“saat satu nyawa dinantikan, ada satu hati yang perlahan bertanya, apakah kasih sayangmu menjadi seperti kue yang jika dipotong, porsinya akan sedikit?
Kabar itu datang di pagi yang biasa. Ibu memanggil Nala ke kamar, wajahnya terlihat sedikit pucat tapi tersenyum. “Nala mau punya adik.” Kalimat itu terdengar seperti hadiah. “Masa? Beneran buu?” mata Nala membesar. Ayah berdiri di dekat lemari, tersenyum tipis. “Iya. Nala nanti jadi kakak.”
Kakak….Kata itu terdengar istimewa. Penting dan Dewasa.
Sejak hari itu, Nala mulai membayangkan dirinya memegang tangan bayi kecil. Ia membayangkan mengajarinya berjalan, mengajarinya bicara. Ia bahkan memeluk perut ibu yang mulai membesar, berbisik pelan. “Adek, cepat keluar ya. Nala mau main sama adek.”
Semua terasa sangat manis. Selama ibu hamil, ayah terlihat lebih perhatian pada ibu. Ia sering melarang ibu mengangkat barang, Ia pulang membawa buah.Ia memijat kaki ibu yang bengkak. Nala melihat semua itu dengan perasaan campur aduk. Ia senang karena ibu diperhatikan. Tapi ada ruang kecil di hatinya yang terasa sedikit hampa. Ayah tak lagi menggendongnya seperti dulu. Tak lagi spontan mengajaknya keluar sore-sore. Semua perhatian seperti berpindah arah. “Sekarang ibu lagi capek, Nala jangan manja ya,” kata ibu suatu malam. Nala mengangguk. Ia tidak mau jadi anak manja.
Hari kelahiran itu datang dengan suara tangisan pertama yang keras. Nala berdiri di rumah sakit dengan tangan kecilnya menggenggam ujung baju sendiri. Ketika perawat membawa bayi mungil itu keluar, semua orang tersenyum. Ayah mendekat.Ia menatap bayi itu lama Lalu tersenyum. “Anak Ayah,” katanya pelan.
Perempuan.
Cantik.
Melihat binar mata ayah saat memeluk adik yang baru saja tiba di dunia, membuat ku masih merasa betapa besarnya cinta yang ayah simpan untuk kami. Aku terdiam dan bertanya “apakah dulu aku juga disambut sehangat ini?”. Melihatmu begitu Bahagia, aku pun ikut jatuh cinta pada cara ayah menjaga. Menjaga ibu dari hamil muda sampai waktu melahirkan. Meski kini sisa harimu serimg dihabiskan dengan lelah yang mengubahmu. Tanpa aku sadari dunia mungkin telah mencuri sedikit kehangatanmu yang dulu kumiliki, tapi melihatmu tersenyum hari ini, aku tahu ayahku masih ada disitu,
”Aku sayang ayah”