Tiga tahun setelah aktivasi Jalinan, aku terbangun oleh sinar matahari dan aroma teh.
Bukan kebangkitan ilahi. Bukan panggilan tanggung jawab kosmis. Cuma pagi normal di apartemen kecilku dekat Padepokan Sauh. Kirana bersenandung di dapur, kami telah berpacaran enam bulan sekarang, dan ia menginap hampir tiap malam.
“Pagi,” katanya, menyerahkan secangkir teh. “Kau ada kuliah jam sembilan. Yang soal jaringan terdistribusi?”
“Benar. Terima kasih.” Aku menyesap teh itu. Sempurna. Segalanya sempurna.
Mungkin terlalu sempurna.
Usiaku dua puluh sembilan tahun. Tiga tahun sejak aku melepaskan esensi ilahi membangun Jalinan. Tiga tahun sejak kahyangan bertransformasi dari otokrasi jadi demokrasi. Tiga tahun damai, stabilitas, dan hidup normal.
Aku mengajar di Padepokan. Melatih jangkar baru. Berkonsultasi dengan Dewan Kahyangan sesekali. Tapi kebanyakan, aku hidup tenang. Biasa. Persis yang kuinginkan.
Jadi kenapa aku merasa gelisah?
Padepokan Sauh telah berkembang. Kami sekarang punya empat ratus murid per angkatan, lima belas pengajar, tiga kampus di seluruh dunia. Profesi yang tak sengaja kuciptakan berkembang pesat.
Kuliah pagiku berjalan baik. Aku mengajar teori, cara kerja Jalinan, kenapa jaringan terdistribusi lebih stabil dari hierarkis, filosofi kekuatan kolaboratif.
“Pertanyaan,” seorang murid mengangkat tangan. Namanya Laras Ayu, tajam dan skeptis. “Kalau Jalinan begitu stabil, kenapa kita butuh jangkar? Bukankah seharusnya ia memelihara diri sendiri?”
Pertanyaan bagus. Aku telah bertanya hal sama pada diriku sendiri akhir-akhir ini.
“Jalinan menyediakan struktur,” jelasku. “Tapi struktur butuh pemeliharaan. Seperti bangunan, ia tak langsung runtuh, tapi tanpa perawatan, ia terdegradasi. Jangkar adalah perawatan itu.”
“Tapi kau membangunnya agar mandiri,” desaknya. “Kau bilang ia belajar, beradaptasi, berkembang. Jadi secara teoretis, ia seharusnya butuh lebih sedikit intervensi seiring waktu, bukan lebih banyak.”
“Secara teoretis, ya.”
“Lalu kenapa kejadian pemudaran meningkat? Kecil, tapi trennya naik, bukan turun.”
Aku berhenti. Ia benar. Aku telah melihat datanya. Tak mengkhawatirkan, fluktuasi kecil, masih dalam rentang bisa diterima. Tapi trennya salah. Jalinan seharusnya makin baik dalam pengaturan-diri, bukan makin buruk.
“Aku tak tahu,” akuku. “Tapi itulah gunanya riset. Cari tahu. Perbaiki.”
Setelah kelas, Laras Ayu mendekatiku. “Pak Wira, aku tak bermaksud menyudutkan Bapak. Tapi aku sudah mempelajari polanya. Ada sesuatu yang... salah. Kejadian pemudaran mengelompok di lokasi spesifik.”
“Lokasi mana?”
“Situs segel lama. Tempat struktur ilahi besar dulu berada.” Ia membuka peta di tabletnya. Titik merah menandai kejadian pemudaran. Mereka tak acak, mereka membentuk pola jelas mengelilingi Gunung Semeru, Keraton Larangan, brankas bawah air.
“Mungkin ketidakstabilan sisa dari membobol segel-segel itu?” saranku.
“Itu yang kupikir juga. Tapi segel-segelnya dibobol tiga tahun lalu. Efek sisanya seharusnya berkurang, bukan meningkat.”
Ia benar. Dan itu mengganggu batinku.
“Terus lakukan risetnya,” kataku. “Dokumentasikan semuanya. Kalau kau temukan sesuatu konkret, beri tahu aku.”
Ia mengangguk dan pergi. Aku berdiri di sana, menatap peta itu, merasakan kegelisahan itu membesar.
Malam itu, aku hadir di Tinjauan Trienial Pertama Dewan Kahyangan.
Itu acara besar, evaluasi besar pertama soal bagaimana kahyangan demokratis berfungsi. Perwakilan dari ketujuh dewan berkumpul, bersama pengamat dari pemerintahan fana, komunitas spiritual, dan pemantau independen.
Balai Dewan telah berubah. Tak ada lagi singgasana. Sebagai gantinya, meja melingkar tempat semua perwakilan duduk setara. Pencatatan suara transparan. Galeri publik tempat siapa pun bisa menyaksikan.
Itu segala yang telah kami perjuangkan.
Raden Jinar, tak lagi kaisar, cuma perwakilan dewan lain, membuka sesi:
“Tiga tahun lalu, kita mentransformasi kahyangan. Mengganti otokrasi dengan demokrasi. Kekuatan terpusat dengan jaringan terdistribusi. Pemerintahan ilahi dengan tata kelola kolaboratif. Hari ini, kita menilai: apakah itu berhasil?”
Laporan dewan dimulai. Tiap perwakilan mempresentasikan kemajuan domain mereka:
Dewan Hubungan Fana-Ilahi: “Kolaborasi sangat baik. Proyek bersama naik 300%. Keluhan turun 80%.”
Dewan Pemeliharaan Realitas: “Jalinan berkinerja mengagumkan. Stabilitas di 99,7%. Fluktuasi kecil masih dalam parameter bisa diterima.”
Dewan Urusan Spiritual: “Integrasi entitas terbebaskan berhasil. Mantan makhluk tersegel sekarang jadi anggota masyarakat produktif.”
Terus begitu. Setiap metrik positif. Setiap indikator menunjukkan kesuksesan.
Para pengamat menyetujui. Pemerintahan fana memuji transparansinya. Komunitas spiritual merayakan inklusinya.
Itu kemenangan.
Jadi kenapa aku merasa ada yang salah?
---
Setelah sesi itu, aku menemukan Gagak Seta di taman.
“Hari besar,” katanya. “Demokrasi berhasil. Siapa sangka?”
“Kau tak terlihat terkejut.”
“Memang tidak. Kita membangun sistem baik. Tentu saja berhasil.” Ia menatapku. “Kau, di sisi lain, terlihat seperti seseorang baru saja memberitahumu anjingmu mati. Ada apa?”
“Aku tak tahu. Segalanya sempurna. Laporannya semua positif. Angkanya bagus. Orang-orang bahagia.”
“Tapi?”
“Tapi aku terus merasa kita melewatkan sesuatu. Seperti ada pola yang tak kita lihat.”
Gagak Seta diam sejenak. Lalu: “Kau tahu masalahmu, Nak? Kau jadi begitu pandai melihat sambungan hingga kau melihatnya bahkan ketika tak ada. Kadang sempurna ya cuma sempurna. Biarkan dirimu menikmatinya.”
“Mungkin kau benar.”
“Aku selalu benar. Usiaku tiga ribu tahun.” Ia menyeringai. “Ayo. Mari mabuk merayakan demokrasi tak langsung runtuh. Itu layak dirayakan.”
Kami melakukannya. Dan selama beberapa jam, aku melupakan kegelisahan itu.
Tapi itu kembali malam itu, berbaring di ranjang, menatap langit-langit.
Sesuatu salah. Aku tahu itu. Aku cuma belum bisa melihatnya.
---
Dua minggu kemudian, aku meninjau catatan Padepokan ketika aku menyadarinya.
Sebuah keputusan telah dibuat soal perubahan kurikulum. Perubahannya tercatat, diterapkan, memengaruhi ketiga kampus. Murid-murid sudah mengikuti pedoman baru.
Tapi aku tak menyetujuinya. Aku memeriksa dengan komite kurikulum, mereka juga belum memilihnya.
“Mungkin itu otomatis?” saran seorang anggota komite. “Bagian dari pembelajaran adaptif Jalinan?”
“Jalinan tak membuat keputusan kurikulum. Ia menyediakan data. Orang yang memutuskan.”
“Lalu siapa yang memutuskan ini?”
Tak seorang pun tahu.
Aku menggali lebih dalam. Menemukan lebih banyak contoh. Keputusan kecil, diterapkan tanpa pemungutan suara, tanpa persetujuan, tanpa siapa pun membuatnya. Tak ada yang besar, perubahan jadwal, alokasi sumber daya, penyesuaian kebijakan kecil.
Tapi mereka terjadi.
Aku memeriksa catatan Jalinan. Mereka menunjukkan persetujuan semestinya, proses semestinya. Tapi aku ada di sana untuk beberapa pemungutan suara yang katanya terjadi itu. Mereka tak pernah terjadi.
Jalinan berbohong.
Atau sesuatu memakai Jalinan untuk menutupi jejaknya.
---
Aku memanggil rapat darurat dengan tim asli.
“Kau terlalu paranoid,” kata Bara setelah kujelaskan. “Jalinan itu rumit. Mungkin ada protokol otomatisasi yang tak sepenuhnya kita pahami.”
“Aku membangun Jalinan,” bantah Mian Kertadi. “Tak ada protokol tersembunyi. Setiap jalur keputusan terdokumentasi. Kalau Wira bilang pemungutan suara tak terjadi, mereka tak terjadi.”
“Bisakah seseorang meretasnya?” tanya Yuwana Sasi.
“Secara teoretis mustahil,” kata Mian Kertadi. “Jalinan itu terdistribusi. Kau perlu mengorupsi ribuan simpul serentak. Dan bahkan begitu, para jangkar akan mendeteksinya.”
“Kecuali para jangkar juga dibodohi,” kataku.
Prawira Yaksa telah diam, berpikir. Sekarang ia bicara: “Aku sedang menyelidiki sesuatu yang terkait. Kasus orang hilang. Sangat sedikit, kita bicara puluhan di seluruh Indonesia selama tiga tahun. Masih dalam normal statistik. Tapi mereka semua jangkar. Tingkat rendah, nyaris tak terlatih. Jenis yang tak akan dirindukan siapa pun.”