Di balik bukit kecil dekat tempat tinggal Ki Hardjo, terbentang ladang luas menghijau. Namun, itu bukan ladang biasa. Itu adalah "laboratorium" bagi puluhan santri yang belajar di pondok pesantren milik Ki Hardjo. Tidak ada tarikan uang pendaftaran, tak ada iuran bulanan.
Sebagai gantinya, setiap santri diwajibkan terlibat dalam mengolah tanah secara terjadwal di antara waktu mengaji dan belajar. Mereka diajak bertani dari menanam padi, bertanam buah, rimpang, sayuran, beternak ayam dan kelinci, serta tanaman obat.
Ki Slamet yang telah terikat sumpah, mau tak mau harus menyertai Ki Hardjo untuk bertempat tinggal di sana. Ia tinggal di pinggir ladang, ikut mengawasi bahkan membantu mereka.
"Lihat mereka, Ki Hardjo, " desis Ki Slamet dengan nada mencemooh,
"Anak-anak muda itu punya potensi. Jika Kau izinkan mendekat kepadaku, datang padaku untuk mengikuti aku, tentu aku mau memberikan mereka karomah instan. Mereka tentu bisa hapal isi kitab dalam semalam. Mereka bahkan bisa menjadi kaya raya dalam sekejap hanya dengan menjentikkan jari. Tak perlu mereka itu membanting tulang bersusah payah meniru Dirimu. Kini, lihatlah. Tubuh mereka berkeringat karena Kau suruh mencangkul tanah yang keras."
"Yang Kau lakukan dan ajarkan, bagiku sangat tidak masuk akal. Jika bisa mendatangkan uang secara instan hanya dengan duduk manis seharian, mengapa harus menggerakkan tubuh rapuh itu. Heran deh. Kok ada manusia seperti Kamu. Ditawari hidup enak malah cari sengsara."
"Dikritik katamu tuh, aku tahu apa tentang dunia manusia. Kini aku tahu. Manusia diberi fisik lemah, tapi harus sengsara. Harus belajar sepanjang hayat. Terikat ruang dan waktu pula."
Ki Hardjo yang sedang memegang cangkul, berhenti sejenak. Disekanya keringat yang berjatuhan dari dahi ke pipinya, bahkan ada yang sempat menetes ke matanya, menimbulkan rasa perih pedas.
"Ki Slamet, Kamu tidak mengerti algoritma kehidupan. Apa yang dapat dirasakan dari hal yang diperoleh secara instan? Apa yang diperoleh secara instan, akan hilang lenyap secara instan pula. Lagipula, karomah tanpa perjuangan adalah racun bagi jiwa."
"Di sini, di ladang ini, mereka belajar bahwa kehidupan ini seperti menanam benih. Butuh waktu, butuh air, dan butuh kesabaran. "
Secara tak langsung, Ki Hardjo sedang menanam kode ke dalam jiwa para santrinya. Ia, mengajarkan bahwa ilmu adalah proses akumulatif. Setiap mereka mencangkul, setiap kali mereka melihat bibit-bibit bertumbuhan, mereka sedang membangun Resonansi Mutmainah dalam jiwa mereka. Keringat mereka adalah energi pembersih yang membuang rasa malas dan egois. "
Ki Slamet terdiam mengamati mereka dengan sinis. Namun, matanya tak bisa lepas dari detail yang aneh. Ia memperhatikan dengan saksama bahwa ternyata ketika para santri itu bekerja bersama, ada semacam frekuensi kolektif yang muncul.
Demikian pula ketika mereka berdoa bersama sebelum bekerja. Getaran di udara menjadi sangat stabil. Sebuah kekoherenan massa yang membuat tubuh Ki Slamet terasa tak nyaman. Seolah ia berada di zona "area terlarang" bagi entitas seperti dirinya.