Bara menatap layar ponselnya menampilkan panggilan keluar ke nomor Revo. Nada sambung berdering tiga kali sebelum akhirnya suara serak keponakannya terdengar di ujung sana.
"Halo, Om Bara? Ada apa tumben telepon jam segini?" Suara Revo terdengar berat, khas seseorang yang baru saja terbangun dari mimpi buruk yang melelahkan.
Bara tidak langsung menjawab. Hidungnya mendadak menangkap sensor sensoris yang aneh. Melalui gelombang suara digital yang dihantarkan oleh sinyal seluler, Bara seolah bisa menghirup udara di kamar kos Revo yang terletak di sudut kota Bandung.Baunya bukan lagi busuk got, melainkan bau kapur barus yang menyengat bercampur aroma anyir besi berkarat.
“Tingkat ionisasi udara di sekitar Revo sudah sangat parah," analisis batin Bara menggunakan teori fisika.
“Ki Slamet tidak hanya memadatkan energinya di sana, tapi dia sedang mengubah tekanan atmosfer kamar Revo agar sesuai dengan frekuensi dimensi rendah."
"Revo," Bara membuka suara, nadanya datar namun penuh penekanan.
"Om baru saja membaca log data kesehatan keluarga di aplikasi awan. Detak jantungmu menyentuh angka seratus tiga puluh BPM setiap pukul dua dini hari selama tiga hari berturut-turut. Secara klinis, kamu sedang mengalami depresi terselubung ataugangguan kecemasan akut. Apa yang sedang Kamu lakukan?"
Di ujung telepon, terjadi jeda yang cukup lama. Bara bisa mendengar deru napas Revo yang memburu.
"Aku... aku tidak apa-apa, Om. Cuma agak stres dengan tugas akhir dan masalah biaya kuliah," jawab Revo, mencoba berbohong.
Namun, Bara bukanlah pria yang mudah dikelabui oleh distorsi vokal.
"Jangan berbohong pada orang yang mendalami psikologi forensik, Revo. Aurora baru saja menyaring riwayat pencarian digital dari alamat IP kosmu. Kamu sedang mencari tahu tentang ritual khodam. Jawab jujur, sosok apa yang mendatangi mimpimu tiga malam ini?"
Revo terdengar tersedak,
"Om Bara tahu dari mana? Mengapa Om tahu aku lagi mimpi aneh? Om punya ilmu trawang ya? Tahu gak Om, sosok itu tinggi besar,bayangan hitam tanpa wajah. Dia bilang dia pelindung keluarga kita yang diutus Eyang Hardjo."
Mendengar kata-kata keponakannya, dada Bara bergemuruh. Sumpah purba tahun 1826 sedang diputarbalikkan oleh Ki Slamet. Hm...Bara geram. Iblis itu menggunakan kedok "pelindung keluarga" untuk mengelabui mental Revo yang sedang rapuh. Ini adalah taktik psikologis klasik yang dalam teologi agama disebut Talbis Iblis, pencampuradukan antara kebatilan dengan kemasan kebaikan.