Genderang Khatulistiwa

Wahyu Zaenudin
Chapter #2

1. Sang Penakluk Hiu


TENGAH hari itu, terik Sham(3), sang raja cahaya, demikian perkasa menyiangi seluruh penjuru kota Baghar(4). Kota yang terhampar di pesisir selatan pulau Palada dan akrab dengan kibar panji hitam berlambang gurita itu tengah diterpa cuaca panas yang mencapai puncaknya. Bahkan, air laut di sekitar dermaga kota pun nyaris dibuat mendidih karenanya.

Akan tetapi, bagi masyarakat pulau Palada yang berada di provinsi Kepulauan Timur(5), masa-masa itu justru menjadi periode yang sangat menyenangkan. Para penduduk di provinsi paling timur negeri Haaras itu justru senantiasa menyambut musim panas dengan penuh keceriaan. Di tengah cuaca nirhujan yang melanda, para nelayan, terutama mereka yang bermukim di pesisir kota Baghar, akan jauh lebih bersemangat menebar sauh ke tengah lautan.


Bermukim di wilayah perairan, pencaharian sebagian besar penduduk Kepulauan Timur adalah dengan menjadi nelayan. Bagi mereka, musim panas merupakan berkat yang selalu dinanti-nantikan. Sebaliknya, pada musim basah, tak banyak nelayan yang berani berlayar hingga ke tengah lautan. Selain karena tingginya curah hujan, keberadaan hantu yang nyata, berupa ancaman badai, acap kali menyesatkan bahtera mereka ke perairan terlarang di kepulauan tenggara.


Siang itu, suasana riang demikian luas tersaji. Tak hanya kaum jelata yang melaut setiap hari, para bangsawan yang menjadi penentu kebijakan turut pula bekerja dengan segenap hati. Orang-orang inilah yang bertanggung jawab terhadap komoditas laut di seantero provinsi. Tak sekadar demi mencukupi pangan, sebagian suplai ikan segar ini juga secara rutin dikirimkan ke ibukota negara, Lakhsatra, sebagai upeti.

Tentu saja, tugas utama para nelayan ialah mengumpulkan hasil laut yang melimpah secara teratur. Sementara itu, para bangsawan mengemban tugas mulia untuk memastikan agar pembagian hasil laut dapat adil dan merata bagi seluruh warga di provinsi Kepulauan Timur. Tugas mulia tersebut, sejak puluhan kemarau terakhir, diemban oleh Malek Kaghar Dhaenis, sosok kepala keluarga istana Baghar sekaligus Malek(6) di provinsi Kepulauan Timur, sang pemimpin besar para Lakhsman(7) penguasa wilayah perairan.

Kaghar Dhaenis adalah Malek ke-25 bagi provinsi Kepulauan Timur. Di kalangan seluruh bangsa yang menghuni tanah agung Haaras, nama keluarga Dhaenis dikenal harum berkat pencapaian kakek buyut Kaghar, yakni Hardem Dhaenis, sang Malek ketiga bagi provinsi Kepulauan Timur, terutama berkat peran besar beliau pada insiden pemberontakan kaum Kashef dari pulau Paladin yang terjadi ratusan kemarau silam.


Kala itu, bahtera-bahtera perang Hardem Dhaenis dari Baghar berhasil membantu bala tentara istana Lakhsa untuk menumpas perlawanan kaum Kashef dari pulau Paladin. Armada bahtera gabungan dari seluruh istana di provinsi Kepulauan Timur yang dipimpin oleh Hardem Dhaenis menggempur habis-habisan pulau Paladin, bahkan hingga menenggelamkan separuh daratan pulau tersebut. Sejak peristiwa itu, Paladin menjelma menjadi pulau hantu, sebuah daratan kosong yang tak lagi berpenghuni.

Berkat pencapaian itu, Hardem Dhaenis berhasil memikat hati para petinggi di seluruh provinsi Haaras Raya. Hingga akhirnya, beliau terpilih menjadi seorang Baginda Khalefa di istana Lakhsa, kota Lakhsatra. Sayangnya, selang dua kemarau setelah menjadi orang nomor satu di negeri Haaras Raya, secara mendadak, beliau harus berpulang di usia 34 kemarau untuk menghadap dewa-dewi Shamasta.

Di tengah musim panas yang mendidih, Malek Kaghar Dhaenis terlihat sibuk dengan keseharian di rumah penimbangan hasil laut. Sementara itu, di pelataran istana Baghar, para kesatria tengah mengumpulkan prajurit-prajurit muda untuk menggelar pemusatan latihan. Menariknya, ketiga putra-putri kandung Malek Kaghar Dhaenis turut melibatkan diri dalam kegiatan tersebut.

Godham, si sulung Dhaenis, sosok pria bertubuh kekar dan menjulang, terlihat sedang mengajarkan kepada para calon prajurit muda bagaimana cara bertarung satu lawan satu dengan teknik yang baik dan benar. Sejak tumbuh dewasa, pria berusia 24 kemarau itu memang dikenal sebagai pejantan, sekaligus petarung tangan kosong, yang paling tangguh di seantero kota Baghar.


Sementara itu, di sudut pelataran yang lain, Tharem, putra kedua Malek Kaghar Dhaenis, terpantau sedang memperagakan cara menggunakan tombak di hadapan calon-calon prajurit lainnya. Tangannya yang terampil tampak luwes memutar-memutar gagang tombak. Sedangkan, postur badannya yang ramping memudahkannya untuk bergerak lincah dalam aksi pertempuran senjata.


Seorang lagi keturunan sang Malek Dhaenis, yaitu gadis berusia 22 kemarau, Farana Dhaenis, terpergok tengah berlatih dengan busur dan anak panah di seberang sasaran tembak. Di kota Baghar, kaum perempuan memang diberikan hak yang setara dengan laki-laki untuk menentukan jalur dharma bagi kehidupan mereka, termasuk apabila mereka tertarik untuk mengangkat senjata demi membela kehormatan panji-panji gurita sebagai simbol kejayaan kota mereka.


"Zainon!"

Seorang wanita tiba-tiba muncul dari dalam bangunan istana Baghar yang berlantai tiga. Berbeda dengan lazimnya orang-orang di Kepulauan Timur, baik pria maupun wanita, yang acap kali membiarkan rambut mereka acak-acakan, wanita itu justru tampil anggun dengan rambut panjang yang tergelung rapi pada bagian belakang kepalanya. Tak hanya itu, warna merah yang menyala pada tiap helai rambutnya membuat wanita itu terlihat jauh lebih muda dari usianya yang sesungguhnya telah merambah paruh baya.

"Zainon!" seru wanita berambut merah itu lagi. Tak lama kemudian, seorang gadis dengan muka penuh usang bergerak tergopoh dari dalam dapur umum istana Baghar.

"Saya, Maleka," jawab Zainon seraya merunduk di hadapan sang wanita berambut merah menyala.

"Tengah hari sudah tiba. Apakah semua hidangan sudah masak?" Sang wanita berambut merah bertanya lembut.

"Sebentar lagi, Maleka. Tinggal menunggu beberapa kudapan di atas tungku matang beberapa saat lagi."


Wanita paruh baya, sang pemilik rambut merah yang disapa dengan gelar Maleka(8), mengangguk. "Segera sajikan untuk para prajurit jika semuanya sudah siap sedia. Kau tak perlu menunggu perintahku nantinya."

"Baik, Maleka." Zainon menjawab sederhana.

"Oh, satu lagi, Zainon. Apakah kau melihat Beth sejak tadi pagi?" tanya sang Maleka lagi.

Zainon menggeleng. "Jika Nona Bungsu tak terlihat mengikuti pelatihan bersama para prajurit, biasanya beliau sedang sibuk bercengkrama bersama para nelayan di atas dermaga, Maleka."

"Ya Saghara(9)!" Sang Maleka spontan menyebut asma sang dewa pencipta, sesuai dengan keyakinan yang dipercaya oleh keluarga besarnya. "Baik, terima kasih, Zainon."

"Sama-sama, Maleka."

Zainon sama sekali tak sakit hati melihat sang Maleka langsung melenggang begitu saja. Barangkali, ia paham adanya, bahwa sosok majikannya itu teramat menyayangi keempat putra-putrinya, terlebih si bungsu, Bethany, yang acap kali membuat kedua orang tuanya mengelus dada.


Sang Maleka lalu bergegas menuju pintu gerbang istana Baghar untuk menyambangi dermaga kota. Jarak antara istana Baghar dan dermaga kota memang cukup dekat, hanya puluhan tombak jauhnya. Maka, sembari mengedar pandangan ke seluruh sudut pelataran, sang Maleka mengambil langkah cergas. Akan tetapi, belum sempat sang Maleka mencapai pintu gerbang istana, wanita berambut merah itu tiba-tiba dikejutkan oleh penampakan sosok gadis mungil yang bergerak mendekati gapura istana.

Pakaian gadis itu basah kuyup dan compang-camping. Sejumlah goresan luka tampak menghiasi sekujur tubuhnya yang bergerak miring. Namun, hal yang paling membuat batin sang Maleka tercekam gelisah adalah keberadaan seekor binatang besar yang diseret oleh tangan gadis itu saat hendak memasuki pelataran istana.

Dengan langkah gontai, gadis mungil berkulit kusam itu terlihat kepayahan menyeret jasad seekor ikan hiu bercorak abu-abu. Dilihat dari ukurannya, hiu itu memang bukanlah hiu Enaki(10) yang kerap menjadi momok bagi para nelayan saat berlayar ke hulu. Namun, perawakan sang gadis yang mungil tetap terlihat kalah besar jika dibandingkan dengan bangkai binatang laut hasil buruannya itu.


Lihat selengkapnya