Lorong rumah sakitsaat itu terasa begitu panjang, dingin, dan asing. Cahaya lampu neon yang putih pucat memantul di lantai keramik yang steril, menciptakan suasana yang mencekam. Ayah duduk bersimpuh di lantai, membiarkan dinginnya ubin meresap ke dalam kulitnya. Ia tidak lagi peduli dengan langkah kaki perawat yang terburu-buru atau tatapan kasihan dari orang-orang yang lewat. Dunianya baru saja runtuh.
Kata-kata dokter di dalam ruang unit gawat darurat tadi terus terngiang-ngiang di kepalanya seperti kutukan yang berulang tanpa henti: “Benturan itu memicu pendarahan hebat karena kondisi sel darahnya yang sudah sangat buruk. Kenapa baru dibawa sekarang? Pasien menderita Leukemia stadium lanjut.”
Setiap kata itu terasa seperti sembilu yang menyayat jantungnya. Ayah menjambak rambutnya sendiri dengan kuat, mencoba mengalihkan rasa sakit di dadanya. Penyesalan datang terlambat dan menghantamnya tanpa ampun. Dorongan itu... ia benar-benar tidak bermaksud mencelakai Nala. Namun, egonya yang setinggi gunung dan amarah yang selalu ia pelihara telah membutakannya. Ia telah mendorong putrinya sendiri darah dagingnya yang selama ini ia abaikan tepat menuju ambang kematian. Ia merasa tangannya kini kotor, berlumuran dosa yang mungkin tak akan pernah bisa dibilas.
Dua belas jam berlalu dengan siksaan ketidakpastian. Waktu seolah berhenti berputar di koridor itu sampai akhirnya Nala melewati masa kritis pertamanya. Saat perawat mengizinkan Ayah masuk ke ruang perawatan, langkahnya terasa sangat berat, seolah kakinya terikat timah. Di dalam, pemandangan itu menghancurkan sisa-sisa pertahanan egonya. Nala tampak begitu kecil dan ringkih di atas ranjang putih yang lebar. Tubuhnya yang pucat dipenuhi dengan kabel-kabel monitor dan selang infus yang menusuk kulitnya yang transparan. Bunyi mesin jantung yang ritmis menjadi satu-satunya pengisi kesunyian.
Ayah mendekat, berlutut di samping ranjang agar wajahnya sejajar dengan putri kecilnya. "Nala..." bisik Ayah tepat di telinga Nala, suaranya pecah dan bergetar hebat. "Bangun, Nak... Ayah di sini. Ayah minta maaf. Ayah janji, demi Tuhan, Ayah nggak akan marah lagi. Ayah akan berubah... Ayah mohon, bangunlah..."