Nala tidak pernah berniat mencari. Ia hanya kebetulan melihat.
Sore itu, rumah terasa begitu asing dalam sunyi yang menekan. Ayah pulang lebih awal, meninggalkan ponselnya tergeletak di meja ruang tengah sebelum menghilang ke balik pintu kamar mandi. Ibu sedang di belakang, dan adiknya terkurung dalam dunianya sendiri di kamar. Tiba-tiba, layar itu berkedip. Satu notifikasi muncul, membelah kesunyian dengan cahaya yang terasa menyakitkan di mata Nala. Sebuah nama asing. Sebuah kalimat singkat yang terasa seperti sembilu:
“Nanti malam jangan lupa telfon aku seperti biasa ya.”
Dunia seolah berhenti berputar. Nala tidak menyentuh ponsel itu, tapi dinginnya layar tersebut seakan merambat ke ujung jari-jarinya, menjalar hingga ke ulu hati. Ia tidak perlu menjadi orang dewasa untuk tahu bahwa kata-kata itu tidak ditujukan untuk seorang teman, atau rekan kerja, atau siapa pun yang boleh ada di hidup Ayahnya. Beberapa menit kemudian, Ayah keluar dan mengambil ponsel itu dengan santai begitu tenang, begitu biasa tanpa menyadari bahwa ia baru saja menjatuhkan sebuah bom di hati putrinya sendiri.
Di detik itu, sesuatu di dalam dada Nala tidak hanya jatuh; sesuatu itu hancur berkeping-keping. Ia menyadari bahwa selama ini ia tidak sedang tinggal di sebuah rumah, melainkan di dalam sebuah sandiwara indah yang pondasinya baru saja retak tepat di depan matanya. Ayah tetaplah Ayah, tapi di mata Nala, ia baru saja berubah menjadi orang asing yang paling mengerikan."
Malam itu, Nala melihat Ayah dengan kacamata yang baru. Ia memperhatikan setiap detail yang dulu ia anggap biasa; bagaimana jempol Ayah bergerak lincah menyembunyikan layar, bagaimana sudut bibirnya terangkat secara rahasia, dan bagaimana ia meledak hanya karena pertanyaan sederhana dari Ibu. Potongan-potongan itu kini menyatu, membentuk gambaran yang menjijikkan. Kalimat Ibu kembali berdenging: "Pernah ngecewain aku."
Ternyata, "pernah" bukan berarti sekali. Nala menunggu hingga dunia cukup sunyi sebelum ia membisikkan pengakuannya di dapur. Namun, reaksi Ibu justru menghancurkan hati Nala lebih dalam. Ibu tidak kaget. Ia hanya terlihat seperti seseorang yang baru saja ditikam di tempat luka yang sama.
“Sejak kamu masih di perut, Ayahmu sudah begitu.”