Bara yang telah pensiun dan lajang pula, setelah menemani Revo selama tiga hari di Bandung, ia pun menyewa apartemen di Jakarta untuk beberapa hari. Info yang diterimanya, penulis disarankan menulis novel horor pesugihan oleh editornya.
Bulu kuduknya meremang. Mengapa tiba-tiba ia ngeri andaikan ketikan jemarinya malah memprediksi kematian nyata tokoh-tokoh fiktif nya? Bara menatap lurus ke arah dinding kaca gedung pencakar langit di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat.
Di balik meja kerja berbahan jati modern, seorang pria berkemeja flanel, editor senior di platform digital tempat Bara baru bergabung ketika tiba di Jakarta, sedang mengetuk-ngetuk jarinya di atas tablet dengan ekspresi penuh ambisi.
"Arka, performa novel thriller medismu kemarin secara grafik analitis sangat stabil," ujar sang editor sambil memutar layar tabletnya ke arah Arka, nama pena Bara.
"Kini, algoritma pasar kuartal ini sedang bergeser ekstrem. Pembaca pria di segmen Male Adult sedang gila- gilanya dengan tema pesugihan lokal, tumbal, dan mistisisme industri. Kita butuh novel horor murni. Sesuatu yang berbau darah, perjanjian gaib, dan kejatuhan moral."
Bara menarik napas pendek. Sebagai penulis yang mengedepankan objektivitas ilmiah, genre horor komersial baginya sering kali terjebak dalam pembodohan massal, yang adakalanya mengeksploitasi ketakutan primitif manusia. Ia tidak suka itu.
Namun, ia juga memahami hukum ekonomi digital. Platform membutuhkan traffic, dan penulis membutuhkan monetisasi.
"Kamu ingin aku menulis tentang distorsi psikologis akibat ketakutan supranatural?" tanya Bara, mencoba menegosiasikan sudut pandangnya.
"Bukan, Arka. Pembaca tidak butuh teori psikologi di bab awal," sela sang editor dengan cepat.
"Mereka ingin kengerian yang nyata. Sesuatu yang membuat mereka merinding saat membaca di kamar sendirian malam-malam. Buat sesuatu yang sangat lokal, misalnya tentang pabrik yang tumbang karena bendaharanya melakukan sekutu gaib. Judulnya harus langsung memukul, misalnya Tumbal Pabrik Tekstil"
Tepat ketika kata "Tumbal" diucapkan oleh sang editor, indra penciuman Arka serasa menangkap sebuah kejutan sensorik yang kasar. Udara ber-AC di dalam ruangan rapat yang harum aromaterapi kopi itu mendadak mengental.
Aroma busuk yang sangat spesifik menyengat mukosa hidung Bara, bau bangkai tikus got yang mati berhari-hari di dalam saluran air yang tersumbat lemak. Baunya begitu pekat hingga membuat tenggorokan Bara terasa mual secara spontan.
“Ini bukan Phantosmia Quantum biasa," analisis batin Bara, menahan otot wajahnya agar tetap terlihat tenang di depan editornya.
“Radiasi energi ini datang terlalu cepat. Ketika sebuah judul fiksi diucapkan dan langsung memicu resonansi bau busuk got ini, artinya ada sinkronisitas quantum yang sedang berjalan. Garis takdir seseorang yang memiliki energi khianat dan negatif pekat sedang bersinggungan dengan frekuensi ketikanku."