Namun, Ki Hardja berhasil mematahkan kalkulasi energinya. Ki Hardja yang bergaya hidup zuhud. Ibadahnya yang meliputi hablum minallah dan hablum minannaas , telah dijalani secara ikhlas, sehingga ia memiliki frekuensi gelombang jiwa mutmainah.
Kondisi psikhis tingkat tinggi karena osilasi energi spiritualnya berada pada kestabilan yang absolut itulah, yang membuatnya sakti. Ia menjadi kebal terhadap segala bentuk resonansi frekuensi tingkat rendah misalnya iming-iming tahta, materi, bahkan pelampiasan nafsu badaniyah. Ia bergeming terhadap iming-iming harta, tahta, wanita yang diperebutkan kaum lelaki pada umumnya.
Pertempuran Ki Slamet dengan Ki Hardja tersaji dalam visualisasi sinematik yang megah dan surealis. Secara tiba-tiba, Ki Karep melemparkan gelombang kejut psikhis yang memanipulasi ruang. Gelombang tersebut menciptakan ilusi adanya tumpukan uang dan emas batangan gemerlapan menerpa wajah Ki Hardja. Kemudian diikuti dengan sajian pemandangan aneka rupa wanita telanjang dalam berbagai pose yang menantang iman pria. Wanita-wanita itu meliuk-liuk telanjang di antara kepulan asap beraroma belerang.
Akan tetap, gelombang tersebut hancur berantakan berkeping-keping begitu menabrak dinding tak kasat mata yang menyelubungi tubuh Ki Hardja. Jiwa mutmainah Ki Hardja yang memancarkan radiasi energi putih yang murni, mengikat medan magnetik tubuh Ki Slamet tanpa ampun, hingga entitas gaib itu berlutut, tersedot ke dalam hukum Fisika bumi yang kemudian mengunci molekul astralnya.
Setelah menyadari kalah telak secara energi dan spiritual, Ki Slamet yang menyadari telah memasuki dimensi lain, dimensi manusia, yang semula diremehkannya, terpaksa patuh. Ia pun menuruti untuk tunduk pada perjanjian gaib. Perjanjian yang mengikat esensinya untuk berperan sebagai pelindung gaib bagi Ki Hardja beserta tujuh keturunannya mendatang.
Perjanjian semacam perbudakan yang akan berjalan ratusan tahun, membuatnya meraung. Ia murka. Ia pun memendam dendam kesumat. Dendam yang dikuncinya rapat-rapat di dalam memori genetiknya demi hari pembalasan jika saatnya tiba.
Ia bertekat untuk meledakkan dendam kesumat itu kelak. Itu harus, tekatnya dalam sumpahnya. Jika sampai keturunan ketujuh aku tak bisa menjerumuskan, bukankah setelah keturunan ketujuh aku bebas?
Maka, hatinya pun kembali riang. Ia terhibur karena tidak terpenjara seumur hidup. Ia pasti bisa melakukan pembalasan. Ki Hardja yang sok sakit itu harus membayar ulahnya melumpuhkan saya. Ia kembali menggeram dan bertekat melumpuhkan generasi ke delapan. Generasi yang akan dibuatnya babak belur tergiur harta, tahta, dan wanita sampai lupa cara bernalar . Ia pasti sanggup karena tak lagi terikat sebagai abdi dan tuan.
Ia kembali terkenang peristiwa malam itu. Ketika dingin merasuk hingga ke dalam tulang sumsum. Di pinggiran hutan jati, Ki Hardja yang telah menjalani zuhud dengan ikhlas yang membuat jiwanya telah selesai dengan urusan dirinya sendiri, sedang bersujud, ketika keheningan sepertiga malamnya mendadak porak poranda.
Udara tiba-tiba berputar hebat dalam ruangan, memancarkan aroma belerang yang menyengat teramat sangat, diiringi kemunculan sesosok bayangan hitam bermata merah menyala. Ia yang semula hanya berkelebat, tampak merangsek maju, mencoba menerobos dimensi fisik manusia dengan keangkuhan penuh dan keyaakinan akan menang dalam sekali gerakan.
Ia begitu percaya diri, manusia yang tengah duduk bersila dalam keheningan sepertiga malam itu pasti berdoa minta kekayaan. Ia pasti terpesona menyaksikan pameran emas batangan, uang bertebaran, dan aneka wanita dalam berbagai pose yang menggiurkan.
Namun, keangkuhan itu hilang dalam sekejap.