Waktu berlalu sangat cepat, dan Nala tidak lagi sekecil dulu. Ia sudah bisa mengeja namanya sendiri bukan cuman bisa menghitung satu sampai sepuluh. Sudah bisa memakai sepatu tanpa bantuan. Sudah bisa memahami bahwa janji adalah sesuatu yang seharusnya ditepati. Ia masih satu-satunya putri ayah. Tapi kini ia mulai mengerti lebih banyak hal. Suatu sore di akhir pekan, ayah berjanji akan mengajaknya ke taman kota. “Nanti sore kita pergi ya. Ayah nggak kerja.”
Nala mengangguk penuh semangat walaupun nala sedikit tidak enak badan saat itu . Ia bahkan sudah memilih baju sendiri sejak pagi. Kaos biru muda dengan gambar kelinci kecil. Ia menyisir rambutnya berkali-kali, memastikan pita kecilnya tidak miring. Sejak siang, ia bolak-balik bertanya.
“Yah, kita jadi pergi kan?”
“Iya.”
“Jam berapa?”
“Nanti.”