Dalam kabin Whoosh yang futuristik, Bara duduk tenang. Ia menatap keluar jendela melihat pemandangan perbukitan Jawa Barat dengan kecepatan yang hampir tak terasa, seperti aliran data yang berpindah dari satu server ke server lainnya.
Revo di sampingnya, sesekali melirik layar ponsel. Bara justru membiarkan pikirannya larut dalam ritme kereta yang presisi. Tak sampai satu jam, denting halus terdengar, menandakan mereka telah tiba di Padalarang. Sebuah lompatan ruang yang bagi Bara hanyalah pengingat betapa kecil jarak dibandingkan dengan luasnya labirin pemikiran manusia.
Mereka mengusir udara dingin dan lapar di rumah makan Sunda yang tersembunyi di balik rerimbunan pohon besar. Di atas meja kayu, nasi liwet mengepul beradu dengan aroma sambal dan lalapan segar, menggugah selera.
Bara menyendokkan nasi ke piringnya dengan tenang, sementara Revo sibuk meracik sambal di cobek kecil.
"Tahu tidak, Revo," Bara memulai obrolan di sela-sela suapan ikan mas goreng garing, "Makan sederhana di hawa yang dingin ini, justru membuat saraf kita lebih peka untuk berpikir. Teknologi seperti kereta tadi memang memangkas jarak, tapi tradisi seperti ini... Ini adalah cara kita menjaga akar agar tidak melayang terlalu jauh ke awang-awang.'
Bara memang masih menemani Revo pindah tempat kos, lalu mereka pun berkeliling kota Bandung.
"Om, kukira yang dilakukan Ki Slamet itu
Senjata Makan Tuan "The Backfire Mechanism" ya. Ia menggunakan skema manipulasi jodoh sebagai "pintu masuk". Ia tahu lelaki akan sangat putus asa jika urusan biologisnya terhambat. Apalagi suara sumbang pun serasa bikin kita hilang ingatan deh. Jika gak anggap mereka orang gak tahu, tentu stress. Meskipun mereka marah jika dianggap gak tahu. Hehe."
Maka, Ia berharap Om error, mencari jalan pintas ke dukun. Namun, Ki Slamet melakukan kesalahan fatal dalam "membaca data" targetnya. Asumsi Ki Slamet: Manusia akan panik jika tidak menikah. Realitas Bara: Sebagai sapioseksual yang hidup frugal living ala Ki Hardjo, Om justru gunakan waktu "tidak menikah" untuk riset, menulis, dan belajar AI. Bahkan menjadi "pengamat" bagi Ki Slamet. Setiap kali jin itu mencoba mengacau, Om malah menjadikannya untuk inspirasi tulisan. Ki Slamet terjebak dalam loop kegagalannya sendiri."
Bara tersenyum sambil menyeruput kopi panas.
"Dalam dunia mistis, keturunan adalah "wadah" bagi jin untuk terus eksis dan memanen energi. Dengan tidak adanya keturunan kedelapan,
silsilah Bara menjadi "Dead-End": Secara teknis, Ki Slamet kehilangan platform-nya. Dia tidak punya lagi inang yang bisa dia susupi melalui garis keturunan, " jawabnya.
Akhir hidup Ki Slamet. Dia entitas yang dirancang untuk menjadi pemanen "harvester" bagi keluarga Bara, tapi dia justru harus "menganggur" selama puluhan tahun menunggu keturunan kedelapan yang tidak pernah datang. Ibarat menunggu sebuah pintu terbuka, padahal Bara telah membongkar temboknya. Dia menunggu sebuah panen, padahal Bara telah membakar ladangnya demi sesuatu yang lebih tinggi yaitu lmu dan ketenangan. Itu pun senjata makan tuan akibat ulahnya.
Bara di hari tuanya awal pensiun, duduk di depan laptopnya, menatap layar yang menampilkan silsilah keluarga terakhir. Dia tidak merasa gagal karena tidak memiliki anak.
Dia merasa lega. Ki Slamet yang tak kasat mata melemparkan pertanyaan yang menyelinap di dalam benaknya. "Kenapa kau tidak meminta pertolonganku agar kau punya keturunan? Kenapa kau tidak marah dengan nasibmu?"
"Karena pertolonganmu selalu memiliki harga, Ki. Dan aku sudah membayar lunas dengan memutus rantai ini. Aku tidak butuh keturunan untuk mengabadikan namaku. Namaku hidup dalam tulisan-tulisanku yang kini sudah tersebar luas di dunia digital."
Ki Slamet perlahan memudar, kehilangan relevansinya. Bara menutup laptop, menghela napas panjang, dan di saat itulah "ikatan" itu seolah putus. Tidak ada lagi dingin yang mengikuti, tidak ada lagi bayang-bayang di sudut rumah. Tapi, Bara harus tetap waspada. Bagaimanapun tugas dan dendam Ki Slamet belum usai.
Bara bukan hanya berjuang untuk menang melawan Ki Slamet, dia pun menang melawan ekspektasi dunia dan kutukan masa lalu. Selama ini Ki Slamet menumpang pada "frekuensi genetik" keturunan Bara.
Namun, Bara sadar bahwa dia bukan budak DNA-nya. Dia menggunakan kecerdasannya (gen sapioseksualnya) untuk menyadari bahwa dia punya kehendak bebas "free will"untuk tidak mengikuti "skrip" yang ditulis leluhurnya.
"Genetika adalah kartu yang dibagikan Tuhan di awal permainan, tapi bagaimana cara kamu memainkannya adalah pilihanmu sepenuhnya, " ujar Bara setelah tenggelam dalam renungan panjang sambil mereguk tandas kopinya.
"Paman, bukankah reinkarnasi lebih adil? Kita bisa memperbaiki diri berkali-kali, " tiba-tiba pertanyaan itu muncul begitu saja dari Revo.
"Mungkin bagi sebagian orang itu logis, Revo. Tapi mengapa Tuhan harus memutar kita berkali-kali dalam bentuk yang berbeda? Tidakkah Dia cukup memberi kita satu kesempatan, dengan akal yang tajam, dan akses ke ilmu? Jika kita gagal dalam satu ujian ini, bukan berarti kita harus mengulang ujian itu sebagai orang lain. "
" Kita hanya perlu menyadari bahwa setiap detik hidup ini adalah akumulasi dari kebijaksanaan leluhur yang sudah ada di dalam DNA kita. Menjadi cerdas, hidup zuhud, dan menggunakan AI untuk kebaikan, itu pun cara kita 'bereinkarnasi' menjadi versi terbaik tanpa bingung tentang ruh. Kita, memang diberi tahu tentang ruh cuma sedikit."lanjutnya.
Revo," ujar Bara memandang langit-langit kamar kos Revo sebelum pulang esok hari,
"Pernahkah kau berpikir bahwa neraka mungkin ibarat mimpi buruk yang permanen?"
Revo menatapnya bingung. "Maksud Paman?"
"Bayangkan jika setelah mati, kesadaran kita dipaksa untuk terus-menerus mengalami kembali rasa sakit yang pernah kita timbulkan pada orang lain. Bagi mereka yang punya hati yang waras, itu adalah siksaan luar biasa. Karena pernah tersiksa oleh mimpi, yang bisa memaksa mereka untuk bertobat."
"Tapi bagaimana jika sudah mati? Tentu tobat yang terlambat. Ibarat petani, ia tinggal memanen hasilnya. Ngundhuh wohing pakarti. Tak ada yang menemani kecuali doa anak salih, ilmu bermanfaat, amal jariyah, "lanjut Bara tegar dan pasrah mengingat sudah kehilangan satu peluang dalam berburu pahala.
"Tapi bagi psikopat bagaimana? Konon otaknya memang rusak dan tidak punya empati. Mereka mungkin tidak merasa tersiksa sama sekali. Namun, akan menjadi 'ruang kosong' yang terus-menerus diisi oleh entitas seperti Ki Slamet kali ya, Om. Disiksa keinginan terus-menerus dan tiada akhir untuk nambah dosa, hukuman obsesif itu jauh lebih mengerikan kukira,"ujar Revo.
...
Ruang kerja Bara masih tenang, namun udara terasa berbeda malam ini. Revo baru saja membaca sinopsis novel Pamannya yang membahas tentang hakikat ruh dan spekulasi tentang dimensi setelah mati. Baginya, itu sebuah tulisan yang baginya terdengar sangat berani dan rawan perdebatan.
"Paman," Revo meneleponnya dengan ragu. "Apakah Paman tidak takut? Tulisan ini, refleksi obrolan kita tempo hari sebelum paman pulang. Hmmm bagi sebagian orang, ini bisa dianggap kontroversial. Bahkan mungkin dianggap sesat oleh mereka yang terbiasa dengan pakem yang ketat."
Bara, yang sedang menyesap teh melatinya, tersenyum tipis. Ia menatap jendela yang memantulkan wajahnya.
"Revo," jawab Bara tenang, "Itu sinopsis novel yang sengaja kukirimkan kepadamu. Memang, inspirasi muncul dari obrolan kita tempo hari. Novel itu bagian dari sastra di samping cerpen, naskah drama, dan puisi. Jadi, sastra bukanlah buku panduan teologi yang harus memberikan jawaban seragam."
"Sastra ibarat sebuah laboratorium. Jika tulisanku memicu perdebatan, bukankah itu tujuan utamanya? Agar pikiran manusia tidak mati dalam kebekuan. Ada peluang polemik kan?"
"Tapi bukankah risiko dicap macam-macam itu nyata?" Revo bersikeras.
"Justru di situlah letak keberaniannya," Bara meletakkan cangkirnya.
"Jika seseorang merasa terganggu dengan opiniku, maka tugas mereka bukanlah memaksaku untuk diam. Jika mereka tidak setuju, silakan tulis kritik sastra mereka sendiri. Atau debatkan gagasannya, bedah argumennya, ajukan tesis tandingan yang lebih cerdas. Toh banyak podcast untuk itu. Dengan begitu, kita tidak sedang berkelahi. Kita hanya sedang membiasakan diri untuk berpikir kritis."
Revo terdiam, otaknya mencerna setiap kata.
"Paman benar," gumam Revo. "Kalau kita hanya menulis apa yang disukai semua orang, kita hanya membuat 'sampah' yang indah dibaca tapi kosong isinya."
"Tepat," lanjut Bara. "Aku tidak menulis untuk mencari validasi atas kenyamanan pembaca. Aku menulis untuk mereka yang cukup berani untuk menantang pikirannya sendiri. Biarkan pro dan kontra itu beradu. Dari sanalah dialektika lahir. Jika aku takut pada kritik, maka aku telah membiarkan diriku 'terpenjara' oleh ketakutan, sama seperti Ki Slamet yang terjebak dalam ambisinya sendiri."
Bara kembali menatap layar laptopnya yang berisi ribuan baris pemikiran. "Dalam sastra, selama kita jujur dengan perenungan kita, kita punya hak untuk tidak sepakat dengan dunia. Selama kita berpegang pada akal dan integritas, kritikan hanyalah bising yang akan hilang, sementara gagasan, bahkan yang paling kontroversial sekalipun, akan tetap hidup sebagai pemicu kesadaran."
Revo mengangguk pelan. Ia menyadari bahwa pamannya bukanlah seorang penentang agama, melainkan seorang pemikir yang ingin membawa pembacanya keluar dari zona nyaman. Ia pun senang bahwa sesungguhnya peminat menulis sastra dari kalangan generasi muda seusianya pun kian bertumbuhan.
"Paman tidak takut kalau mereka salah paham?"
Bara tertawa kecil, sebuah tawa yang merdeka. "Salah paham adalah risiko setiap pemikiran besar. Tapi ingat, Revo, tidak ada sejarah perubahan yang dimulai tanpa ada yang berani berbeda pendapat. Jadi, jangan takut untuk menuang opinimu, meskipun hanya sebagai bentuk latihan untuk tetap waras di dunia yang sering kali kehilangan akal."
Revo masih terdiam dengan WhatsApp yang masih terbuka siap menelepon pamannya jika ingin menanyakan sesuatu lagi.
Dialog dengan pamannya membuatnya mengetahui cara pamannya memberikan "kejutan" kepada pembaca bahwa mereka akan menghadapi sesuatu yang menantang. Hal itu pun kian mengukuhkan bahwa pamannya memang sosok sapioseksual yang tidak takut pada "badai" intelektual. Ia bukan tipe pria yang lari dari kritik, melainkan yang menyambutnya dengan secangkir kopi di teras rumah.
Sesaat kemudian, ia pun membaca "Jawaban untuk Para Pengkritik "The Intellectual Response" dari whatsapp pamannya,