Genderuwo Cyber

Kinanthi (Nanik W)
Chapter #4

Bab 4

Bab 4




Emosi Ki Slamet masih naik turun. Ia bisa ikhlas mematuhi nasihat ayahnya ketika melihat keikhlasan yang tersurat dari ekspresi Ki Hardjo, tapi ketika ingat teman-temannya di alamnya yang menertawainya, ia pun muram. Hatinya panas.


Dimensi manusia mendadak bergetar hebat ketika Ki Slamet memaksa masuk menembus membran ruang-waktu. Secara Fisika kuantum, kedatangan jin itu merusak superposisi lokal, memaksa partikel-partikel udara berkoherensi menjadi wujud padat mengerikan.


Fluktuasi energi vakum di sekitar area pertempuran melonjak drastis, menciptakan riak gravitasi mikro yang membuat dedaunan melayang tanpa bobot. Namun, sebelum Ki Slamet sempat memanifestasikan densitas molekulnya secara sempurna untuk menghancurkan sekeliling, ia menabrak dinding tak kasat mata.


Itu bukan sekadar pagar gaib, melainkan medan dekoherensi absolut yang dipancarkan dari frekuensi jiwa mutmainah Ki Hardjo. Jiwa yang telah mencapai kestabilan termodinamika spiritual tertinggi melalui jalan zuhud dan keikhlasan dalam beribadah tanpa pamrih.


Maka, adu kesaktian pun tak terhindarkan. Ki Slamet melemparkan untaian energi gelap yang bergerak seperti partikel terjerat "entangled particles", mencoba meruntuhkan ruang kesadaran lawan.


Namun, setiap kali gelombang destruktif itu mendekat, energi tersebut langsung kolaps " Wave function collapse" menjadi probabilitas nol begitu menyentuh fluks medan ikhlas Ki Hardjo.


Kesaktian Ki Hardjo bekerja seperti prinsip ketidakpastian Heisenberg, posisinya tak dapat dilacak oleh radar kebencian makhluk astral karena ego Ki Hardjo telah lebur ke dalam kepasrahan total kepada Sang Pencipta. Jiwanya yang tenang telah bertindak sebagai isolator kuantum sempurna.


Begitu merasa terjebak dalam fluktuasi ruang yang berbalik mengurungnya, Ki Slamet meraung ketika seluruh probabilitas wujudnya terkunci, tak sanggup lagi kembali menjadi gelombang tak berwujud. Ia kalah telak, bertekuk lutut di hadapan manusia yang sedemikian zuhud, bumi pun enggan menolaknya.


"Ampun, Ki Hardjo. Aku mengaku kalah. Jiwamu ternyata terlalu jernih hingga tak ada celah ketidakpastian yang dapat kumasuki, " geram Ki Slamet dengan napas tersengal menahan tekanan ruang.


Lihat selengkapnya