Gema Terakhir di Lantai Rumah

Sy. Ghina Alifatunnisa
Chapter #12

PERCAYA LAGI, LUKA LAGI

Aku melangkah masuk ke gerbang SMA dengan sebuah harapan yang aku simpan rapi di saku seragam. Aku ingin bernapas. Dan untuk sesaat, semesta seolah-olah kasihan padaku. Di luar pagar rumah yang menyesakkan itu, aku menemukan sebuah dunia yang tidak memiliki aroma ancaman. Di sekolah, tawaku pecah tanpa perlu aku sensor. Aku mencintai aroma kantin yang riuh, suara bel yang membebaskanku dari keheningan, dan obrolan dua jam di pinggir jalan yang hanya ditemani segelas es teh plastik. Bagiku, itu bukan sekadar "nongkrong"; itu adalah ritual penyembuhan.

Aku mulai merasa memiliki "rumah" lain. Sebuah rumah yang tidak tergantung pada mood seseorang yang bisa meledak kapan saja. Sebuah rumah yang pondasinya dibangun dari tawa-tawa remeh tentang guru killer atau crush yang tak kunjung peka. Aku merasa hidup. Aku merasa... manusia. Namun, kebahagiaan bagi anak seperti aku ternyata selalu memiliki tanggal kedaluwarsa.

 “Kenapa pulang lama, Perempuan bodoh!! Ga usah keluar lagi.” Suara itu menyambutku di pintu, memutus aliran oksigen yang baru saja kukumpulkan di luar.

Ayah kembali menaikkan nada suaranya, dan Ibu, yang seharusnya menjadi pelindungku, justru ikut menyeret kakiku kembali ke dalam lumpur. Mereka menuduhku perempuan bodoh yang lupa rumah. Mereka tidak pernah tahu bahwa aku tidak sedang "keluar rumah", aku sedang "melarikan diri dari penjara". Setiap kali aku mencoba membuka mulut untuk membela diri, badai di dadaku selalu menang. Air mata jatuh lebih cepat dari kata-kata, membuatku terlihat lemah dan salah. Aku masuk kamar, mengunci pintu, dan membiarkan kalimat-kalimat pembelaanku membusuk sendirian di bawah bantal.

Di tengah kesunyian itu, aku mencari validasi di tempat lain. ‘Akademik;’. Aku tidak cari muka, aku hanya ingin merasa "ada". Hingga seorang guru mulai sering menyebut namaku, memuji konsistensiku di depan kelas, dan memintaku menjadi contoh bagi yang lain. Saat itu, aku merasa bangga. Aku merasa cukup. Namun, aku lupa satu hal “Remaja adalah makhluk yang paling mahir menyembelih temannya sendiri dengan keheningan.”

 Pujian guru itu ternyata adalah racun yang disuntikkan ke dalam pertemananku. Pelan tapi pasti. Grup WhatsApp yang biasanya bising menjadi sunyi setiap kali aku muncul. Rencana-rencana besar dibuat di belakangku, seolah-olah namaku sudah dicoret dari daftar kehidupan mereka. Jika aku mendekat, percakapan mendadak berubah arah. Mereka menatapku dengan tatapan yang seolah berkata, "Kau bukan bagian dari kami lagi." Aku dicap sebagai "penjilat", "sok baik", dan "pencari muka". Dan puncaknya, sebuah kalimat dari mereka yang menghancurkan seluruh benteng pertahananku: 

“Di antara kalian, cuma Nala yang baik.”

 Kalimat itu terdengar seperti pujian bagi orang awam, tapi bagiku, itu adalah lonceng kematian. Kalimat itu adalah cara mereka mengasingkanku secara permanen. Sejak detik itu, kebaikanku adalah dosaku. Aku bukan lagi teman. aku adalah standar yang mereka benci. Aku adalah pengingat akan kekurangan mereka.

  Aku kembali sendirian. Di rumah aku dianggap musuh oleh Ayah, dan di sekolah aku dianggap asing oleh teman-teman. Aku berdiri di tengah-tengah dunia yang luas, namun tidak menemukan satu inci pun tanah yang bisa kuanggap sebagai tempat "pulang".Aku jadi ancaman. Aku sadar mereka memutuskan untuk menjauh dariku. Tiba-tiba, duniaku menyempit hingga hanya seukuran meja belajarku.

 Aku di-cut off tanpa penjelasan. Namaku menjadi konsumsi di balik punggung, diolah menjadi cerita-cerita yang tidak pernah aku lakukan. Aku berjalan di koridor sekolah dengan perasaan yang ganjil. sekelilingku sangat ramai, suara tawa pecah di mana-mana, tapi di telingaku, semuanya hanya terdengar seperti dengung kesunyian. Aku ada, tapi aku tidak terlihat. Yaa sama seperti ibu . Aku mulai menjadi ahli dalam sandiwara harian..Aku duduk di kelas, pura-pura sangat sibuk mencatat sesuatu yang tidak penting. Aku menghabiskan waktu istirahat dengan menatap layar ponsel, scrolling tanpa tujuan hanya agar tanganku terlihat melakukan sesuatu hanya agar aku tidak terlihat menyedihkan karena duduk sendirian.

 Di titik ini, aku merasa semesta sedang mempermainkanku. Di rumah, aku kehilangan ketenangan. Di sekolah, aku kehilangan tempat pelarian. Aku mulai bertanya-tanya pada langit. Kenapa setiap kali aku menyentuh kebahagiaan, ia selalu menguap sebelum sempat kunikmati? Kenapa aku tidak pernah diizinkan memiliki sesuatu yang abadi? Luka dari teman ternyata memiliki rasa sakit yang berbeda. Jika orang tua menyakitimu, ada tameng "kewajiban" yang membuatmu bertahan. Tapi ketika teman yang kau pilih sendiri sebagai rumah memutuskan untuk mengusirmu, rasanya seperti kau baru saja ditolak oleh seluruh dunia seusiamu. Kamu merasa tidak cukup "asik", tidak cukup "layak", atau bahkan tidak pantas untuk sekadar dianggap "ada".

 Aku ingin meledak, aku ingin teriak bahwa aku tidak pernah merasa lebih baik dari mereka. Tapi yang kulakukan hanya menangis di bilik toilet sekolah yang dingin. Aku terbiasa menjadi kuat sejak kecil, tapi ternyata itu tidak menjadikanku kebal. Menjadi kuat sejak kecil hanya membuatku menjadi wadah yang lebih besar untuk menampung rasa sakit, sampai akhirnya wadah itu retak.

 

“Jika keluarga adalah penjara, dan teman adalah pengkhianatan, lalu kepada siapa aku harus pulang? Siapa yang akan memilihku tanpa menuntutku menjadi sempurna?”

Lihat selengkapnya