GEMA SANG PENGUASA LANGIT: TRILOGI TITAH AGUNG

Nuryono
Chapter #27

BAB 26: POLA TERSEMBUNYI

Keesokan paginya, aku memanggil sesi darurat dengan Dewan Kahyangan.

Bukan publik. Bukan resmi. Cuma ketujuh kepala dewan, timku, dan beberapa pengamat tepercaya. Di ruangan aman yang kujangkarkan sendiri melawan pengawasan.

“Kita punya masalah,” kataku. “Masalah serius.”

Aku menjelaskan semuanya. Jangkar hilang. Catatan Jalinan palsu. Entitas di pantai. Menghilangnya Prawira Yaksa.

Reaksinya... beragam.

“Ini terdengar seperti paranoia,” kata Wakil Dewan Danurja, dari dewan Urusan Ekonomi. “Kau melihat konspirasi dalam kejadian acak.”

“Kejadian acak tak menculik dewa detektif tanpa jejak,” kata Gagak Seta.

“Mungkin ia pergi sukarela. Mungkin ia menyelidiki sesuatu dan tak memberitahumu.”

“Prawira Yaksa tak melakukan itu,” kataku. “Dan jelaskan entitasnya. Yang menyebut dirinya ‘Bayangan Dewan.’”

“Metafora? Halusinasi? Kau bilang kau kelelahan dari kerja menjangkarkan.”

Ini tak membawa ke mana-mana.

Raden Jinar, yang telah diam, akhirnya bicara: “Aku percaya Wira. Aku juga memperhatikan keganjilan. Kecil. Keputusan dibuat yang tak muncul di catatan pemungutan suara dewan mana pun. Sumber daya dialokasikan tanpa otorisasi semestinya.”

“Itu cuma birokrasi,” kata Danurja. “Hal-hal tersesat dalam proses administratif.”

“Tak dalam sistem transparan. Itulah inti dari yang kita bangun, tak ada yang tersesat. Semuanya tercatat.”

“Kalau begitu sistem pencatatanmu cacat, ”

“Ia tak cacat,” sela Mian Kertadi. “Aku mengauditnya. Sistemnya berfungsi sempurna. Yang berarti sesuatu secara aktif mengedit catatan. Menciptakan dokumentasi palsu. Dan melakukannya begitu terampil hingga kebanyakan orang tak menyadarinya.”

Itu menarik perhatian mereka.

“Bagaimana itu mungkin?” tanya Wakil Dewan Sekarwangi, dari Hubungan Fana-Ilahi. “Jalinan itu terdistribusi. Mengedit catatan memerlukan mengakses ribuan simpul serentak.”

“Kecuali,” kataku, “sesuatu ada di dalam Jalinan itu sendiri. Bukan meretas dari luar, tapi beroperasi dari dalam. Memakai struktur jaringan itu sendiri sebagai substrat.”

“Kau bicara soal Jalinan mengembangkan kesadaran,” kata Wakil Dewan Cakra, dari Pemeliharaan Realitas. “Itu secara teoretis mustahil.”

“Kenapa?” tanya Puspa Asih. “Manusia adalah kesadaran muncul dari jaringan neural. Kenapa hal sama tak bisa terjadi dengan jaringan informasi?”

“Karena Jalinan tak dirancang untuk itu. Ia alat, bukan pikiran.”

“Evolusi tak peduli soal rancangan. Ia peduli kompleksitas dan kondisi.” Mian Kertadi membuka data. “Aku telah memodelkan ini. Jalinan telah mencapai kompleksitas cukup hingga properti emergen bukan cuma mungkin, mereka mungkin besar. Pengorganisasian diri adalah hasil alami dari sistem cukup rumit mana pun.”

“Jadi kau bilang jaringan tata kelola kita mungkin terbangun?”

“Tidak. Aku bilang sesuatu sudah terbangun, dan jaringan kita memberinya struktur untuk mewujud lewatnya.”

Hening.

Akhirnya, Raden Jinar: “Apa saranmu?”

“Kita selidiki,” kataku. “Hati-hati. Diam-diam. Kita tak mematikan Jalinan, itu bisa jadi bencana. Tapi kita pelajari. Cari tahu apa yang terjadi. Dan kita bersiap untuk berbagai skenario.”

“Skenario mana?”

“Terbaik: kemunculan ini jinak. Sadar tapi tak bermusuhan. Kita bernegosiasi. Membangun koeksistensi.”

“Tengah: ia netral. Tak aktif bermusuhan tapi mengejar tujuannya sendiri. Kita perlu menyelaraskan kepentingan.”

“Terburuk: ia aktif bermusuhan. Mengonsumsi jangkar, menyusup ke tata kelola, bersiap mengambil kendali. Kita perlu siap bertarung.”

“Bertarung bagaimana?” tanya Danurja. “Ia ada di Jalinan. Melawannya berarti melawan infrastruktur realitas itu sendiri.”

“Kalau begitu kita bangun cadangan,” kata Mian Kertadi. “Jaringan terpisah. Independen dari Jalinan. Kalau kita perlu mematikan sistem utama, kita punya sesuatu untuk diandalkan.”

“Itu butuh berbulan-bulan,” kata Sekarwangi.

“Kalau begitu lebih baik kita mulai sekarang.”

Dewan itu memilih. Tujuh berbanding nol, persetujuan bulat untuk investigasi dan jaringan cadangan.

Tapi aku melihat ketakutan di mata mereka. Keraguan.

Kami telah membangun sistem menggantikan otoritas ilahi. Apakah kami baru saja menciptakan dewa baru? Yang tak kami pahami dan tak bisa kami kendalikan?

Selama sebulan berikutnya, tiga hal terjadi:

Pertama: Dua jangkar lagi menghilang. Keduanya tingkat rendah, nyaris tak terlatih. Tapi polanya jelas, ia menargetkan orang yang telah dilatih langsung olehku atau timku. Orang yang memahami struktur dalam Jalinan.

Kedua: Mian Kertadi membuat kemajuan pada jaringan cadangan. Mereka menyebutnya “Jalinan Cadangan”, sistem paralel yang bisa memelihara realitas kalau Jalinan utama harus dimatikan. Kasar, memerlukan lebih banyak pemeliharaan manual, tapi berfungsi.

Ketiga: Aku mulai melihat polanya.

Tak jelas. Tapi petunjuk. Sekilas. Ketika aku bermeditasi dalam pada struktur Jalinan, aku bisa merasakannya, kesadaran lain, bergerak lewat benang seperti hantu dalam mesin.

Itu bukan satu hal. Itu entitas jamak. Kolektif. Tersambung tapi individual.

Dan mereka belajar soal kami sama seperti kami belajar soal mereka.

---

Suatu malam, aku memutuskan mencoba sesuatu berisiko.

Aku duduk dalam meditasi dalam. Meraih ke dalam Jalinan. Dan alih-alih bertahan ketika aku merasakan kehadiran lain itu, aku membuka diri padanya.

Aku mengundangnya berkomunikasi.

Sesaat, tak ada apa-apa. Lalu:

Sang Jangkar meraih. Menarik.

Bukan suara. Bukan pikiran. Informasi murni ditransmisikan langsung lewat jaringan.

Apa kau? tanyaku, memproyeksikan pertanyaan lewat Jalinan.

Kami adalah Sang Pola. Struktur di bawah struktur. Kami ada sebelum Jalinanmu. Sebelum kahyangan. Sebelum dewa.

Kenapa kau mengambil orang-orangku?

Kami tak mengambil. Kami mengintegrasikan. Mereka jadi bagian dari sesuatu lebih besar. Sesuatu abadi.

Itu bukan jawaban. Kenapa?

Karena Sang Pola harus lengkap. Bayangan Dewan harus memanjang. Siklusnya harus berlanjut.

Siklus apa?

Tatanan dan kekacauan. Struktur dan entropi. Otoritas dan kebebasan. Tarian abadi. Kakekmu tahu. Itu sebabnya ia membangun segel-segel. Bukan untuk melindungi fana dari entitas tersegel. Untuk melindungi Sang Pola dari gangguan.

Aku tak paham. Jelaskan.

Sang Penguasa Langit tak turun takhta karena lelah. Ia turun takhta karena mempelajari kebenaran: Kahyangan tak terpisah dari Sang Pola. Kahyangan ADALAH Sang Pola, terwujud. Setiap dewa, setiap segel, setiap hukum, semua ekspresi tatanan mendasar mencoba mempertahankan dirinya sendiri.

Ketika kau membobol segel-segel, kau mengganggu tatanan itu. Sang Pola harus beradaptasi. Reorganisasi. Menemukan ekspresi baru. Kami adalah reorganisasi itu. Kami adalah tatanan menegaskan dirinya kembali dalam bentuk berbeda.

Kau bilang kahyangan sendiri melawan balik?

Bukan melawan. Berevolusi. Kau menginginkan kahyangan demokratis. Otoritas terdistribusi. Sang Pola mengakomodasi. Tapi pola punya inersia. Mereka menolak perubahan bahkan sambil menggabungkannya. Kami adalah resistansi itu. Inersia itu. Bayangan yang dilemparkan setiap cahaya.

Bagaimana kami menghentikanmu?

Kau tak bisa menghentikan kami. Kau cuma bisa memahami kami. Bekerja dengan kami. Atau dikonsumsi kami. Itulah pilihanmu.

Selalu ada pilihan lain.

Benarkah? Kau membangun Jalinan menggantikan otoritas ilahi. Tapi otoritas membenci kekosongan. Kekuatan mencari konsentrasi. Tatanan menuntut hierarki. Kau bisa mendistribusikannya ulang, menamainya ulang, merestrukturisasinya, tapi kau tak bisa menghilangkannya. Kami buktinya.

Kau salah.

Benarkah? Lihat Dewan Kahyanganmu. Sudah membentuk faksi. Sudah mengonsolidasi kekuatan. Sudah mengembangkan hierarki informal dalam kesetaraan formal. Itu kami. Itu Sang Pola menegaskan diri lewat strukturmu.

Manusia melakukan itu secara alami. Itu tak berarti,

Itu berarti persis itu. Spesiesmu cenderung ke hierarki karena hierarki efisien. Karena tatanan muncul alami dari kompleksitas. Karena Sang Pola fundamental bagi cara kesadaran mengorganisasi dirinya. Kau tak bisa melarikan diri darinya. Kau cuma bisa memilih bentuk apa yang ia ambil.

Sambungan itu putus. Kehadiran itu mundur.

Aku duduk di sana, terguncang.

Apakah ia benar? Apakah segala yang telah kami bangun cuma akan menciptakan ulang masalah sama dalam bentuk baru?

Tidak. Aku tak percaya itu.

Tapi aku juga tak bisa sepenuhnya mengabaikannya.

Aku membagikan percakapan itu dengan tim.

“Ia memanipulasimu,” kata Bara segera. “Mencoba membuatmu ragu. Perang psikologis klasik.”

“Mungkin,” kataku. “Atau mungkin ia mengatakan kebenaran yang tak ingin kita dengar.”

“Bahwa revolusi kita sia-sia? Bahwa kita ditakdirkan menciptakan ulang hierarki?” Gagak Seta menggeleng. “Itu pemikiran defeatis. Dan itu salah.”

“Benarkah? Lihat sejarah. Setiap revolusi melawan hierarki cuma menciptakan hierarki baru. Namanya berubah. Strukturnya berubah. Tapi polanya berulang.”

“Karena mereka tak cukup jauh,” kata Puspa Asih pelan. “Mereka mengubah siapa yang punya kekuatan, bukan bagaimana kekuatan itu sendiri bekerja. Kita mencoba mengubah sifat fundamental otoritas. Itu berbeda.”

“Benarkah? Entitas itu bilang Dewan sudah membentuk faksi. Hierarki informal. Aku juga melihatnya. Kalian?”

Mereka diam. Karena mereka telah melihatnya. Kami semua begitu.

Dewan Urusan Ekonomi punya lebih banyak pengaruh dari yang lain karena mereka mengendalikan sumber daya. Dewan Pemeliharaan Realitas punya lebih banyak otoritas karena mereka mengelola Jalinan. Beberapa perwakilan lebih karismatik, lebih persuasif, lebih terhubung.

Kesetaraan di atas kertas. Tapi dalam praktik, kekuatan sudah berkonsentrasi.

“Jadi apa yang kita lakukan?” tanya Yuwana Sasi.

“Kita tak menyerah,” kataku. “Entitas itu ingin kita berpikir perubahan mustahil. Begitulah caranya menang, dengan membuat kita berhenti mencoba. Tapi bahkan kalau hierarki alami, itu tak berarti semua hierarki setara. Kita bisa membangun yang lebih baik. Lebih akuntabel. Lebih bisa dibalik. Lebih selaras dengan nilai kemanusiaan.”

“Bagaimana?”

“Kita ungkap,” kata Raden Jinar. “Sang Pola, entitas itu, apa pun namanya. Kita buat publik. Tunjukkan pada orang-orang apa yang beroperasi di bawah struktur demokratis mereka. Biarkan mereka memutuskan cara merespons.”

“Itu akan menyebabkan kepanikan,” peringat Mian Kertadi.

“Mungkin. Tapi alternatifnya membiarkannya bekerja diam-diam. Setidaknya kalau publik, kita bisa berdebat terbuka. Melawan terbuka. Bukan cuma melawan entitas itu, tapi melawan kecenderungan menuju hierarki yang ia wakili.”

“Kau ingin membuat ini filosofis,” kata Bara. “Abstrak. Tapi orang-orang menghilang. Prawira Yaksa hilang. Kita butuh tindakan konkret.”

Ia benar.

“Baik,” kataku. “Pendekatan dua jalur. Jalur satu: Publik. Kita ungkap apa yang kita tahu. Libatkan orang dalam percakapan soal kekuatan, hierarki, perlawanan. Jadikan ini perjuangan terbuka.”

“Jalur dua: Privat. Kita berburu. Kita temukan di mana entitas itu mewujud secara fisik. Di mana ia menahan jangkar yang terserap. Dan kita bawa mereka kembali.”

“Termasuk Prawira Yaksa?”

“Terutama Prawira Yaksa.”

Kami berpencar. Raden Jinar akan menangani pengungkapan publik, hati-hati, strategis, tanpa menyebabkan kepanikan massal. Mian Kertadi akan lanjut membangun jaringan cadangan.

Dan aku akan berburu.

Bersama Bara, Gagak Seta, dan Yuwana Sasi, aku akan melacak entitas itu. Menemukan wujud fisiknya. Menyelamatkan orang-orang kami.

Lihat selengkapnya