Ki Slamet tidak lagi mengganggu Bara yang sedang sibuk dengan ponselnya. Dalam sekejap, ingatannya melayang menuju masa lalu itu. Malam itu, di gazebo kayu di pinggir sawah, hanya ada dua sosok yang terlihat oleh mata manusia.
Ki Hardjo yang sedang mengisap rokok klobotnya yang menyala merah membara, dan kekosongan di depannya. Namun, bagi yang memiliki ketajaman mata batin, pemandangannya jauh lebih dramatis. Ki Slamet duduk di sana, wujudnya yang menyerupai pilar api tipis beresonansi dengan bara rokok Ki Hardjo.
"Kenapa kau begitu rajin memberi makan anak-anak yatim itu, Ki?" tanya Ki Slamet. Suaranya adalah dentuman frekuensi rendah yang membuat nyala rokok Ki Hardjo seolah membesar menjadi sebesar lengan bayi.
Penduduk desa yang lewat di kejauhan hanya bergidik, melihat "bola api" sebesar lengan bayi yang melayang di gazebo. Mereka pikir Ki Hardjo sedang bertapa mencari ilmu hitam. Mereka tidak tahu, itu adalah simpul interaksi medan.
Ki Hardjo menghembuskan asap, "Itu bukan sekadar memberi makan, Ki Slamet. Itu adalah penyebaran resonansi. Anak-anak yatim itu memiliki jiwa yang murni, namun mereka kehilangan sandaran. Saat aku merangkul mereka, aku sedang menyebarkan frekuensi Mutmainahku kepada sistem yang sedang rapuh."
Ki Slamet mendengus. "Bagiku, itu adalah ketidakefisienan energi. Kau membuang tenagamu untuk makhluk yang tidak memberimu kekuatan. Bukankah lebih baik tenagamu kau pakai untuk memperkuat perlindungan dirimu sendiri?"
Ki Hardjo tersenyum tipis. "Di sini letak perbedaan fisikanya, Ki Slamet. Bagimu, energi adalah sesuatu yang harus dikumpulkan untuk dikuasai. Bagiku, energi adalah sesuatu yang harus dialirkan untuk distabilkan."
Dalam kacamata fisika, Ki Hardjo sedang melakukan Transmisi Energi Stabil. Dengan mengasuh anak yatim dan melakukan lelaku tarekat, ia sedang melakukan Grounding "pembumian" energi. Seperti sistem kelistrikan yang memiliki grounding agar tidak meledak, jiwa Ki Hardjo yang diisi oleh beban tanggung jawab anak-anak yatim justru membuatnya menjadi tidak mudah "terbakar" oleh ego.
"Kau lihat sawah itu?" tunjuk Ki Hardjo. "Mengapa mereka tumbuh subur saat kau bantu mengelolanya? Karena kau terpaksa menyelaraskan frekuensi apimu dengan frekuensi tanah dan air yang tenang. Kau tidak lagi merusak, kau membantu proses biologi."
Ki Karep menatap tangannya sendiri yang sedang mengalirkan energi untuk menumbuhkan padi di petak sawah. Dia marah. Harga dirinya sebagai "raja api" merasa terhina karena dipaksa bekerja layaknya buruh tani.
Namun, ada sensasi aneh yang ia rasakan. Saat ia menyelaraskan energinya dengan kebutuhan padi, ia merasa "tenang". Ini adalah sesuatu yang tidak pernah ia rasakan selama ribuan tahun hidup dalam chaos "kekacauan" bersama para jin yang berhati Iblis.
"Aku membencimu, Hardjo" gumam Ki Slamet dengan api yang bergejolak. "Kau menaklukkanku bukan dengan kekuatan, tapi dengan menjadikan aku bagian dari sistemmu. Sekarang aku tidak bisa menjerumuskan siapa pun karena aku sibuk mengisi bak mandi santri dan kestabilan air sawah, juga mengurus padi agar tidak dimakan wereng."
"Itu tarikat, Ki Slamet, " jawab Ki Hardjo tenang. "Tarikat merupakan disiplin untuk menyelaraskan diri dengan kehendak Tuhan setelah kita pelajari teori hukum dan aturannya. Kita tak bisa berhenti sampai di situ. Kita harus mempraktikan teori untuk siap diuji...