Genderang Khatulistiwa

Wahyu Zaenudin
Chapter #3

2. Siaran Duka dari Lakhsatra


"LAKHSATRA. Kota ini senantiasa memancarkan harapan bagi seluruh bangsa di seantero negara. Berjuta-juta berkat dikaruniakan oleh Dewa Sham, sang penguasa angkasa, dan Dewi Asta, sang penjaga dunia, serta leluhur junjungan kita, Sheitz yang agung. Sayangnya, sering kali kita terlupa untuk mengingat segala kebaikan Sang Pencipta," tutur seorang pria renta berambut, berjanggut, serta berbusana serba putih, yang tengah berdiri di atas mimbar kebijaksanaan. Menilik cara berbusananya yang tak asing, seluruh manusia di Haaras Raya tentu tak sulit mengenalinya sebagai salah seorang Saikh(14) dari istana Lakhsa.


"Kuil-kuil tak pernah lagi kita singgahi. Lantunan mantra ajaran Sheitz yang agung tak pernah lagi kita panjatkan. Maka, tak mengherankan jika Shamasta pada akhirnya menghadirkan malapetaka ke hadapan kita, yakni dengan memanggil pulang sosok Khalefa(15) yang kita kasihi, sosok pemimpin yang telah mempersembahkan bakti bagi seluruh penghuni negeri selama ini, sosok pemimpin yang adil dan rendah hati," sambung sang Saikh di atas mimbar kebijaksanaan, di antara ratusan manusia yang berkerumun dalam takzim di bawahnya.

Sementara itu, dari bawah mimbar berpanggung tiga anak tangga, tampaklah dua sosok misterius yang turut menyimak ceramah dari sang Saikh di pelataran Khamra. Dua sosok yang tak dikenal itu menyaru di antara kerumunan warga yang memadati seantero alun-alun Lakhsatra, ibukota negara Haaras Raya.


Sejak berita duka diumumkan dari istana Lakhsa, bahwa Sang Baginda Khalefa Gharda Othama tutup usia, para Saikh dari kuil-kuil di seluruh pelosok Haaras Raya mendadak mengemban tugas baru di luar keseharian mereka, yakni mengumpulkan para jemaat setempat untuk menghelat ceramah di sejumlah areal terbuka, tak terkecuali pula para Saikh di ibukota, sebuah kota besar yang dikenal dengan nama Lakhsatra.

Acara-acara ceramah yang wajib digelar oleh seluruh pemimpin provinsi, mulai dari kalangan petinggi di pusat pemerintahan daerah hingga kepala-kepala keluarga istana di seluruh pelosok negeri Haaras ini, dimaksudkan untuk mengenang budi baik dan kearifan mendiang Sang Baginda Khalefa pada semasa hidupnya. Sebagai tokoh-tokoh yang dipandang menguasai agama Shaizana, agama mayoritas seluruh penduduk Haaras Raya, para Saikh berkewajiban menyiarkan berita duka dengan bumbu-bumbu agama.

Namun, tak seperti kebanyakan hadirin di alun-alun yang menyimak dengan takzim, dua sosok misterius yang turut berada di tengah kerumunan tampak asyik berkasak-kusuk. Keduanya mengenakan jubah yang menutupi nyaris seluruh bagian tubuh mereka, seakan-akan mereka sengaja ingin menyembunyikan wujud di tengah khalayak ramai.

Salah seorang dari dua sosok itu berperawakan bungkuk. Sebuah benjolan besar serupa punuk unta bercokol pada bagian tengkuknya, membuat badannya terlampau payah untuk menegakkan diri dengan sempurna. Dari keseluruhan bagian tubuhnya yang terbalut oleh jubah panjang, hanya telapak tangan dan sebagian wajahnya yang terlihat oleh pandangan. Berbeda dengan manusia pada lazimnya, rambut dan kulit wajah sosok itu berona putih pucat laksana susu sapi murni dari kota Azza(16). Sementara itu, bola matanya yang juga berwarna putih memancarkan setitik cahaya yang menyiratkan ketenangan jiwanya.


Pada sisi yang berbeda, tepatnya di sebelah si Bungkuk Pucat, berdiri pula sesosok manusia, yakni seorang pria dengan perawakan yang sewajarnya manusia biasa. Dari posturnya yang juga berselimut jubah panjang, usia pria yang satu ini terlihat masih berada di kisaran 20-an kemarau meski wajahnya tampak lebih dewasa dengan ornamen kumis tipis di atas bibirnya. Perawakannya yang tegap dan berisi sudah cukup mengisyaratkan kesehariannya yang akrab dengan latihan fisik setara para prajurit istana.

"Aku selalu takjub dengan cara mereka menyiarkan pencitraan untuk kepentingan para penguasa," tutur si Bungkuk Pucat, berbisik dengan nada yang ketus.

"Apa maksud Anda?" Pria berkumis tipis menanggapi rekan kasak-kusuknya dengan tatapan sinis.

Lihat selengkapnya