Pagi itu, langit tampak mendung, seolah tahu bahwa beban di pundak Nala Valeria sudah mencapai batasnya. Nala menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi yang sedikit berembun. Wajahnya tidak lagi segar. Ada rona pucat yang tidak sehat di bawah matanya, dan bibirnya yang biasanya merah muda kini tampak pecah-pecah kebiruan. Ia mencoba memulas sedikit bedak, berharap bisa menutupi warna kulitnya yang kian hari kian kehilangan cahaya. Namun, saat jemarinya menyentuh tulang pipi, ia meringis. Rasa linu itu kembali lagi. Bukan hanya di pipi, tapi di seluruh sendi-sendinya. Rasanya seolah-olah sumsum tulangnya sedang diaduk oleh kawat pijar.
"Nala! Cepat keluar! Kamu mau sekolah atau mau bertapa di dalam?" teriakan Ayah dari ruang makan membuat Nala tersentak.
Suara itu, yang biasanya membuat Nala gemetar ketakutan, kini terasa seperti hantaman godam di kepalanya. Setiap frekuensi tinggi dari bentakan Ayah memicu denyut nadi di pelipisnya bekerja dua kali lebih cepat. Nala memegang pinggiran wastafel, menarik napas dalam-dalam untuk meredakan rasa pusing yang tiba-tiba menyerang. Tiba-tiba, sesuatu yang hangat mengalir dari lubang hidungnya. Nala menyentuhnya dengan ujung jari. Merah. Kental. Darah itu menetes ke keramik putih wastafel, menciptakan noda kontras yang mengerikan.
"Lagi..." bisiknya lirih, suaranya bergetar.
Dengan cekatan yang lahir dari kebiasaan beberapa minggu terakhir, Nala menyambar gulungan tisu. Ia menyumbat hidungnya, lalu mengguyur wastafel dengan air hingga tak ada sisa merah yang tertinggal. Ia menatap gumpalan tisu berdarah di tangannya. Harusnya ia takut. Harusnya ia berteriak memanggil Ibu. Tapi di telinganya, suara piring pecah dan makian Ayah kepada Ibu di ruang sebelah terdengar lebih mendesak.
"Rumah ini sudah terlalu penuh dengan luka Ibu," batin Nala sambil meremas tisu berdarah itu kuat-kuat. "Jika aku menambah satu lagi kabar buruk, rumah ini akan runtuh. Aku tidak boleh menjadi beban. Aku harus tetap menjadi Nala yang kuat, Nala yang tidak terlihat."
Ia membungkus tisu itu dengan plastik kecil yang sudah ia siapkan, menyelipkannya di dasar tas sekolah di bawah tumpukan buku, agar tidak ada yang menemukannya di tempat sampah rumah. Saat ia keluar, ia melihat Ibu sedang menunduk, membersihkan pecahan gelas di lantai sementara Ayah berdiri dengan napas memburu, masih memegang koran dengan sisa amarah di wajahnya. Nala melewatinya dengan kepala menunduk. Tidak ada sapaan, tidak ada pelukan keberangkatan. Hanya keheningan yang mencekam.
Di sekolah, kondisi Nala tidak membaik. Saat jam olahraga, ia hanya duduk di pinggir lapangan, memandangi teman-temannya yang berlari dengan ceria. Kakinya terasa berat seperti ditahan batu. Sebuah memar besar berwarna ungu kehitaman muncul di tulang keringnya, padahal ia yakin tidak menabrak apa pun kemarin.