Bara akhirnya memejamkan mata sebentar, setelah selesai menulis di ponselnya. Itu karena laptopnya yang digunakan menulis senja tadi, tiba-tiba rewel. Hm...ulah siapa ini? Ia bertanya dalam hati. Semoga hanya kerewelan biasa, karena ia membelinya bekas, meskipun laptop bekas lainnya tak ada yang seaneh itu ketika ngadat.
Laptop yang aneh karena selalu rewel saat ia mengikuti lomba. Ulah Ki Slamet? Entahlah. Ia tak mau memikirkannya. Jika memang ia menemukan pengganti dirinya dari para hacker yang mau diberdayakan untuk mengganggunya, itu kabar baik. Risiko ditanggung sendiri. Toh tak ada yang gratis di dunia ini.
Manusia pun tak didesain untuk mencelakai maupun memperberat masalah sesamanya. Hidup sudah berat, mengapa harus diperberat lagi oleh gangguan- gangguan sesama tanpa empati? Biarlah itu urusan semesta dengan hukum Newton III, sebab akibat, karma, balasan Tuhan, ngundhuh wohing pakarti, ada lagikah istilah lainnya?
Ia kemudian kembali membiarkan konsentrasinya tenggelam dalam zikir batin tanpa suara, sebuah frekuensi spiritual yang tidak bisa disadap oleh Ki Slamet karena berada di wilayah keikhlasan hati yang paling dalam.
Selama Bara ikhlas dan tidak merespons, Ki Slamet hanyalah penonton yang frustrasi.
Seketika, gelombang energi di kamar itu bergeser. Bau busuk berganti menjadi aroma tanah basah setelah hujan lebat hampir 30 menit, bercampur wangi kemenyan madu purba.
Bara pun seolah merasa tersedot ke dalam Genetic Memory. Memori leluhurnya, darah keturunan kaum zuhud yang mengalir di tubuhnya. Pikiran Bara terlempar ke tahun 1826. Awal kisah turun-temurun itu terjadi.
Suasana alam zaman lampau tersaji di kepalanya dengan begitu pekat. Jawa pada awal abad ke-19 adalah tanah yang lebam oleh perang dan mistisisme. Bara seolah dibawa berkelana untuk melihat hutan jati yang begitu rapat, tempat pohon-pohon raksasa tumbuh dengan lumut tebal yang menggelayut seperti janggut tua.
Udara malam begitu murni, dingin, dan pekat oleh kabut pegunungan yang turun menyelimuti tanah merah. Tidak ada polusi cahaya. Langit di atas sana laksana hamparan bintang Galaksi Bima Sakti yang sangat benderang, kontras dengan kegelapan pekat di bawah kanopi hutan.
Di bawah pohon jati tertua, seorang pria paruh baya berjubah putih lusuh duduk bersila. Dialah Eyang Hardjo. Garis wajahnya tegas, mewarisi rahasia ilmu dakwah batiniah sebagai murid para wali yang terkenal menggunakan pendekatan budaya dan pembersihan jiwa, misalnya Sunan Kalijaga yang mengajarkan bahwa cara menundukkan makhluk halus bukanlah dengan kesombongan ilmu kesaktian (kanuragan), melainkan dengan puncak kemurnian Tauhid hingga makhluk gaib itu merasa kerdil di hadapan kebesaran Allah yang memancar dari diri manusia itu.