
"BUKA gerbang!" Salah seorang prajurit di atas menara pengintai berseru pada kelima rekannya yang sedang berjaga di sisi bagian dalam sebuah pintu gerbang raksasa. Pintu besar itu sendiri menjulang sedemikian megahnya hingga setinggi lima puluh anak tangga.
Mendengar perintah dari atas menara, kelima prajurit berzirah perunggu yang semula tengah asyik bercengkrama di pos penjagaan serentak menghambur menuju sebuah tuas besar berukuran setara kereta kuda. Tanpa membuang waktu, mereka serentak menarik tuas tersebut bersama-sama. Alhasil, lempengan baja panjang yang melintang pada bagian dalam pintu gerbang raksasa pun bergeser secara berkala.
Sontak, terdengar derit engsel baja yang saling bergesekan dan membisingkan. Dan, ketika pintu gerbang besar yang dijaga ketat itu terbuka sempurna, tampaklah sesosok pria penunggang kuda yang telah menunggu di luar gerbang.
Pria itu mengenakan zirah perunggu, lengkap dengan kain jubah merah yang menjuntai di belakang tubuhnya. Sekilas, busana zirah tersebut terlihat sama dengan yang dikenakan oleh para prajurit penjaga. Logam-logam perunggu juga menghiasi bagian pundak sang pria berkuda. Hanya saja, ukiran-ukiran logam yang melindungi sekujur zirahnya tampak jauh lebih berkilauan ketimbang zirah para prajurit semenjana. Musababnya adalah taburan emas pada logam perunggu di bagian dada, lengan, serta pahanya yang menyulap zirah tersebut menjadi tampak memesona.
Satu hal lagi yang menjadi pembeda adalah bentuk helm sang pria penunggang kuda. Pelindung kepala yang juga terbuat dari logam perunggu itu tampaknya sengaja ditempa dengan sedemikian rupa hingga menyerupai wujud kepala seekor burung pemangsa, lengkap dengan bentuk paruh dan jambul yang lazim ditemui pada unggas-unggas pemangsa udara di seantero wilayah besar Zavana.
Jika dibandingkan dengan penampilan para prajurit penjaga, terlihat dengan sangat jelas, bahwa penampilan pria itu sungguh berbeda kelas. Terlebih, pelana yang bercokol pada punggung kudanya rupanya juga bertabur lapisan emas. Segera setelah melihat ornamen-ornamen pembeda tersebut, para prajurit penjaga sontak berlutut dengan cergas.

"Selamat datang, Althamis Dorgha Marhem. Terimalah hormat dari kami, para prajurit penjaga kawasan penangkaran Gort," sambut salah seorang prajurit penjaga seraya berlutut bersama rekan-rekan sejawatnya di hadapan sang penunggang yang baru saja turun dari kuda.
"Berdirilah, Prajurit. Apakah Rabi Ankara ada di tempat?" tanya pria itu dengan suara yang agak berat.
"Tentu saja, Althamis. Rabi Ankara beserta para Rabi(27) muda lainnya tak pernah meninggalkan menara utama, kecuali atas utusan dari para petinggi di Lakhsatra," jawab prajurit penjaga yang sama. Seolah-olah, ia telah dipercaya oleh rekan-rekannya untuk menjadi juru bicara.
"Beritahu para Rabi, bahwa Dorgha Marhem sudah tiba di Gort," ujar sang pria berkuda, menepikan gelar Althamis yang semestinya tersemat pada namanya. Walaupun, sejatinya, gelar itu diberikan langsung oleh para petinggi Lakhsatra dan menjadikannya salah seorang panglima bagi seluruh prajurit di seantero negeri Haaras Raya, sepertinya ia masih sungkan untuk menggunakannya.
"Baik, Althamis!" Sang prajurit penjaga yang menjadi juru bicara segera bangkit dari posisi berlutut diikuti rekan-rekannya. Ia lalu bergerak mengambil kudanya yang terpasah di sudut kanan pintu gerbang raksasa. Setelah siap untuk berkuda, prajurit itu segera menghampiri Dorgha.
"Mari ikuti saya, Althamis," tutur sang prajurit lagi, seraya menuntun kudanya mendahului kuda Althamis Dorgha. Maka, sang Althamis pun kembali menaiki kudanya yang berpelana emas dan ikut berpacu untuk membuntuti di belakang sang prajurit juru bicara.
Jalur berkuda yang mereka lintasi di depan adalah kawasan perbukitan yang cukup sulit dilalui oleh penunggang pemula. Medan yang terjal berbatu itu terlampau menanjak dan berkelok-kelok melebihi rumitnya jalur pendakian. Sementara itu, di sepanjang jalan, berjajar umbul-umbul merah berlambang burung pemangsa yang berkibar-kibar diterpa angin pegunungan.

Perlu waktu sekurang-kurangnya lima kali hirupan candu agar bisa mencapai hilir jalanan yang menanjak itu, yakni sebuah puncak bukit yang ditumbuhi beraneka jenis pepohonan dengan dedaunan yang tumbuh jarang-jarang. Maka, setelah melintasi tanjakan demi tanjakan berliku kurang lebih selama itu, akhirnya tibalah Althamis Dorgha dan sang prajurit penjaga di sebuah puncak bukit yang diapit oleh hamparan pemandangan yang sangat menakjubkan.
Bukit yang baru saja dilalui sang Althamis rupanya hanya salah satu dari sekian banyak bukit lainnya yang berdiri saling berjajar membentuk lingkaran menyerupai celah kawah.
Sementara itu, di tengah-tengah lingkaran kawasan perbukitan, terhampar sebuah dataran rendah yang mahaluas, kira-kira sepersepuluh luas perairan danau Thabhar, sebuah danau raksasa yang berada di wilayah Bordakh bagian utara.
Di kawasan yang mahaluas itu, terdapatlah tak kurang sepuluh kerangkeng kubah yang sekilas menyerupai punggung mangkuk-mangkuk raksasa dengan garis tengah sepanjang ratusan tombak sabian. Kerangkeng-kerangkeng kubah berteralis baja itu nampaknya memang sengaja dibangun untuk mengelilingi setiap sisi dataran. Sementara, pada bagian dalam tiap-tiap kubah, pepohonan rindang serta beragam jenis tanaman sengaja ditumbuhkembangkan dan dipelihara dengan subur sehingga menyerupai hutan-hutan buatan.
Sebagai titik pusat dari dataran yang mahaluas itu, di antara kepungan kesepuluh kerangkeng kubah raksasa yang melingkari dataran, berdiri sebuah bangunan tinggi dan ramping yang didapuk sebagai menara pengawasan. Bangunan yang terlihat sangat kurus dari kejauhan itu menjulang tinggi dengan sorot bola cahaya pada bagian puncaknya.
Althamis Dorgha dan sang prajurit penjaga bergegas mengemudikan kuda mereka untuk menuruni bukit yang menyerupai celah kawah. Setibanya mereka di dataran rendah, keduanya mulai mengurangi kecepatan saat melintasi jalan setapak di antara celah tiap-tiap kubah raksasa untuk menuju menara pengawasan.
Ketika kuda yang ia tunggangi melintasi jalan setapak tersebut, Dorgha dapat melihat dari jarak dekat sekawanan burung berukuran tiga kali lipat tubuh manusia, yang oleh rakyat seluruh Haaras Raya santer dikenal dengan sebutan burung Gorda. Hewan-hewan raksasa itu beterbangan di dalam kerangkeng kubah masing-masing. Sebagian tengah berburu domba, biri-biri, atau hewan-hewan ternak sejenis yang sengaja dilepas bebas dan dibiarkan hidup di dalam kubah untuk menjadi makanan mereka.
Kendati bukan untuk kali pertama menyaksikan pemandangan itu, Dorgha nampaknya masih belum mampu menyembunyikan rasa takjub dengan cara para leluhur Haaras membangun pusat penangkaran burung Gorda yang ia lintasi saat ini. Proyek pembangunan tempat ini tentunya dilakukan dengan segala macam pertimbangan yang terperinci sehingga ratusan Gorda yang secara alamiah merupakan hewan-hewan liar itu dapat dijinakkan, untuk kemudian dimanfaatkan sebagai armada perang.
Dorgha sering membayangkan kisah-kisah sejarah yang ia baca dari kitab-kitab karangan para Faqar didikan istana Dokh. Menurut kitab-kitab sejarah Haaras, dahulu kala, pusat penangkaran Gort dibangun dari puing-puing letusan gunung Gorthar oleh sosok Khalefa kedua, yakni mendiang Baginda Khalefa Bharda Dinares. Tentu saja, itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Berdasarkan sejumlah literatur pustaka, dikisahkan bahwa mendiang Khalefa Bharda membutuhkan setidaknya berpuluh-puluh kemarau untuk membangun kawasan Gort. Hal itu belum termasuk upaya beliau untuk mempersatukan dua belah kubu wilayah di tanah Zavana yang saling berseteru kala itu.
Dua kaum penguasa tanah Zavana, yaitu kaum Dinar di wilayah Zavana Barat dan kaum Zavara di wilayah Zavana Timur, memang memiliki sejarah seteru yang sangat panjang sejak zaman leluhur mereka. Keduanya dikenal sebagai kaum terkuat di seantero tanah agung Haaras karena masing-masing di antara mereka dianugerahi bakat alami untuk menjinakkan dan menunggangi burung-burung Gorda. Oleh sebab itulah, Khalefa Bharda Dinares akhirnya menggagas pembangunan kubah-kubah raksasa di kawasan Gort dalam rangka mempersatukan kedua kaum penguasa yang berseteru. Meski demikian, pada akhirnya, pendekatan perdamaian melalui jalur perjodohan tetaplah menjadi alat yang paling ampuh untuk meredam konflik antar kedua belah pihak.