Setelah kejadian di kamar mandi itu, Nala berubah. Ia tidak lagi banyak meminta.
Jika ingin sesuatu, ia simpan dulu di dalam hati.
Jika ingin pergi, ia tunggu sampai ditawari.
Jika kecewa, ia pura-pura tidak apa-apa.
Ia menjadi anak yang lebih mudah diatur. Lebih diam Dan Lebih hati-hati. Nala mulai memahami hukum rimba di rumahnya sendiri. bahwa untuk tetap aman, ia harus berhenti menjadi beban. Ia memotong bagian-bagian dari dirinya yang paling berisik, paling ceria, dan paling manja, hingga yang tersisa hanyalah sebuah cangkang kosong yang cukup ringan untuk diabaikan, namun cukup tangguh untuk menelan kesepiannya sendiri. Di titik inilah, ia tak lagi tumbuh sebagai seorang anak; ia tumbuh sebagai penjaga suasana yang rela meniadakan dirinya demi senyum orang dewasa yang mulai asing baginya.
Lima tahun telah berlalu sejak tangisan pertama yang membelah dunia Nala menjadi dua. Dari luar, rumah mereka masih berdiri tegak dengan warna yang sama, namun di dalamnya, udara terasa makin tipis dan berat. Awalnya, Nala mencoba menulikan telinga. Ia hanya sering menangkap gema suara Ayah dan Ibu yang merendah seperti bisikan badai yang berusaha ditahan agar tidak pecah. Namun, nada bicara mereka tidak lagi membawa kehangatan. ada tajam yang tersembunyi di balik kata-kata yang sengaja dipelankan. Nala belajar bahwa sunyi di rumahnya bukan berarti damai, melainkan sebuah bom waktu yang sedang berdetak di balik pintu kamar yang tertutup rapat.
Sampai suatu malam, retakan itu benar-benar menganga. Segala bisikan yang selama ini Nala takuti, tiba-tiba berubah menjadi gunting yang merobek paksa selimut pelindungnya. Semuanya terdengar begitu jelas, dan begitu menyakitkan.
“Aku cuma mau lihat ponsel kamu,” suara ibu terdengar tertahan. “Kenapa harus? Kamu nggak percaya sama aku?” suara ayah meninggi. “Aku cuma mau lihat.”
“Kamu tu terlalu curiga, aku bosan!”
Kata itu terdengar tajam. Nala yang sedang duduk di ruang tengah membeku. Ia tidak berani mendekat, tapi tidak bisa menutup telinga. Lalu ibu berkata dengan suara yang lebih pelan, tapi lebih dalam. “Aku seperti ini juga karena kamu yang pernah ngecewain aku.”
Sunyi.
Kalimat itu seperti jatuh ke lantai dan pecah. Nala mematung mendengar kata
….Pernah ngecewain aku…..