Genderuwo Cyber

Kinanthi (Nanik W)
Chapter #16

Bab 16


Pagi cerah. Mentari pun mulai tampak bersinar, memancar menebar kehangatan pukul 7.00. Beberapa motor dan mobil telah memadati jalanan pula. Bara sedang menyeduh air untuk kopinya dan masih mengupas telur rebus, ketika tiba-tiba ia mendengar suara telepon dari ponselnya yang terletak di atas bantal. Ia mendapatkan telepon mendadak dari editornya.

Suaranya sangat antusias terkait bab satu novel Bara. Berita kecelakaan kerja di Tangerang yang dialami seorang bendahara keuangan tersebut mirip dengan draf bab pertama yang baru saja dikirimkannya. Tentu saja Bara terkejut. Ada kepedihan dan sesal yang melintas tak jelas. Ia pun menghela napas.

Editor tersebut dengan suara gembira, malah menganggap Arka memiliki "insting marketing gaib" yang hebat. Insting yang tentu saja dianggap bakal bisa mendongkrak perolehan uang tentunya. Sementara itu, Bara di apartemen harus menahan diri dari luapan emosi kepedihan. Ia pun berusaha tetap menjawabnya dengan dingin dan logis.

Namun, beberapa saat Bara masih terdiam menyimak tanpa tahu harus segera berkata apa. Mulutnya serasa terkunci rapat, tenggorokannya pun tercekat, sehingga menelan ludah pun serasa tak kuat. Bara hanya menatap layar ponselnya yang bergetar hebat.

Nama sang editor, tirani komersial di balik proyek novel 'Tumbal Pabrik Tekstil', berkedip-kedip di layar. Suaranya memang terdengar gembira. Di lain pihak, prediksinya bahwa tema novel yang dimintanya akan meledak, bahkan potensial difilmkan, terbukti.

Bahkan, draft bab pertama yang ditulis Bara telah mulai terkesan berbau horor. Dalam anggapannya, ini tentu berita gembira bagi Bara. Maka, ia pun segera menelepon. Mengapa tidak segera dijawab? Bersemedikah Bara? Bara ternyata bisa meramal? Ia kian penasaran. Maka, ia mengulangi menelepon dari whatsapp setelah ada info "tidak dijawab".

Setelah lama mengabaikannya, Bara akhirnya mau menggeser ikon hijau dengan gerakan jari yang lambat dan dingin.

"Arka! Kamu sudah lihat berita pagi ini?" suara editornya seolah meledak dari ponsel, penuh dengan nada antusiasme yang mengerikan terasakan di hati Bima.

"Ini gila! Kebetulan yang sangat jenius! Danuarta, bendahara pabrik di Tangerang, tewas di mesin nomor dua, persis seperti draf bab satu yang kamu kirim subuh tadi!

Tim marketing kita langsung memanfaatkan momentum ini. Ia menaikkan teaser naskahmu dengan narasi 'ditulis berdasarkan 'penglihatan nyata'. Traffic kita akan meledak, Arka!"

Bara merasakan rahangnya mengencang. Ada rasa kesal yang mendalam terhadap cara-cara kapitalisme digital mampu mereduksi sebuah tragedi kematian nyata menjadi sekadar angka clickbait dan komoditas pasar.

"Itu sebuah kebetulan statistik, sosiologis, dan sinkronisitas quantum," jawab Bara. Suaranya terdengar bagaikan es beku yang malas mencair, lalu memotong luapan bernada kegembiraan di seberang telepon.

Lihat selengkapnya