Genderuwo Cyber

Kinanthi (Nanik W)
Chapter #7

Bab 7

Bab ke-7

Ki Slamet berdiri di ambang jendela rumah baru dua lantai milik Bara dengan perasaan hampa. Jin itu menatap keluar, ke jalanan aspal kota yang bersih dengan warna hitam yang lebih legam setelah turun hujan. Rumah itu tampak megah dan berdiri tepat di seberang tanah tempat Bara yang dulunya pernah diolok-olok karena semasa kecil hidup di desa.

Kini, dengan keajaiban frugal living dan kalkulasi matematisnya yang dingin, Bara bisa membeli tanah itu secara tunai, bukan berniat ingin pamer maupun dendam masa lalu yang pernah tinggal di desa. Ia membelinya karena ada yang menjualnya, informasi itu pun tiba di hadapannya, dan kebetulan uang untuk membeli rumah itu pun ada dalam tabungannya. Itu saja.

"Kamu memenangkan tanah tanpa mantra, Bara, " gerutu Ki Slamet, suaranya seperti desau angin malam yang kering.

"Dan kini Kau membelinya lagi. Rumahmu yang di kota, mobilmu yang di garasi. Semuanya bisa Kau beli seolah takdir merangkak di bawah kakimu. "

Bara yang sedang duduk di meja kerjanya tidak menyahut suara yang seolah melintas-lintas dalam hatinya. Di hadapannya, sebuah layar laptop memancarkan cahaya biru. Jemarinya yang ramping menari di atas papan ketik, bukan menulis rencana masa depan yang ambisius, melainkan sedang asyik mengetik baris-baris diskusi dengan sebuah kecerdasan buatan ( AI).

Ki Slamet berjalan mendekat, memancarkan arus panas yang membuat suhu ruangan sedikit naik. Ia merasakan frustrasi yang luar biasa. Tugasnya hanya menjaga tujuh turunan dari keturunan Ki Hardjo, sudah hampir selesai. Semestinya ia gembira.

Bara merupakan keturunan ketujuh, sebagai gerbang terakhir masa kebebasannya. Hm... Ia menghela napas panjang. Sedih atau gembira? Keduanya hanya melintas-lintas sambil masih tetap meninggalkan gurat kecewa. Ia merasa bakal kembali ke alamnya dengan tangan hampa.

Padahal, rencana awal Ki Slamet sudah disusun sangat rapi. Ia akan menggunakan kekuatannya untuk mengacaukan frekuensi asmara Bara. Setiap kali ada perempuan yang mendekat, maupun perempuan yang didekatinya karena ia lelaki yang secara alami dan naluri, memang berperan sebagai hunter, hal unik selalu terjadi. Hal itu karena Ki Slamet akan membelokkan persepsi mereka. Ki Slamet seolah tengah menciptakan "labirin psikologis".

Ada hal yang aneh. Jika Bara masa bodoh, cuek bebek, tak acuh, atau apalah yang sejenis dengan ungkapan itu, perempuan-perempuan itu tentu memburunya dengan aneka cara. Ada yang berpura-pura meminjamkan buku, meminjam buku, menemani Bara ke perpustakaan, bahkan minta traktir maupun mentraktir makan.

Namun, perubahan pasti terjadi jika Bara sudah mulai membuka hati. Terbukanya pintu hati Bara adalah sarana bagi mereka untuk berubah pikiran dan berubah arah. Mereka, para perempuan itu, yang semula seolah menganggap Baralah satu-satunya lelaki yang layak dicintai di dunia ini, akan tiba-tiba berulah menjadi asing, seolah belum pernah kenal dengan Bara sebelumnya. Ada yang tiba-tiba pamer kedekatan dengan lelaki lain seolah memancing emosi Bara, atau Bara sendiri yang mendadak merasa ilfil tanpa alasan logis.

Lihat selengkapnya