Malam itu, di gazebo bambu di pinggir sawah, terlihat Ki Hardjo duduk sendirian, tapi di sebelahnya terlihat ada bara api melayang sebesar rokok. Oleh karena kerap membantu para santri bekerja, konflik batin Ki Slamet pun bertambah.
Adakalanya ingin menjahili mereka agar tergiur iming-iming kaya secara instan. Namun, jika ingat nasihat ayahnya agar ia pandai-pandai menjaga hati sebagai penghuni dimensi lain, ia pun mencoba menurunkan marah dan kecewanya. Bahkan sesekali mengajak ngobrol Ki Hardjo.
"Ki, apakah menurutmu Mpu Gandring itu menggunakan ilmu hitam agar kerisnya bekerja tujuh turunan mengacaukan keturunan Ken Arok yang mengakalinya lalu membunuhnya? "
"Kukira tak perlu ilmu hitam, Ki Slamet. Cukup berbekal hati teraniaya. Saat seseorang benar-benar tak bersalah lalu disakiti, diakali, dikadali, dipermalukan, doa mereka menembus semua dimensi. Energi overload yang tak dapat ditahan semesta. Jin tak usah ikut campur. Tapi, mereka tetap datang karena menyukai kondisi chaos yang dihasilkan oleh kutukan itu."
Namun, jika teringat teman-temannya yang berhasil memperdaya manusia, ia pun ingin. Maka, yang dilakukan kemudian mengganggu ketenangan Ki Hardjo.
Ia menggeram. Kepulan asap tipis keluar dari sela-sela jemarinya yang menghitam. Ia berdiri di sudut ruang melihat Ki Hardjo yang setiap selesai salat Isya bersama para santrinya, mulai menelaah naskah tua di bawah cahaya lampu minyak yang bergetar.
"Kesibukan apa pula itu, Ki Hardjo, "celaan yang diucapkan berulang kali, membuat kalimat itu terdengar basi di telinga Ki Hardjo, lalu dibiarkan masuk dari telinga kiri keluar dari telinga kanan.
" Kamu bodoh, Ki, "desisnya, " Mengapa Kau siksa dirimu dengan membaca dan menulis? Mengapa Kau buang waktumu dengan ilmu padahal ia tak sanggup mengenyangkan perutmu? Bukankah itu dungu? "
Ki Hardjo tak peduli. Ia bahkan membalik kertas dluwang perlahan, "Ilmu adalah cahaya, Ki Slamet. Tanpa cahaya, manusia tentu akan berjalan dalam kegelapan. Lalu, mereka akan jatuh ke dalam sesat karena bisikanmu. "
Ki Slamet tertawa. Suaranya terdengar bak ranting kering yang terinjak.
"Kau bicara seolah buku dan ilmu adalah segalanya. Lihat di luar sana. Kota-kota yang dijajah mesin VOC tuh. Manusia di sana sudah mulai memilih jalan pintas. Bahasa Belanda adalah jendela dunia, karena kemampuan itulah yang akan membuatnya tampil setara penjajah itu.
Manusia lainnya pun tak mau kalah. Jika tak bisa lakukan pendekatan dengan bahasa VOC itu, mereka berpaling kepadaku, pada saudara dan teman-temanku membawa sesaji ayam hitam bahkan tumbal nyawa orang.