Gema Terakhir di Lantai Rumah

Sy. Ghina Alifatunnisa
Chapter #7

KETIKA HIDUP HAMPIR BERHENTI

Sejak kalimat ibu yang mengakui, “Itu bukan yang pertama kali,” sesuatu di dalam diri Nala telah mati dan lahir kembali sebagai sesuatu yang asing.

Ia mulai menyimpan marah.

Bukan amarah yang meledak-ledak atau teriakan yang memecah langit. Amarah Nala adalah amarah yang membisu; jenis kemarahan yang tumbuh pelan setiap kali ia menyaksikan Ibu memoles wajahnya dengan senyum palsu demi menutupi luka yang menganga. Setiap kali ia melihat Ayah duduk tenang di kursinya, menyeruput kopi seolah tangan itu tidak pernah menghancurkan apa pun, Nala merasa ada sesuatu yang bergejolak di dadanya. Ibu terlalu baik untuk dunia yang sejahat ini. Ia tetap memasak, tetap merapikan pakaian pria yang mengkhianatinya, dan tetap membiarkan dirinya diperlakukan seperti pajangan yang tak punya rasa. Nala mungkin belum paham semua kerumitan dunia, tapi ia tahu satu hal yang pasti.  Ketulusan ibunya adalah sesuatu yang tidak pantas diterima oleh ayahnya. Itu tidak adil. Sangat tidak adil.

Malam itu, badai datang tanpa peringatan.

Buku matematika terbuka di depan Nala, tapi angka-angka itu tampak seperti semut yang berlarian, buram dan tak berarti. Pikirannya terseret pada suara-suara yang mulai merayap dari balik pintu. Awalnya hanya gesekan kata yang pelan. Lalu, suara itu meninggi, merobek keheningan malam yang semu.

“Aku capek terus-terusan begini!” suara Ibu pecah. Bukan lagi tertahan, kali ini suara itu terdengar seperti jeritan dari dasar sumur yang sudah terlalu lama penuh. “Kamu yang selalu cari masalah!” balas ayah. 

Nala membeku di tempatnya. Bunyi benda keras yang menghantam lantai itu bukan sekadar denting gelas yang pecah. itu adalah bunyi sebuah pertahanan yang runtuh. Ia baru saja hendak melangkah keluar saat pintu kamarnya dibanting tertutup. Suara klik yang dingin itu mengunci dunianya dalam kegelapan.

“Ayah?” Suara Nala nyaris tak keluar. Ia memutar gagang pintu berkali-kali, namun logam itu tetap keras kepala. Ia terjebak. Di luar sana, suara pertengkaran berubah menjadi badai yang siap meratakan rumah mereka. Nala merosot, terduduk di balik pintu, memeluk lutut kecilnya sendiri seolah itu adalah satu-satunya perlindungan yang ia miliki.

Lalu, kalimat itu terdengar. Kalimat yang lebih tajam dari sembilu mana pun:

“Bunuh aja! Bunuh semaumu!” jerit Ibu, suaranya parau oleh keputusasaan yang sudah sampai di ujung nyawa. Darah Nala seolah berhenti mengalir. Dunianya seketika miring saat suara kemarahan Ayah meledak lebih dahsyat.

“OH BERANI MELAWAN KAU!!!”

Lihat selengkapnya