Genderang Khatulistiwa

Wahyu Zaenudin
Chapter #5

4. Kesatria Berzirah Pualam


HIRUK-PIKUK kepanikan tiba-tiba memecah kesunyian hutan di kawasan Suphana, di ujung barat wilayah besar Zavana. Suasana temaram yang hinggap di antara pepohonan rindang sejak sang Sham terbit mendadak dikacaukan oleh teriakan-teriakan dan derap langkah tergesa-gesa sejumlah manusia pemburu kayu bakar yang ketakutan.

Dengan beban potongan kayu di punggung mereka, rombongan itu berlarian tunggang-langgang bak domba-domba kehilangan gembala. Mengandalkan cara berlari yang jauh dari cekatan, mereka berhamburan menuju padang sabana di sebelah utara hutan. Sementara itu, di belakang mereka, di antara kawasan rimbun yang luas, muncul seekor harimau raksasa yang mengganas. Sepasang taringnya menjuntai laksana pedang suku Moghas(22) dari sebelah utara Haaras.

Kemunculan makhluk raksasa asal hutan Suphana itu ditandai dengan pemandangan yang sangat mengerikan. Sebelah taringnya menancap pada tubuh seorang manusia yang telah meregang nyawa. Dengan kasar dan tanpa belas kasihan, binatang buas yang melegenda dengan julukan sang Raja Hutan lantas mencabik-cabik tubuh sang manusia, lalu menelan mangsanya itu hingga tak tersisa.


Usai menyantap korban pertamanya, sang satwa raksasa berkelir jingga lantas mengaum dengan penuh kesombongan, memamerkan kedigdayaan pada seisi hutan. Nampaknya, ia belum cukup kenyang hanya dengan seporsi makan siang. Sebab itulah, ia kembali memburu rombongan pencari kayu yang berlarian menuju bagian utara kawasan hutan.

Dalam rentang tak terlampau lama, hiruk-pikuk kepanikan segera berpindah menuju sebuah padang sabana. Rumput-rumput ilalang tinggi yang memadati kawasan itu terpantau nyaris melampaui pinggang manusia. Pun demikian, para pencari kayu yang berhasil meloloskan diri dari kawasan hutan tetap terjun berlarian menyisir ketinggian ilalang. Kelebatan rumput-rumput liar tersebut nampaknya cukup menyulitkan langkah mereka menggeber pelarian.

Sementara itu, di belakang para pencari kayu, sang Raja Hutan enggan menyurutkan nafsu berburunya. Saat makhluk itu menapaki padang sabana, ketinggian ilalang sayangnya hanya mampu menenggelamkan sepertiga kakinya. Seiring dengan ayunan keempat kakinya yang cekatan, ia kembali mengaum memamerkan keperkasaan. Sorot matanya lalu mengincar salah seorang pencari kayu yang tertinggal di belakang kerumunan.

Sosok yang menjadi incaran, yakni seorang pria renta yang terlihat ringkih tak berdaya, tampak kerepotan melintasi ketinggian ilalang. Hanya dalam tempo sesaat, laju larinya yang tak seberapa kencang itu terhenti seketika. Di hadapannya, sang harimau bertaring panjang tiba-tiba mendarat untuk menghalangi jalur pelariannya.

Sempat terkesiap, si pria renta masih enggan menyerah untuk melarikan diri. Sambil tergopoh-gopoh, ia mengubah jalur pelariannya yang terhadang. Malang, pinggangnya mendadak terserang rasa nyeri ketika hendak memutar badan. Maka, tak ada lagi yang dapat ia lakukan, selain berdiri mematung dan memasrahkan nasibnya kepada Shamasta, sang Maha Menentukan.

"Ya Shamasta ... lindungi hamba, Ya Shamasta ...," rapal si pria renta, meski dengan suara yang terbata-bata.

Di sisi lain, sang harimau bertaring panjang tak ingin menyia-nyiakan peluang. Makhluk itu segera melompat untuk menerkam sosok uzur yang tubuhnya mulai gemetar dilanda ketakutan.

Akan tetapi, ketika mulut sang Raja Hutan menganga lebar dan taring panjangnya hanya berjarak sekian tombak dari tubuh si pria renta, tiba-tiba sebentuk benda panjang terbang dengan kecepatan tinggi dari kejauhan. Dengan lesatan yang tak terduga, benda kurus berujung runcing itu mendarat dan menembus leher si kucing raksasa.

Lantaran tak sempat berkelit untuk menghindar, harimau bertaring panjang itu tiba-tiba meringkik bak seekor kuda. Dalam sekejap, tubuhnya terempas di padang sabana, di antara rumput ilalang setinggi pinggang manusia. Entah dari mana asalnya, sebatang bambu dengan panjang setara tombak sabian(23) telah melesap tepat di kerongkongannya. Sedemikian dalamnya lesapan tersebut, benda dengan batang beruas-ruas itu bahkan sanggup menembus dan mencuat di antara sepasang taringnya.

Dengan gerakan yang mulai sempoyongan, sang Raja Hutan mencoba memulihkan keseimbangan. Pun demikian, lagi-lagi ia tersungkur kesulitan. Susah payah, makhluk itu berusaha menegakkan badan. Seolah masih ingin memamerkan keangkuhan, ia bersikeras mengaum lantang. Sayangnya, sebatang bambu yang menancap pada lehernya telah menembus tenggorokan. Maka, yang terdengar dari mulutnya hanyalah napas yang tertahan.

Selang tak beberapa lama, muncullah sosok pemuda yang menghampiri sang harimau raksasa. Dengan bertelanjang dada, pria berbadan tegap itu cergas menerobos ketinggian padang sabana. Berbeda dengan para pencari kayu yang berlarian, pemuda itu justru gagah berani menyambangi sang harimau raksasa. Saat kucing bertaring panjang itu tengah megap-megap, dengan sigap, ia menggenggam batang bambu yang bersarang pada leher sang Raja dari Hutan Suphana.

Hanya dengan sekali hentakan, pemuda itu mencerabut batang bambu dan membuat kerongkongan si kucing raksasa teriris karenanya. Tak pelak, cipratan darah segar membasahi tubuh sang pemuda yang bertelanjang dada. Dengan demikian, makhluk penguasa hutan itu pun harus mengakhiri petualangannya.

***

SUPATRA, seorang laki-laki paruh baya, tengah bersiap memanen madu di pusat penangkaran lebah milik warga desa Suphana. Namun, sorak-sorai yang tiba-tiba membahana dari batas desa menyita perhatiannya. Tapal batas yang menjadi pemisah antara wilayah pemukiman warga dan padang sabana itu tampak dipenuhi kerumunan warga yang berseru kegirangan.

Dikuasai oleh keingintahuan yang tiba-tiba digdaya meliputi, Supatra, bersama sejumlah warga yang siang itu memadati penangkaran lebah madu, kompak membubarkan diri. Mereka bergegas menuju sumber keriuhan untuk mencari tahu apa gerangan yang sedang terjadi.

Di ujung jalan setapak menuju desa Suphana, tampak rombongan pencari kayu bakar baru saja pulang dari hutan. Namun, tak seperti biasa, mereka datang dengan riuh rendah laksana prajurit yang baru saja memenangkan peperangan. Di antara kerumunan, turut serta sosok pria renta yang ikut berseru dengan suara yang gemetar kepayahan. 

Saat melihat kehadiran Supatra, si pria renta segera berhenti berteriak. Sosok ringkih itu tiba-tiba menghampiri Supatra. Kemudian, dengan hangat, ia memeluk sang peternak lebah madu seraya menangis terisak-isak.

"Puji Shamasta dan Sheitz yang agung, Supatra! Istrimu telah melahirkan seorang pahlawan bagi desa Suphana!" ujar sang pria renta, penuh syukur dan tangis bahagia.

Supatra terlihat gelagapan menyambut pelukan si pria renta. Sebelah alisnya mengernyit dan terangkat seketika. Namun, tak berselang lama, ia segera menyadari siapa gerangan yang menjadi biang keladi sorak-sorai para warga desa.

Laki-laki peternak lebah madu itu masih terjebak dalam pelukan sosok renta ketika pandangannya mulai tertuju pada pemuda yang berdiri di tengah kerumunan pencari kayu bakar. Kendati sekujur tubuh pemuda itu bersimbah darah, namanya tampak dielu-elukan oleh para warga. Dalam sekejap, raut muka Supatra pun memerah dilamun gelisah.

"Zada!" seru Supatra, dengan raut was-was. Buru-buru, ia melepaskan pelukan si pria renta dan berlari menghampiri sang pemuda. "Zada! Apa yang terjadi padamu?!"

Sorak sorai para pencari kayu yang terlampau heboh menelan seruan Supatra. Mereka sibuk mengawal jalan sang pemuda yang tubuhnya telah berlumur cairan merah pekat. Bak seorang panglima Althamis(24), pemuda itu berjalan dengan tegap meski agak canggung dan berat.

"Zada! Kau tidak apa-apa?" Seraya menerobos kerumunan untuk menghampiri sang pemuda, Supatra kembali berseru dengan suara yang lebih membahana.

Meski tak serta merta, pemuda yang dipanggil dengan nama Zada itu segera menyadari kehadiran Supatra di antara keramaian. Wajahnya yang masih dipenuhi bercak merah sontak berbinar terang. "Ayah?"

Tanpa menghiraukan orang-orang yang sedang hingar-bingar, Supatra terus merangsek di antara kerumunan untuk menghampiri Zada, sang pemuda.

Di sisi lain, Zada yang menyapa Supatra dengan panggilan Ayah pun bersiap menghadang peternak lebah itu dengan pelukan hangat. Namun, alih-alih menyambut lengan Zada dengan terbuka, tiba-tiba ....

BUKK!

Lihat selengkapnya