Sejak adiknya lahir, rumah tidak lagi hanya dipenuhi suara tawa. Ada suara tangisan, ada suara langkah kaki yang lebih berat. Ada nada yang tak lagi setenang dulu. Dan entah sejak kapan, setiap kali ada sesuatu yang salah…nama Nala yang pertama disebut.
“Adeknya kenapa nangis?” Nala menoleh panik. Ia bahkan sedang duduk di sudut ruang tamu, menggambar seperti biasa. “Aku nggak ngapa-ngapain…” Tapi kalimat itu tak pernah selesai. “Kamu apain adik kamu!!!?” suara ayah lebih tegas dari biasanya. Nala menggeleng cepat. Ia ingin menjelaskan bahwa ia bahkan tidak mendekat. ia hanya duduk diam. Namun suaranya terasa tertahan di tenggorokan, Air matanya lebih dulu jatuh sebelum kata-kata sempat keluar. Tangis kecilnya justru terdengar seperti pengakuan seakan akan dia memang salah. “Sudah Nala, diam!!!, jangan nangis terus,” ayah berkata dengan bentakan dan mata memerah.
Nala menunduk meneteskan air mata. Ia tidak tahu bagaimana caranya membela diri tanpa menangis. Bukan sekali itu terjadi. Gelas jatuh di dapur “Nala, kamu sih ceroboh.”Padahal yang menyenggol meja adalah gerakan tak sengaja. Mainan adik hilang “Kakaknya nggak dijagain.” Padahal mainan itu sendiri yang terlempar ke bawah sofa. Setiap kesalahan seperti punya arah. Dan arah itu selalu menuju dirinya. Awalnya Nala mencoba menjelaskan.
“Aku nggak…”
“Tadi itu…”
“Nala cuma…”
Tapi setiap kali ia membuka mulut, suaranya gemetar. Setiap kali ia ingin bicara, air mata mengaburkan kalimatnya. Lama-lama, ia berhenti mencoba. Kata “marah” mulai memiliki bentuk di kepalanya.
Marah adalah alis yang mengerut.
Marah adalah suara yang meninggi.
Marah adalah langkah kaki yang mendekat lebih cepat dari biasanya.
Marah membuat jantungnya berdebar dan embuat tangannya dingin.
Jika ayah mulai berbicara dengan nada sedikit lebih keras saja, tubuh Nala otomatis mengecil. Bahunya turun. Pandangannya jatuh ke lantai. Ia belajar membaca suasana. Belajar diam sebelum diminta. Belajar mengalah bahkan ketika ia tidak salah. Sebab bagi Nala, bentakan kecil ayah kini terasa seperti runtuhnya seluruh langit-langit kamarnya. Ia bukan hanya lagi takut pada gelap, tetapi juga takut pada suarayang dulu pernah menyanyikannya lagu tidur, kini berubah menjadi suara yang membuatnya ingin menghilang.
“menjadi kakak seringkali berarti merelakan duniamu runtuh, agar dunia orang lain tetap utuh”