
DALAM NAUNGAN GULITA, seorang nelayan muda mengayuh sekoci mungilnya. Keganasan samudra telah digdaya meluluh-lantakkan bahteranya. Para nelayan di pulau Palada percaya, bahwa perairan lepas yang terbentang di belahan Tenggara, suatu kala, bisa menjelma medan marabahaya. Kendati segala peristiwa selalu berpulang pada kehendak Shamasta(1), tak semestinya seorang nelayan jelata macam dirinya ceroboh terlena hingga bertemu malapetaka.
Tatkala malam merambah sepertiga, malapetaka itu tiba tak terkira. Bahtera bermuatan ikan yang ditumpanginya karam dihantam lamun samudra. Terpujilah Shamasta, nasib mujur masih menyertai sang nelayan muda. Terpujilah Shamasta yang menganugerahi akal budi dan menuntunnya untuk menghambur ke arah galangan sekoci. Alhasil, ketika bahtera itu raib diterjang ombak, ia menjadi satu-satunya jiwa yang terapung di muka samudra.
Dalam remang gulita dan lebat hujan, pemuda itu tak berkecil harapan. Sepasang lengannya tetap beringsut mendayung sekoci sampan, terus berjibaku demi berjumpa dengan daratan. Beribu kali napas terembus dari hidung dan mulutnya yang kucam. Beratus kali dayung sampan terkayuh dengan entakan gemas nan geram.

Di tengah jerih yang terupaya, selintas asa merekah di hati sang nelayan muda. Di antara deru badai yang garang, perut kecil sekoci sampan menyenggol seonggok batu karang. Tak pelak, wajah sang nelayan pun berbinar terang.
Itulah sebuah pertanda, bahwa hamparan yang terarungi mulai mendangkal. Itulah sebuah pertanda, bahwa ia telah memasuki kawasan darat yang berkarang terjal. Itulah sebuah pertanda, bahwa doa dan kegigihannya telah menyentuh batin dewa-dewi Shamasta yang bermukim di alam kekal.
Demi menyambut keajaiban, sang nelayan muda kian memacu arah menuju selatan. Secara berulang, kelopak matanya terpicing menembus pekat kegelapan. Hingga akhirnya, ketika pandangannya lebih terang, sebentuk harapan mulai muncul dari kejauhan.
"Pasir putih," batin sang nelayan muda, dengan sebuncah asa yang bergelora.
Tak ayal, pria yang usianya jauh belia itu bergairah. Tak lantas terlena dengan asa di depan mata, ia kembali menggeber dayungnya yang berulang kali harus terhalang kerubut benda padat. Di hamparan yang mulai mendangkal, banyak bermunculan bebatuan karang dengan jarak yang teramat rapat. Perairan penuh batu yang tumpat itu nampaknya cukup sulit dilampaui dengan laju yang cepat.
Merasa sudah kewalahan, sang nelayan muda mulai hilang kesabaran. Dengan sewenang-wenang, dayung sampan yang setia menemani perjuangan pun ia lemparkan. Kemudian, seraya mempertahankan keseimbangan, ia mulai menegakkan badan. Lalu, terjunlah ia di antara kepungan karang, menyusuri celah-celah bebatuan.

Maka, beruntunglah sang nelayan muda. Debur ombak yang merongrongnya tak lagi perkasa. Maka, bersyukurlah ia kepada dewa-dewi Shamasta, atas anugerah bakat alami untuk bertahan hidup di wilayah samudra. Berterima kasih-lah ia karena terlahir sebagai nelayan Palada, yang terbiasa berkawan dengan ganas samudra. Maka, sebagai timbal balik yang sempurna, Shamasta mengantarkannya menuju sebuah daratan berbulir pasir yang terpencil di perairan Tenggara.
"Ppp... puji Shamasta ... dan Sheitz(2) yang ... agung.... Pppp... puji Shamasta ... dan ... Sss... Sheitz ... yang agung...," rapal sang pemuda, terbata-bata, sembari merangkak di bibir daratan yang sesungguhnya masih antah-berantah baginya.
Dengan tertatih, pemuda itu mengayunkan sepasang lengannya yang letih. Bak mulai kehilangan segala daya, ia merangkak lamban, berusaha menjauhkan diri dari jangkauan ombak di bibir daratan. Akhirnya, segera usai mencapai titik aman, ia pun merebah dengan sangat nyaman.

Bersamaan dengan itu, seberkas sinar jingga mengintip dari cakrawala. Pagi buta baru saja menyapa gugusan pulau di perairan Tenggara. Badai durjana yang menggempur sebelumnya kini telah menjelma rintik gerimis. Angin laut, yang semula bengis, kali ini mengalun dengan embusan yang sangat isis.
"Puji ... Sss... Shamasta ... dan Sss... Sheitz ... yang a... agung ... Ppp... puji Shamasta ... dan Sss... Sheitz yang ... agung ...," rapal sang nelayan lagi, masih saja terbata-bata hingga berulang kali.
Tak berapa lama, tubuh pria belasan kemarau itu melemah seketika. Hawa dingin yang menggelayuti kelopak matanya sedemikian digdaya. Hamparan pasir yang membungkus pulau antah-berantah itu seolah berubah menjadi ranjang istana, tetapi dengan wujud yang sederhana. Sang pemuda terbuai dalam lelap yang datang dengan damai sentosa. Maka, ia pun tertidur untuk waktu beberapa lama.
