Genderuwo Cyber

Kinanthi (Nanik W)
Chapter #1

Bab 1

 Suasana temaram. Kabut tebal merayapi rimba jati Jatirogo di utara Tuban, sebuah bentang alam yang gersang namun mistis, karena pohon-pohon jati raksasa tampak mencengkeram erat tanah kapur berbatu. Tanah Jawa dalam sejarah menunjukkan tahun 1826.

Panji-panji peperangan dan seragam para serdadu kolonial membayang di antara tanah berkapur dan tebalnya kabut hutan hari itu. Hening mencekam. Bau khas daun jati kering yang membusuk bercampur aroma tanah basah setelah hujan sore hari mengapung di udara. Hanya suara burung hutan.

Peperangan perebutan harta itulah yang membuat tekat Ki Slamet kian membara. Ia yang selama ini berdiam diri di istana alam jin, tergerak hatinya untuk merebut kembali tahtanya sebagai peggoda iman manusia.

Ia merasa yakin saatnya telah tiba. Saatnya untuk meraih prestasi dan memamerkannya di hadapan entitasnya, bahwa ia telah berhasil memperbudak manusia untuk berebut harta, tahta, dan wanita dengan mudahnya. Oh indahnya khayalan itu. Ia pun menari.

Maka, di kedalaman hutan, atmosfer tiba-tiba terdistorsi secara ekstrem ketika Ki Slamet memutuskan tekat bulatnya. Ki Slamet, manifestasi entitas gaib dari keturunan Iblis pembangkang yang membawa gen iri terhadap seluruh keturunan Nabi Adam, telah lama berjuang mengumpulkan persyaratan niatnya. Niat yang telah disampaikan leluhurnya di hadapan Tuhan, bahwa mereka bertekat akan menyesatkan anak cucu Nabi Adam hingga kehidupan di bumi berakhir.

Ki Slamet dengan keyakinan pasti menang, memaksa menembus dinding pembatas antardimensi, yang memisahkan dimensinya dengan dimensi manusia. Secara ilmiah filmis, fenomena ini digambarkan bukan semacam ilmu sihir instan, melainkan sebagai anomali fisika kuantum yang brutal.

Udara sekitar pun tampak spontan melengkung membentuk lensa gravitasional, ruang hampa tersedot, dan partikel foton terpecah menciptakan kilatan cahaya plasmatik keunguan. Suaranya memekakkan telinga. Suhu udara pun anjlok drastis menuju titik beku. Kemudian kondensasi kilat pun terpicu untuk membekukan dedaunan dalam radius ratusan meter. Hal itu terjadi akibat benturan energi kinetik dari dimensi astral yang menabrak realitas padat manusia.

Dalam wujud siluet tinggi, hitam legam, yang mendistorsi cahaya, Ki Slamet pun merangsek maju. Hati dan tubuhnya telah diselubungi niat dan tekat membara untuk memperbudak manusia. Jerat yang baginya sangat mudah. Harta, tahta, wanita. Itukah yang dilakukan bangsa kulit putih yang datang jauh-jauh dari belahan bumi yang lain? Mereka datang. Mereka menang dan tak pulang-pulang Mengapa dirinya tidak?

Tuhan pun mengizinkan dengan penegasan bahwa ia tak akan mampu menyesatkan hamba-hamba-Nya yang beriman, taat, dan ikhlas. Godaan iblis bagi manusia pun harus dianggap sebagai ujian. Toh ia tak memiliki kuasa . Hal itu, hanya Tuhan yang sanggup membolak-balik hati manusia. Iblis hanya sanggup menggoda, memberikan iming-iming, mengajak menuju kemaksiatan. Keputusan tetap di tangan manusia. Jika akhirnya manusia terjerumus dalam dosa pun iblis angkat tangan. EGP! Ia tak peduli. Kan ia hanya menggoda. Risiko ditanggung sendiri jika tergoda.

Mereka memberikan iming-iming akan harta, tahta, dan wanita. Rakyat pun terkesan diadu domba. Mereka berlama-lama di tanah Jawa. Tanah yang penghuninya semula sangat sakti. Kesaktian yang sanggup membuat entitasnya, yang telah berhasil memasuki dimensi manusia, terdesak minggir sampai ke hutan-hutan rimba, rawa-rawa, dan laut lepas.

Namun, Tuhan benar-benar Maha membolak-balikkan hati manusia. Di mana kini benteng kekuatan itu? Keturunan mereka silau? Sepertinya, semula bukan begitu. Karakter mereka yang ramah, terbuka, mudah percaya, membuat rentan terpengaruh. Jika tidak waspada, mudah pula dimanfaatkan. Apalagi wilayah geografis tempat tinggal mereka, ada di antara dua samudra. Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.

Ki Slamet ingat betul karena terlahir sebagai entitas yang diizinkan melintasi pusaran waktu tanpa tersentuh kematian, Jin setengah Iblis tersebut menatap dunia manusia di Tanah Jawa dengan lagi-lagi rasa iri. Rasa yang membuat leluhurnya terusir dari surga. Rasa iri itu pulalah yang menjalarinya manakala teringat hal itu.

Lihat selengkapnya