkan rute pelarian, kalau-kalau kami perlu kabur dari kahyangan buru-buru.
Hari ketiga, kami siap.
Portal ke kahyangan terbuka tengah hari, robekan dalam realitas, berkilau emas dan biru. Kami melangkah bersama, muncul di plaza Balai Pemerintahan Kahyangan.
Kahyangan lebih kecil dari yang kuingat. Atau mungkin aku telah tumbuh. Bangunan giok yang dulu terlihat begitu mengesankan pada kunjungan pertamaku sekarang terasa... usang. Aus. Seperti istana megah yang jatuh tak terawat.
Dewa dan dewa kecil memenuhi plaza, menyaksikan kedatangan kami. Beberapa penasaran. Beberapa bermusuhan. Semua menghakimi.
“Abaikan mereka,” bisik Puspa Asih. “Mereka bukan penonton yang penting. Para hakim yang penting.”
Penjaga berzirah emas mendekat, penjaga sungguhan, bukan birokrat. Mereka mengelilingi kami, senjata terhunus tapi tak mengancam. Pengawalan, bukan serangan.
“Lewat sini,” kata kapten mereka. “Dewan menunggu.”
Kami mengikuti lewat koridor yang kukenali dari kunjungan pertamaku. Melewati arsip tempat kami mengungkap pengkhianatan Wredaya Kusuma. Melewati Jawatan Reinkarnasi tempat Nyi Wening memberi kami jalan. Segalanya terasa lebih kecil, kurang ilahi, lebih... biasa.
Balai Dewan itu masif. Ruang melingkar dengan sembilan singgasana tersusun setengah lingkaran, masing-masing ditinggikan agar para hakim memandang ke bawah pada yang terdakwa. Di belakang mereka, ratusan kursi untuk dewa yang menyaksikan. Dan di luar itu, kristal penampil yang akan menyiarkan persidangan ke seluruh kahyangan.
Semua sembilan kursi Dewan terisi.
Aku mengenali beberapa dari waktu singkatku di kahyangan:
- Menteri Kusuma, yang menjelaskan keharusan legal klaim Raden Jinar
- Jenderal Baskara, yang bersaksi soal kesiapan memerintah
- Sang Arsiparis, Wulan Kertapati, terlihat tak nyaman dalam jubah resmi
Yang lain orang asing. Dewa tua, dewa purba yang telah melayani Sang Penguasa Langit selama ribuan tahun.
Kursi tengah, kursi ketua, diisi seseorang yang tak kuduga: Raden Jinar.
Sang Pangeran Ketiga. Yang telah kudukung jadi kaisar. Ia telah dinobatkan, memerintah “sementara” sambil kahyangan menstabilkan diri. Rupanya ia masih berkuasa.
Ia terlihat lelah. Dan konflik batin.
“Wira Lintang,” katanya, suara bergema lewat ruangan. “Kau berdiri terdakwa atas berbagai pelanggaran hukum kahyangan. Bagaimana pembelaanmu?”
Aku melangkah maju, sendirian. Yang lain tetap di belakang, ini sidangku.
“Pembelaanku adalah hukum kahyangan sendiri yang rusak,” kataku jelas. “Dan bahwa aku tak melakukan kesalahan dengan mencoba memperbaikinya.”
Gumaman beriak lewat kerumunan yang menyaksikan. Raden Jinar mengangkat tangan meminta hening.
“Itu bukan pembelaan sah. Kau harus pilih: bersalah atau tidak bersalah.”
“Kalau begitu tidak bersalah. Dan aku balik menuduh Dewan Kahyangan: Kelalaian memelihara segel kosmis. Penekanan perubahan perlu. Pemenjaraan konsep dan gagasan. Terputus dari konsekuensi fana. Dan kegagalan umum memenuhi tujuan kahyangan.”