Dahulu, bumi adalah tempat yang tenang. Leluhur kita, dengan energi yang murni, tanpa ambisi, dan jauh dari ego, mampu memancarkan resonansi frekuensi yang membuat entitas dimensi lain tidak mampu mendekat. Jin dan entitas kegelapan terdesak ke sudut-sudut paling sunyi—hutan lebat, gunung terjal, dan palung lautan terdalam. Mereka hanyalah bayang-bayang di tepi peradaban.
Namun, waktu mengubah segalanya. Manusia modern kehilangan kemurnian itu. Ambisi yang meledak-ledak dan ego yang membusuk telah meredupkan perisai spiritual kita. Kepadatan frekuensi yang dulu menjadi benteng pertahanan kini melonggar, membiarkan gerbang dimensi terbuka kembali. Kini, entitas-entitas yang dahulu terbuang itu merayap naik, memandang manusia sebagai wadah kosong untuk menyerap energi jahat. Mereka meneruskan iri iblis untuk anak Adam, mencari celah dalam setiap jiwa yang kehilangan jati diri untuk membalaskan dendam kuno yang tak pernah benar-benar padam.
Ki Slamet tengah duduk bersila di sudut kamar Ki Hardjo. Ia masih tak percaya. Tubuhnya yang dulu sanggup menggetarkan dinding batu-batuan, kini sudah terikat oleh garis-garis cahaya tak kasat mata. Ia telah terikat perjanjian yang dipaksakan oleh manusia zuhud berjiwa mutmainah itu.
Sesekali api amarah naik turun bergolak riuh tanpa bisa berbuat apa-apa. Di alam jin, waktu tidak mengalir secara linier. Waktu bagi jin adalah fluktuasi intensitas. Jika 100 tahun bagi manusia adalah perjalanan panjang yang sangat membuat lelah, bagi jin hal itu hanyalah sekerdipan mata.
Sebuah frekuensi yang lewat begitu saja. Seratus tahun manusia itu, gumamnya dalam hati, bagi duniaku, dunia jin, hanyalah hitungan beberapa jam saja. Sesungguhnya bukan waktu manusia yang membuat aku marah merasa terhina.
Aku keberatan tunduk pada manusia. Entitas yang bagi kami lebih suka bergantung kepada kami demi ambisi, padahal hanya otaknya yang bisa diandalkan untuk menjalani kekhalifahan di bumi. Khalifah? Huh! Amarah ala iblis kembali menggelegar. Akan kubuat otak itu tak berfungsi, tetap rapi putih bersih bak buah manggis yang baru dibuka dari kulitnya. Hmm... Segar nian dimakan di hari panas. Ia menelan ludah.
Lalu, siapa yang berperan sebagai khalifah? Iblis dan jin fasik. Hm... Kata ayahku aku bakal menjadi fasik jika menuruti Iblis. Jin purba yang membangkang terbakar kesombongan dan kedengkian membara terhadap tugas mulia Adam sebagai khalifah?
Mengapa bukan dirinya? Mengapa harus manusia yang berbahan dasar tanah, benda padat? Bisa apa? Otaknya yang harus dimaksimalkan? Hm.. Akan kumasak otak itu jadi perkedel otak. Tentu nikmatnya tiada tara.
Amarah Ki Slamet yang naik turun menimbulkan ketidaknyamanan bagi Ki Hardjo yang sedang menulis.
"Tenanglah Ki Slamet, " ujarnya sambil menuliskan nama Ki Wira sebagai nama pena.
"Hmm.. Seratus tahun itu, Ki Hardjo, " gumam Ki Karep, "Hanya sekejap di duniaku. Bagiku ratusan tahun hanya sekejap untuk menunggu ketujuh generasimu pulang ke tanah. "
"Karena itu, pasrahlah. Percuma marah hanya buang energi. "