Gema Terakhir di Lantai Rumah

Sy. Ghina Alifatunnisa
Chapter #9

JANJI YANG BERKARAT

Ibu akhirnya menerima. Setelah berhari-hari keluarga besar berkumpul, setelah berjam-jam mereka membedah luka yang merekah, keputusan itu tetap jatuh pada kata yang paling mengerikan. ’Bertahan’. Keluarga Ibu, dengan segala pertimbangan moral dan ketakutan akan status janda, dan ibu takut kebutuhan kami tidak tercukupi kalau hanya ibu yang bekerja. akhirnya membiarkan Ibu kembali ke pelukan pria yang hampir merenggut nyawanya. "Demi anak-anak," kata mereka. Sebuah kalimat yang terdengar seperti doa, namun bagi Nala, itu terdengar seperti penjara seumur hidup.

Beberapa tahun berlalu dengan suasana yang sama namun terasa berbeda. Ayah memang tidak lagi mengayunkan parang, tapi ia membawa senjata bar. Ketidakpastian. Rumah itu terjebak dalam siklus yang melelahkan. Ada masa-masa tenang di mana Ayah bersikap manis, yang kemudian diikuti oleh perkelahian-perkelahian "ringan". begitu orang dewasa menyebutnya meski bagi Nala, bentakan sekecil apa pun tetap terasa seperti guruh yang merobek langit-langit kamarnya.

Hingga suatu hari, kabar itu datang lagi. Ibu mengandung, Ibu menanam harapan baru di dalam rahimnya, percaya bahwa kehadiran nyawa mungil ini akan menjadi obat penawar bagi racun yang sudah menyebar di fondasi rumah mereka. Ia berharap bayi itu adalah jangkar yang akan menahan emosi Ayah agar tidak lagi meledak. Hari adik kecil itu lahir, suasana rumah sempat terasa hangat. Ayah menggendongnya dengan sapaan lembut, sebuah pemandangan yang membuat siapa pun percaya bahwa badai telah benar-benar berlalu.

Namun, waktu adalah pengkhianat.

Aku tumbuh menjadi remaja yang terasing di rumah sendiri. Aku mulai paham bahwa kebahagiaan kami hanyalah dekorasi yang bergantung pada mood Ayah. Jika ia senang, kami boleh tertawa. Jika ia marah, kami harus menghilang. Di saat perhatian Ibu sepenuhnya terserap oleh bayi yang butuh segalanya, aku mulai merasa seperti bayangan. Kamar yang seharusnya menjadi tempatku beristirahat, justru berubah menjadi tempatku bersembunyi dari dunia luar yang berisik dan dunia dalam yang mencekam. Bahkan saat aku mencoba jujur pada Ibu tentang betapa lelahnya aku, jawabannya selalu menjadi belati yang lebih tajam: "Emangnya kamu capek ngapain?". Ibu juga capek pulang kerja terus ngurusin kalian dirumah.

Malam itu, setelah aku menyaksikan Ayah membentak Ibu tanpa alasan yang masuk akal, tanganku gemetar hebat. Dengan sisa keberanian yang kukumpulkan dari reruntuhan harga diriku, aku mengetik pesan untuknya. Aku hanya ingin ia sadar bahwa anak-anaknya bukan lagi balita yang bisa dibohongi dengan permen. Kami adalah saksi bisu yang sedang mencatat setiap dosanya. Namun, balasannya justru membunuh sisa-sisa harapanku sebagai seorang anak.

 "Dasar anak jin. Berani-beraninya kau bilang seperti itu. Kau sama aja seperti ibumu, nggak ada gunanya. TUNGGU AKU PULANG, HABIS KAU!!!!"

Dunia seperti berhenti berputar. Kalimat itu bukan sekadar kata-kata.  itu adalah pengakuan bahwa bagi Ayah, aku hanyalah sampah yang kebetulan memiliki darahnya. "Anak jin" sebuah sebutan yang memastikan bahwa di rumah ini, aku tidak pernah dianggap sebagai manusia.Hatiku terasa seperti kaca yang dijatuhkan ke lantai. Aku berdiri di depan cermin, menatap sosok yang gemetar namun tak mau menyerah. Mataku sembab, tapi ada api kecil yang mulai menyala di sana. Aku benci Ayah. Aku benci bagaimana dia bisa tidur dengan tenang setelah melemparkan kata-kata yang menghancurkan jiwaku.

Lihat selengkapnya