Setelah malam di mana keberanianku meledak, Ayah memutuskan bahwa aku tidak lagi layak untuk ada. Ia marah besar, suaranya hari itu bukan sekadar mengancamku dengan pukulannya tapi dia mengguncang dinding rumah, meruntuhkan seluruh harga diriku. Ia mengutukku dengan sumpah yang paling busuk. bahwa kelak, aku akan mendapatkan laki-laki yang sama bajingannya seperti dia.
Sejak saat itu, namaku dihapus dari kamus hidupnya. Saat ia menelepon dari luar kota, suaranya terdengar begitu hangat saat menanyakan kabar adik-adikku. Aku duduk hanya beberapa meter dari ponsel itu, membeku dalam diam, menunggu namaku disebut meski hanya satu suku kata. Tapi tidak pernah ada. "Nala gimana?" adalah kalimat yang haram baginya.
Aku menjadi bayangan di rumahku sendiri. Bahkan dalam urusan uang jajan, ia memastikan aku tahu bahwa aku bukan lagi tanggung jawabnya. Ia mengirimkan uang untuk semua orang, kecuali aku. Bukan soal nominalnya yang membuatku hancur, tapi pesan tersirat di baliknya: Kau sudah mati bagiku. Aku tidak pernah protes. Aku menelan semua harga diriku, bekerja apa saja yang aku bisa untuk menyambung hidup dan mengurangi beban mereka, meski hatiku berdarah setiap kali melihat mereka tertawa seolah-olah kursi tempatku duduk itu kosong.
Aku menjadi ahli dalam membaca cuaca buruk. Sebelum badai benar-benar datang, kulitku sudah merasakannya. Aku menjadi perempuan yang selalu waspada, bernapas dengan sangat pelan agar tidak memicu ledakan. Aku tidak memiliki ruang untuk bercerita, karena di rumah ini, suaraku adalah dosa.. Karena setiap kali aku mencoba bersuara, suaraku justru menjadi alasan untuk dihapus.
Jadi aku memilih diam.
Diam yang panjang.
Diam yang perlahan berubah jadi kebiasaan.
Diam yang akhirnya terasa seperti kepribadian.
“rumah ini Adalah kuburan bagi suaraku.dan ayah Adalah penjaga makam yang memastikan aku tetap terkubur hidup-hidup dibawah tumpukan pengabaiannya”.