GEMA SANG PENGUASA LANGIT: TRILOGI TITAH AGUNG

Nuryono
Chapter #31

BAB 30: REUNI DENGAN SANG ILAHI

Lima belas tahun setelah melepaskan keilahian, Gagak Seta datang berkunjung.

Aku ada di Padepokan, meninjau pembaruan kurikulum bersama staf pengajarku, ketika ia sekadar berjalan menembus dinding. Kebiasaan lama, Sang Wanara Sakti tak pernah terbiasa memakai pintu.

“Masih pamer?” tanyaku, menyeringai.

“Selalu.” Ia terlihat sama, makhluk abadi tak menua. Tapi sesuatu di matanya berbeda. Lebih lembut. “Ada waktu?”

Kami berjalan ke pantai. Pantai kami. Tempat segalanya berubah.

“Aku sekarat,” katanya tanpa basa-basi.

Aku berhenti. “Apa?”

“Bukan hari ini. Mungkin tak sampai satu abad lagi. Tapi aku fana sekarang. Sungguh fana. Bukan rotasi, permanen.” Ia duduk di pasir, menatap laut. “Aku melepaskan keabadianku tiga bulan lalu. Belum bilang siapa pun.”

“Kenapa?”

“Karena aku sadar aku takut. Setelah tiga ribu tahun, aku mulai menghindari risiko. Bermain aman. Memperlakukan rotasi kefanaan sebagai ketidaknyamanan sementara alih-alih pengalaman sungguhan. Aku jadi... membosankan.” Ia mengucapkan kata itu seperti kutukan. “Sang Wanara Sakti, membosankan. Bukan itu diriku.”

“Jadi kau melepaskan keabadian untuk jadi menarik lagi?”

“Aku melepaskannya untuk hidup lagi. Nyata. Punya taruhan. Ketika kau tak bisa mati, tak ada yang sungguh berarti. Ketika kau bisa mati, segalanya berarti.” Ia menatapku. “Kau mencari tahu itu sebelum kami semua. Melepaskan keilahian sementara kami masih berpegang padanya. Aku butuh lima belas tahun lagi untuk mengejar.”

Aku duduk di sampingnya. “Bagaimana rasanya?”

“Menakutkan. Menggembirakan. Benar.” Ia tertawa, tawa lamanya, penuh kekacauan dan sukacita. “Tulangku sakit di pagi hari. Aku lelah setelah pertarungan panjang. Makanan terasa lebih enak. Musik terasa beda. Segalanya lebih hidup karena terbatas.”

“Tak ada penyesalan?”

“Oh, banyak. Aku mungkin akan menyesali ini setiap kali sesuatu sakit atau aku tak bisa melakukan sesuatu yang dulu kutangani mudah. Tapi penyesalan bagian dari hidup. Tak bisa dihindari tanpa menghindari hidup.” Ia menyenggol bahuku. “Ngomong-ngomong, terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Menunjukkan pada kami itu mungkin. Bahwa dewa bisa jadi manusia tanpa jadi kurang. Bahwa kefanaan adalah pertumbuhan, bukan kekalahan.” Ia berdiri, mengulurkan tangannya. “Kau mengubah kahyangan, Nak. Tapi kau juga mengubah kami. Membuat kami lebih baik. Itu lebih berharga dari otoritas ilahi apa pun.”

Aku meraih tangannya, membiarkannya menarikku berdiri. “Apa yang akan kau lakukan? Sekarang kau fana?”

“Hal sama yang kau lakukan. Mengajar. Membangun. Membuat onar ketika sistem jadi terlalu kaku.” Seringainya murni jahil. “Tapi dengan lebih banyak kerusakan properti. Aku tetap diriku, lagipula.”

“Semoga kahyangan menolong kita.”

“Kahyangan tak bisa menolong. Itulah intinya. Kita sendirian sekarang. Dan begitulah seharusnya.”

---

Dua minggu kemudian, Yuwana Sasi membuat pilihan sama.

Lalu Bara. Lalu Puspa Asih.

Satu per satu, selama lima tahun berikutnya, seluruh tim asli melepaskan keilahian mereka secara permanen. Memilih kefanaan. Memilih keberadaan terbatas.

“Kenapa?” tanyaku pada Puspa Asih di upacara pelepasan-keilahiannya (kami telah menciptakan ritual formal untuk ini sekarang, banyak dewa membuat pilihan itu). “Kau bisa mempertahankan kekuatanmu. Memakainya membantu orang.”

“Aku membantu dengan cara salah,” katanya. “Dengan kekuatan ilahi, aku bisa menyembuhkan siapa pun. Tapi itu membuat mereka bergantung. Ketika aku menyembuhkan sebagai fana, lebih lambat, terbatas, tak sempurna, aku harus mengajari orang menyembuhkan diri mereka sendiri. Membangun sistem yang tak membutuhkanku. Itu bantuan lebih baik.”

“Tapi kau akan mati. Akhirnya.”

“Ya. Dan kerjaku akan berlanjut tanpaku. Itulah tujuannya, membangun hal-hal yang tak butuh penciptanya. Membuat dirimu usang lewat kesuksesan.” Ia tersenyum. “Kau mengajariku itu. Sekarang aku menjalaninya.”

---

Dua puluh tahun setelah kefanaanku sendiri, generasi pertama jangkar terlatih-sepenuhnya-fana mulai pensiun.

Lihat selengkapnya