Sejak malam yang suram itu, Ibu berubah. Ia tidak menjadi lebih keras, tidak juga tampak lebih lemah. Ia hanya menjadi... lebih pasti. Seperti seseorang yang baru saja melewati api dan tidak lagi takut pada panasnya. Beberapa hari setelah Ayah datang dan pergi tanpa penyesalan, Ibu mulai sering pergi bersama Om. Nala hanya bisa menebak-nebak di balik pintu, namun ia tahu ada sesuatu yang sedang diputus paksa. Hingga suatu sore, sebuah map cokelat tergeletak di atas meja makan. benda tipis yang terasa lebih berat daripada seluruh perabotan di rumah itu.
“Apa itu, Bu?” tanya Nala. Suaranya tenggelam dalam keheningan ruang makan.
Ibu menatap Nala dengan sorot mata yang sudah kehilangan keraguan. “Surat gugatan cerai,” jawabnya pendek. Kata itu meledak di udara. Cerai, Sebuah kata yang selama ini hanya Nala dengar di televisi, kini menjadi garis batas yang membagi hidupnya menjadi "sebelum" dan "setelahnya". Jantung Nala berdebar, bukan karena ia ingin kembali, tapi karena ia menyadari bahwa potongan-potongan hidupnya tidak akan pernah bisa utuh lagi.
“Jadi… kita nggak akan pulang?” Nala berbisik, seolah-olah kata "pulang" masih memiliki tempat untuk mereka. Ibu mengelus kepala Nala, jemarinya terasa dingin namun mantap. “Kita akan punya rumah yang tenang,” jawab Ibu. Jawaban itu jujur, namun pahit. Ibu tidak menjanjikan kebahagiaan, ia hanya menjanjikan kesunyian tanpa teriakan. Bagi Nala, itu adalah sebuah kesepakatan yang mengerikan: Ia mendapatkan kedamaian, tapi ia harus kehilangan sosok Ayah meski sosok itu adalah orang yang hampir menghancurkan mereka.
Surat itu dikirim ke rumah ayah. Hari pertama, sunyi. Hari kedua, hening. Hari ketiga, tetap tak ada suara. Ayah membiarkan surat itu membeku di atas meja, tidak menandatanganinya, tidak pula membuangnya. Ia membiarkan Ibu digantung dalam ketidakpastian yang menyiksa. Nala menyadari bahwa diamnya Ayah adalah senjata baru. cara lain untuk tetap memegang kendali atas hidup mereka meski ia tak lagi ada di sana.