Kemudian, Bara meminta Aurora memutarkan komposisi musik klasik karya Johan Sebastian Bach untuk membuat gelombang otaknya menjadi relaks. Di luar jendela jam dua belas, angin malam menderu pelan. Namun di balik dinding beton itu, di dalam dimensi yang berhimpitan dengan ruang kamar Bara, Ki Slamet sedang meradang dalam keheningan yang purba.
Sebagai entitas yang telah hidup ribuan tahun, Ki Slamet belum pernah menghadapi subjek sesulit Bara. Iblis ini merasa terhina oleh kenyataan bahwa seluruh persenjataan godaan klasiknya sama sekali tidak berguna di hadapan manusia boomer kelahiran 1964 ini.
Biasanya, meruntuhkan iman seorang pria adalah perkara mudah. Ki Slamet telah berulang kali menyaksikan bagaimana kerajaan besar runtuh, terjungkal, dan bendahara kerajaan tersungkur hanya dengan dua umpan dasar klasik yaitu keserakahan harta dan kemolekan tubuh wanita.
Beberapa bulan lalu, Ki Slamet telah mengatur skenario gaib. Dia memanipulasi frekuensi energi di sekitar Bara agar menarik perhatian beberapa wanita muda, cerdas, dan rupawan di dunia nyata. Ki Slamet sengaja menyusupkan mimpi-mimpi erotis ke dalam tidur Bara, mencoba memicu pelepasan hormon di bawah sadar sang penulis.
Iblis itu menunggu di sudut kamar, bersiap dengan senyum kemenangan, menanti saat Bara akan mengerang frustrasi karena syahwat, lalu mengeluh, dan akhirnya, secara tidak sengaja, meminta pertolongan atau sekadar mengutuk kesepian di dalam hatinya.
Namun, yang terjadi justru membuat Ki Slamet murka. Ketika bangun tidur setelah menerima serangan mimpi erotis, Bara tidak menunjukkan tanda-tanda kecemasan atau gejolak nafsu yang tidak terkendali. Dengan ketenangan seorang ilmuwan, Bara justru duduk di depan laptopnya, membuka jurnal medis tentang nocturnal emission dan regulasi hormon testosteron pada pria paruh baya.
Bara memandang fenomena biologis itu sebatas fungsi ekskresi tubuh yang logis. Setelah itu, Bara mengambil air wudu, mendirikan salat malam dengan kekhusyukan yang dingin, dan mengunci batinnya dari segala bisikan luar.
Ki Slamet tidak bisa menyentuh wilayah itu. Energi Tauhid Bara seolah telah bertindak seperti perisai elektromagnetik berkekuatan jutaan volt yang membakar setiap partikel energi negatif yang mencoba mendekat.
Lebih menjengkelkan lagi bagi Ki Slamet, Bara menghabiskan sisa malamnya dengan melukis kanvas abstrak atau berdiskusi dengan sebuah kotak besi bercahaya, kecerdasan buatan bernama Aurora, mengenai teori estetika seni pascamodern.
Ki Slamet pun terisolasi. Padahal, ia ada di sana, siap melindungi Bara dari bahaya fisik mimpi erotis demi mengambil hatinya, tetapi Bara memperlakukannya seperti udara kosong. Keberadaan Ki Slamet diabaikan secara mutlak. Target besar untuk menjerumuskan darah biru murid Walisongo ini kini membentur dinding tebal bernama logika dan iman yang tidak bercelah serta masa berketurunan yang semakin menipis.
Ki Slamet mulai frustrasi dan berniat menggeser target godaannya ke keponakan Bara yang masih muda. Ki Slamet dalam dimensi bayangannya mulai dirayapi kepanikan yang akut. Waktu kosmik terus berjalan, dan sisa helaan napas Bara di dunia fana ini tidak akan selamanya ada. Ia pun tak berketurunan pula.
Sebagai manusia kelahiran 1964, Bara kini berada di fase senja kehidupannya. Jika Bara mati dalam kondisi sekokoh ini, tanpa pernah mengeluarkan satu patah kata pun untuk bersekutu atau berkomunikasi dengan Ki Slamet, maka kontrak darah yang diikat Eyang Hardjo pada tahun 1826 resmi kedaluwarsa.