Malam itu, kamar Nala terasa begitu hangat. Tidak ada lagi bau yang menyengat atau bunyi mesin monitor jantung yang kaku. Hanya ada aroma terapi Jasmine kesukaan Nala yang menguar lembut di kamarnya, bercampur dengan bau minyak kayu putih yang biasa Ibu usapkan di punggungnya. Lampu kamar dimatikan, digantikan oleh cahaya temaram dari lampu tidur di sudut meja, menciptakan bayangan-bayangan lembut di dinding yang dipenuhi gambar-gambar impian Nala.
Nala berbaring damai di ranjangnya sendiri, di bawah selimut rajutan Ibu yang berwarna pastel. Boneka biru pemberian Ayah terdahulu didekap erat di dadanya. Wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibandingkan saat di rumah sakit, seolah semua rasa sakit yang selama ini menderanya telah menguap begitu kakinya melangkah melewati pintu rumah. "Yah... Bu..." suara Nala sangat pelan, nyaris tak terdengar, seperti bisikan angin di sela-sela daun.
"Iya, Nak? Ibu di sini, sayang," sahut Ibu dari sisi kiri ranjang, suaranya bergetar menahan tangis. Ibu sedang mengusap rambut Nala dengan lembut, memberikan sentuhan paling menenangkan yang ia bisa. Ayah duduk bersimpuh sambil memeluk Nala di sisi kanan ranjang, memegang tangan Nala yang dingin dengan kedua tangannya, seolah ingin menyalurkan seluruh sisa kehangatan tubuhnya pada Nala. Penyesalan masih ada, namun kini tertutup oleh rasa syukur yang amat sangat karena Tuhan masih memberinya kesempatan untuk membawa Nala pulang ke tempat yang paling diinginkannya.
"Hangat..." bisik Nala. Ia menutup matanya, membiarkan kantuk yang damai mengambil alih. Senyum tipis masih menghiasi wajahnya.
Ayah dan Ibu tidak berani beranjak. Mereka duduk berjaga, bergantian menciumi kening Nala, membisikkan doa-doa penuh cinta. tidak ada lagi suara keras di rumah malam ini. Keheningan yang sangat pekat namun menenangkan menyergap kamar itu. Nala tidur dengan sangat nyenyak. Malam itu, di kamar yang tenang dan penuh cinta, Nala, sang pejuang kecil, tidur dalam pelukan orang tuanya. Ia telah memenangkan pertempurannya, bukan melawan penyakitnya, tapi melawan luka yang selama ini merobek keluarganya.
Pagi tiba dengan perlahan. Sinar matahari keemasan menerobos masuk melalui celah gorden, menerangi wajah damai Nala. Ayah bangun lebih awal. Ia teringat janji Nala dulu, ingin makan mi ayam buatannya. Ayah tersenyum kecut. Ia melangkah ke dapur, dengan hati-hati menyiapkan mie, bumbu-bumbu, dan ayam suwir, sama seperti resep yang dulu pernah ayah ajarkan kepada Nala. Bau harum mi ayam buatannya menguar di seluruh rumah, aroma yang penuh harapan dan penyesalan.
Ayah membawa semangkuk mie ayam hangat ke kamar Nala. Ibu sudah bangun dan sedang duduk di samping ranjang, menatap Nala dengan pandangan yang aneh kosong namun penuh rasa takut. "Nala... Nala sayang, bangun yuk?" Ayah memanggil dengan lembut, meletakkan mangkuk di atas meja. "Ayah sudah buatkan mi ayam kesukaan Nala. Bau harumnya enak lho, Nak."
Tidak ada jawaban. Wajah Nala masih sama tenangnya, senyum tipis itu masih ada. ibu menggenggam tangan Nala yang terasa sangat dingin, jauh lebih dingin dari kemarin. Keheningan yang menyakitkan tiba-tiba menyergap kamar itu. Boneka biru itu masih didekap erat, namun pemiliknya telah pergi ke tempat yang lebih baik dalam tidurnya.
"Nala? Nala? Bangun, sayang..." Ibu memanggil, suaranya pecah, lalu berubah menjadi tangisan histeris saat menyadari putrinya telah tiada. Ia memeluk tubuh Nala yang kaku, menciumi wajahnya yang pucat. Ayah membeku. Mangkuk mi ayam itu jatuh ke lantai, isinya tumpah berantakan. Ia melampiaskan pukulannya ke dinding kamar sambil teriak, penyesalan dan rasa bersalah yang amat sangat kembali menghantamnya tanpa ampun. Ia telah mendorong putrinya menuju kematian, dan meskipun ia telah menepati janjinya, waktu telah habis. Ia tidak akan pernah bisa melihat Nala menikmati mi ayam buatannya, tidak akan pernah bisa mendengar suaranya yang parau, tidak akan pernah bisa meminta maaf secara langsung.
"Maafin Ayah, Nala... Maafin Ayah..." tangis Ayah pecah, ia menyembunyikan wajahnya di sprei kasur Nala.
Malam itu, di kamar yang tenang dan penuh cinta, Nala, sang pejuang kecil, telah menemukan kedamaian yang abadi dalam tidurnya. Ia telah memenangkan pertempurannya, dan cintanya akan terus hidup dalam setiap perubahan positif yang ia tinggalkan di hati kedua orang tuanya.
“Kehadirannya yang jarang di rumah bukan sebuah kehilangan, melainkan hadiah dari semesta agar kamu bisa tumbuh tanpa bayang-bayang ketakutan. Nikmatilah sunyi itu sebagai musik paling damai yang pernah kamu dengar."
"Nala menutup bukunya, mematikan lampu kamar, Katakan pada anak kecil di dalam dirimu yang dulu sering menangis di pojok kamar. Terima kasih sudah bertahan. Sekarang giliranku yang menjagamu. Kita sudah sampai di tempat yang aman.”