"Dia mengira manusia modern era materialisme ini mudah ditundukkan dengan gawai dan uang, " gumam Revo yang mulai tenang.
Malam semakin larut, namun dalam batin Bara, ada rasa damai mendalam. Di sudut kedai kopi yang terang oleh lampu neon, tidak ada lagi ruang bagi bayangan hitam Ki Slamet.
Melalui transfer logika dan tauhid malam, Bara tidak hanya berusaha menyelamatkan Revo, tetapi juga telah meretakkan rencana besar jangka panjang sang iblis khodam. Namun, ia harus waspada selagi ia masih ada di bumi, perang belum berakhir. Meskipun babak pertama telah dimenangkan oleh sang penulis antipseudo.
Revo, pemuda 22 tahun yang masih berbau ambisi duniawi, duduk di depan Bara. Di warung itu, laptop Bara yang terbuka menampilkan grafik silsilah keluarga yang ia buat untuk tugas kuliahnya.
"Paman," Revo memulai, menunjuk garis keturunan di layar. "Kenapa setiap generasi kita ada aura aneh di silsilah ini. Seperti ada yang memantau setiap kelahiran kita."
Bara, dengan kacamata yang bertengger di pangkal hidung, menatap keponakannya. Ia tahu Revo belum paham bahwa data yang ia lihat adalah hasil "spionase" dimensi lain.
"Revo," suara Bara berat namun tenang,
"Dulu Paman mengira ini kutukan. Tapi sekarang, Paman melihatnya sebagai Database. Kita adalah rantai data yang dipantau oleh entitas bernama Ki Slamet. Dia mencatat setiap nafsu kita, setiap kegagalan kita, dan setiap celah tempat dia bisa masuk."
Revo mengerutkan dahi. "Seperti malware?"
"Lebih tepatnya, spirit-ware," jawab Bara. "Jin Qarin yang menempel pada kita sejak lahir sebenarnya adalah saksi bisu. Tapi Ki Slamet lebih dari itu. Dia adalah auditor yang menunggu kita salah langkah. Dia ingin kita terjebak untuk menomorsatukan nafsu demi harta, tahta, wanita, tanpa rasa syukur dan empatik, supaya dia bisa mengontrol aliran energi dari hidup kita."
"Tapi Paman memilih hidup sesederhana ini," Revo menatap sekeliling ruangan yang minim perabotan. "Apakah itu cara Paman mematikan server mereka?"
Bara tersenyum tipis. "Tepat. Saat Kau memilih zuhud, saat kau hidup cukup, kau memutuskan koneksi data mereka. Kamu menjadi offline bagi nafsu mereka. Ki Slamet tidak bisa mencuri apa pun dari orang yang tidak punya ambisi untuk pamer."
Revo terdiam, otaknya yang terbiasa dengan bahasa pemrograman mulai mengerti,
"Jadi, kalau Paman tidak menikah karena alasan yang dianggap dibuat-buat, lalu fokus pada pencarian ilmu, sesungguhnya Paman sedang berjuang menghapus data diri dari pantauan mereka?"