GEMA SANG PENGUASA LANGIT: TRILOGI TITAH AGUNG

Nuryono
Chapter #20

BAB 19: IKATAN DITEMPA API

Kami merayakannya malam itu di fasilitas Segara Anom. Bukan pesta liar, kami semua terlalu kelelahan untuk itu. Cuma kepuasan tenang, duduk bersama, minum teh, memproses apa yang telah kami capai.

“Kau tahu apa artinya ini, kan?” kata Prawira Yaksa. “Kau sekarang secara resmi bagian dari birokrasi kahyangan. Arsiparis Perubahan Perlu. Itu gelar, posisi, peran dalam sistem.”

“Aku tahu,” kataku. “Rasanya aneh. Aku mencoba membongkar sistemnya. Sekarang aku bagian darinya.”

“Begitulah cara perubahan terjadi,” kata Puspa Asih. “Dari dalam, perlahan, terus-menerus. Revolusioner yang menolak terlibat dengan sistem yang ada biasanya gagal. Yang berhasil belajar bekerja dalam sistem sambil mengubahnya.”

“Raden Jinar mengejutkanku,” akui Bara. “Menjadi sukarelawan rotasi kefanaan. Itu butuh nyali.”

“Atau itu strategis,” kata Mian Kertadi. Mereka sudah diam sejak kami kembali dari kahyangan. “Kalau ia mengalami kefanaan dan kembali tak berubah, ia bisa mengklaim programnya tak berhasil. Kalau ia kembali berubah, ia akan lebih bersimpati pada yang fana tapi juga lebih pandai memanipulasi mereka.”

“Kau sinis,” amat Yuwana Sasi.

“Aku realistis. Raden Jinar politikus. Segala yang ia lakukan punya banyak tujuan.” Mian berdiri, mondar-mandir. “Jangan salah paham, ini kemajuan. Tapi kita perlu tetap waspada. Pastikan reformasinya sungguh terjadi, bukan cuma dibahas tanpa akhir.”

“Setuju,” kataku. “Karena itu kita mulai segera. Besok, kita mulai meninjau sistematis segel-segel yang tersisa. Dokumentasikan semuanya. Bangun kasus untuk mana yang dibobol dan kenapa.”

“Itu kerja berbulan-bulan,” kata Samudra Aji.

“Kalau begitu lebih baik kita mulai lebih awal.”

Kami langsung terjun ke peninjauan segel keesokan paginya. Bekerja berpasangan, kami mengunjungi tiga kompleks segel utama:

Bara dan Yuwana Sasi mengambil Gunung Semeru.

Gagak Seta dan Puspa Asih mengurus Keraton Larangan.

Samudra Aji dan aku menutupi arsip bawah air.

Prawira Yaksa dan Mian Kertadi berkoordinasi dari Segara Anom, menyusun data dan menganalisis pola.

Kerjanya melelahkan, menguras, dan kadang berbahaya. Banyak segel telah terdegradasi selama berabad-abad. Beberapa sudah pecah sebagian. Beberapa aktif melawan balik saat kami mencoba memeriksanya.

Tapi perlahan, sebuah gambaran muncul.

Ada tiga kategori entitas tersegel:

Kategori Satu: Sungguh berbahaya. Kekuatan kosmis yang, kalau dilepaskan, akan menyebabkan kehancuran masif. Hal-hal seperti “Nyala Pemakan Cahaya,” “Gema Pemutus Suara,” “Lapar Tanpa Kenyang.” Ini perlu tetap tersegel atau butuh pengelolaan sangat hati-hati.

Kategori Dua: Berpotensi berbahaya tapi bisa dikelola. Makhluk atau kekuatan berkuasa yang disegel karena tak terkendali oleh dewa zaman itu. Tapi dengan pemahaman dan kemitraan tepat alih-alih kendali, mereka bisa ada dengan aman. Suwung yang kubawa masuk kategori ini.

Kategori Tiga: Disegel murni karena alasan politik. Gagasan, konsep, filosofi yang mengancam otoritas ilahi tapi sebenarnya tak berbahaya. Ini harus dibebaskan segera.

“Kira-kira sepertiga masuk tiap kategori,” lapor Prawira Yaksa setelah dua minggu peninjauan. “Itu 800 segel total. 267 sungguh berbahaya, 266 bisa dikelola, 267 tahanan politik.”

“Kita bebaskan yang politik dulu,” putusku. “Itu jelas. Yang bisa dikelola kita evaluasi kasus per kasus, beberapa mungkin ingin tetap tersegel, telah beradaptasi dengan penjaranya. Yang berbahaya kita biarkan dulu, mungkin selamanya.”

“Itu rencana solid,” kata Mian Kertadi. “Tapi siapa yang memutuskan mana kategori sesuatu? Itu banyak kekuatan terkonsentrasi di satu orang.”

“Aku, dengan masukan dari kalian semua. Dan kita dokumentasikan tiap keputusan, buat transparan. Siapa pun di kahyangan bisa meninjau alasan kita dan menantangnya kalau tak setuju.”

“Itu luar biasa demokratis untuk seseorang dengan otoritas mutlak,” amat Gagak Seta.

“Itulah intinya. Otoritas mutlak mengorupsi. Pengambilan keputusan bersama dengan transparansi lebih sulit tapi lebih baik.”

Selama bulan berikutnya, kami membebaskan 267 segel politik. Masing-masing revolusi kecil, sebuah gagasan kembali ke ruang pikiran yang bisa dipikirkan.

Beberapa punya efek langsung:

- “Kesetaraan Insan dan Kahyangan” memicu gelombang diskusi di seluruh kahyangan soal struktur kekuasaan

- “Hak Menolak Kahyangan” membuat tiga dewa kecil langsung pensiun ke hidup fana

- “Pertanyaan Tanpa Jawaban” menyebabkan renaisans filosofis saat para dewa bergulat dengan misteri yang dilarang mereka pertimbangkan

Yang lain lebih halus, mengubah asumsi mendasar budaya ilahi dengan cara yang butuh bertahun-tahun untuk sepenuhnya mewujud.

Segel yang bisa dikelola lebih rumit.

Beberapa entitas ingin dibebaskan:

- “Roh Pertumbuhan Liar” disegel karena membuat tanaman tumbuh terlalu antusias, membanjiri pertanian hati-hati. Dibebaskan bekerja dengan Samudra Aji pada ekosistem laut, ia membantu memulihkan keanekaragaman hayati laut.

- “Penyanyi Nama Hilang” disegel karena mengingatkan dewa pada yang telah mereka lupakan. Dibebaskan bekerja dengan Prawira Yaksa, ia membantunya memperluas pengetahuan sejarah terhapus.

- “Penenun Sambungan Mustahil” disegel karena menciptakan hubungan yang tak disetujui para dewa. Dibebaskan bekerja denganku, ia meningkatkan kemampuan jangkarku, membiarkanku menciptakan jaringan sambungan bahkan lebih rumit.

Yang lain memilih tetap tersegel:

- “Mimpi Tanpa Akhir” disegel karena memerangkap orang dalam tidur abadi. Ketika ditawari pembebasan, ia menolak. “Aku puas di sini. Bermimpi dengan tenang. Dunia lebih baik dengan aku terkurung.”

- “Cermin Jati Diri” disegel karena menunjukkan orang kebenaran yang tak bisa mereka tangani. Ia minta tetap tersegel “sampai orang siap menghadapi diri mereka sendiri dengan jujur.”

Kami menghormati pilihan mereka. Pengurungan yang jadi keamanan sukarela bukan lagi penindasan.

Segel berbahaya kami pantau tapi tak sentuh. Beberapa terdegradasi parah, akan pecah dalam beberapa tahun terlepas dari kami. Kami mulai menyiapkan protokol pengurungan untuk saat itu terjadi. Yang lain stabil, mungkin bertahan berabad-abad lagi.

Sepanjang kerja ini, sambunganku dengan tiga Suwung makin dalam. Mereka bukan cuma simbiot lagi, mereka guru, pemandu, mitra. Mereka menunjukkanku cara memahami struktur mendasar realitas, sambungan yang membuat segalanya koheren.

Aku belajar merasakan:

- Benang naratif (cerita yang orang ceritakan pada diri sendiri soal siapa mereka)

- Jangkar konseptual (gagasan bersama yang mengikat komunitas)

- Sambungan temporal (bagaimana masa lalu, sekarang, dan masa depan berhubungan)

- Ruang kekosongan (ketiadaan perlu yang mendefinisikan batas)

Tiap jenis sambungan bisa dikuatkan, dilemahkan, atau disusun ulang. Aku belajar jadi editor realitas itu sendiri.

Itu memabukkan. Dan menakutkan.

Lihat selengkapnya